Theology

Kasih yang Tak Akan Melepaskan

Maria Magdalena berpegang teguh pada Kristus yang bangkit dan pergi untuk bersaksi.

Christianity Today February 27, 2026
Fokus Good / Getty Images

Yesus berkata kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”—Yohanes 20:16–17

Kebangkitan adalah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Seperti yang dikatakan oleh C.S. Lewis, kebangkitan adalah keajaiban Penciptaan Baru. Sesuatu yang sama sekali belum pernah dialami dunia sebelumnya, kini telah memasuki tatanan lama dan secara radikal mengubahnya. Perubahan besar pun telah dimulai. Anggur baru telah merobek kantong anggur lama. Bahkan relasi-relasi yang familier dengan Yesus dalam penciptaan lama kini tidak lagi memadai. Sekarang, sepertinya Dia hanya dapat dikenali oleh mereka yang Ia pilih untuk menyaksikan pengungkapan diri-Nya.

Kisah kebangkitan juga merupakan kisah cinta manusia yang terbaik. Ketika segala sesuatu gagal—bahkan iman dan harapan—kasih tetap utuh. Mungkin kasih itu lemah dibandingkan dengan kasih ilahi, tetapi cukup kuat untuk menggerakkan hati Sang Kekasih. Itulah kasih dari Maria Magdalena.

Hal yang membuat pengabdian Maria kepada Yesus menjadi begitu unik mungkin dimulai pada awal pelayanan-Nya ketika Ia mengusir tujuh roh jahat dari dirinya (Luk. 8:1-3). Maria pernah mengalami kekuatan yang menakutkan dari perbudakan spiritual dan kebebasan yang membahagiakan karena mengikut Kristus, gurunya. Di sinilah ada seorang Rabi yang memperlakukan perempuan dengan cara yang sangat berbeda. Sejak hari itu, kekaguman dan kasih Maria terus bertumbuh. Top of Form

Maria mengikuti Yesus ke Yerusalem. Ketika semua murid lainnya melarikan diri Mrk. 14:50), Maria berdiri bersama perempuan-perempuan lainnya untuk menyaksikan kematian-Nya yang penuh penderitaan di kayu salib (Mat. 27:55-56). Kasih menolak untuk diintimidasi. Kasih bertahan ketika harapan sirna. Maria menyaksikan tubuh Yesus yang lemas diturunkan dari salib. Dia telah mati! Akan tetapi kasih tidak akan menyerah.

Maria terus mengikut Yesus hingga batas yang tidak bisa dilampaui. Kubur itu akhirnya ditutup rapat. Sabat akan segera dimulai. Maria harus pergi, tetapi memilih untuk tidak pergi sampai ia memastikan di mana jenazah Yesus dibaringkan (Mrk. 15:47)

Maria tidak sabar menunggu hari Sabat berakhir. Begitu fajar mulai menyingsing, ia bergegas pergi ke kubur. Kasihlah yang mendorong ia kembali. Mungkin yang ia inginkan hanyalah berada di sisi Sang Kekasih—sekalipun hanya untuk mengusap batu dingin yang kokoh, penghalang masuk ke kubur. Namun, kekecewaan lain menantinya: Batu itu telah disingkirkan dan jenazah Yesus telah hilang. Tanpa berpikir dua kali, ia bergegas kembali dan memberitahu tentang hal itu kepada Petrus dan Yohanes.

Yohanes tiba di pintu masuk kubur terlebih dahulu dan ragu-ragu, tetapi Petrus, seperti biasa, langsung masuk. Pemandangan itu sulit dijelaskan, karena mereka ”belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati” (Yoh. 20:9). Petrus dan Yohanes mencoba mencari tahu apa yang mungkin terjadi. Mereka adalah orang-orang praktis yang mencari penjelasan yang masuk akal, dan karena tidak menemukan penjelasan apa-apa, mereka pun memutuskan untuk pergi.

Akan tetapi Maria tetap tinggal. Dia tidak akan menyerah begitu saja. Akan tetapi di mana Dia? Mengapa? Tidak, itu tidak mungkin—mungkin pikiran-pikiran yang menakutkan memenuhi benar Maria. Mungkinkah itu perbuatan pencuri kubur? Mungkin amarah membara saat memikirkan orang-orang yang tak bermoral menodai jenazah Yesus. Maria tidak tahan lagi; ia pun menangis.

Kemudian ia mendekat ke kubur itu dan melihat dua malaikat. Percakapan singkat mereka menunjukkan bahwa mereka tampak tidak berbahaya, orang biasa. Tiba-tiba Yesus muncul dan bertanya: ”Mengapa engkau menangis?” Namun Maria tidak mengenali suara itu. Mengira Dia adalah penunggu taman, Maria memohon kepadanya untuk memberitahu di mana dia mungkin telah membawa jenazah Yesus. Maria berkata, “…supaya aku dapat mengambil-Nya”—aku akan membawa Dia (Yoh. 20:15). Maria tidak memikirkan bagaimana dia akan melakukannya. Ini adalah kata-kata dari seorang wanita yang penuh tekad. Apa pun yang diperlukan, dia akan menemukan jenazah itu dan membawa-Nya kembali.

Apakah Maria begitu dibutakan oleh air matanya sehingga dia tidak mengenali Yesus? Tidak mungkin. Injil mencatat contoh lain ketika Yesus yang bangkit itu tidak dikenali sampai Dia memilih untuk membuat diri-Nya dikenali, seperti dua murid di jalan menuju Emaus yang hanya mengenali Yesus ketika Ia memecahkan roti dan makan bersama mereka. Bagi Maria, suara “penunggu taman” itu tiba-tiba terdengar familier saat Yesus memanggil namanya.

Kasih Maria telah ditarik hingga batasnya—bahkan hampir putus. Akan tetapi Yesus kemudian menampakkan diri dan memanggil namanya dengan suara yang familier, yang pernah dia dengar berulang kali sebelumnya. Di kedalaman rasa putus asanya, “gurunya” telah menemukannya. Maria mengenali suara yang menenangkan itu. Secara naluriah dia ingin memeluk-Nya, didorong oleh kasih yang tak akan melepaskan.

Namun Maria tidak dapat menjadikan Kristus sebagai miliknya sendiri secara eksklusif. Cinta pada akhirnya harus tunduk pada kehendak Sang Kekasih: “Janganlah engkau memegang Aku sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” (ay. 17)

Mengikut Yesus telah membawa Maria ke tepi jurang keputusasaan, tetapi kasih akhirnya menembus tatanan lama. Maria menjadi saksi pertama dari Kristus yang bangkit dan pembawa Kabar Baik pertama: Bapa dari Yesus kini menjadi Bapa kita dan Yesus sekarang adalah saudara kita (Ibr. 2:11-12). Namun Maria bukanlah saksi dalam arti formal, karena dalam budayanya, kesaksian harus diverifikasi oleh setidaknya dua saksi, dan di kalangan Yahudi, status seorang wanita sebagai saksi adalah masalah yang diperdebatkan. Apa yang Yesus lakukan untuknya hanya dapat dipahami sebagai tindakan kasih yang murni sebagai respons terhadap pengabdian Maria yang sepenuh hati itu.

Pengejaran tanpa henti yang dilakukan Maria Magdalena terhadap Kekasihnya menggambarkan pencarian rohani untuk persatuan yang lebih mendalam dengan Allah. Seperti para kontemplatif, mistikus, dan orang-orang kudus dalam sejarah Kristen selanjutnya, Maria mengajarkan kita bahwa kasih tidak pernah gagal—sekalipun ketika harapan gagal. Kasih itu menopang Maria melewati malam gelap Sabtu Suci hingga fajar Paskah. Bahkan saat Maria berpegang teguh pada Kristus, ia juga belajar untuk melepaskan. Kegembiraan reuni Maria dengan Sang Kekasih tidak dimaksudkan untuk dinikmati sendirian. Ia dipanggil untuk pergi ke dunia dan bersaksi tentang kebangkitan: ”Aku telah melihat Tuhan!” Dari Maria, kita mulai memahami mengapa kasih adalah kebajikan teologis yang terbesar (1Kor. 13:13). Dari dia pula, kita belajar bahwa seberapa pun kita menikmati pengalaman puncak keintiman dengan Allah, kita juga harus turun untuk membawa Kabar Baik tentang Kristus yang hidup kepada dunia yang sekarat.

Simon Chan pernah menjabat sebagai Profesor Teologi Sistematika Earnest Lau di Trinity Theological College, Singapore. Kini setelah pensiun, Chan menjadi penulis beberapa buku, termasuk Grassroots Asian Theology dan Spiritual Theology.

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui email, Facebook, Twitter, Instagram, atau Whatsapp.

Our Latest

Salib di Zaman ‘Kekacauan Spiritual’

J. D. Peabody

Karya teolog abad ke-20, P.T. Forsyth, mengingatkan umat Kristen saat ini untuk menempatkan salib di depan dan dunia di belakang.

Kasih yang Tak Akan Melepaskan

Simon Chan

Maria Magdalena berpegang teguh pada Kristus yang bangkit dan pergi untuk bersaksi.

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Mencari Kemakmuran dengan Benar selama Perayaan Tahun Baru Imlek

Tidaklah salah untuk merayakan berkat yang kita terima. Namun para teolog dan pendeta Asia memberikan nasihat tentang bagaimana melakukannya dengan cara yang alkitabiah dan berkenan kepada Allah, di tengah tradisi angpao merah dan ucapan-ucapan selamat.

Di Mana Hatimu Berada, Di Situ Juga Kebiasaanmu Berada

Elise Brandon

Kita tidak akan mau berubah sampai kita tahu mengapa kita perlu melakukannya dan apa yang menjadi tujuan kita.

Memberi Berasal dari Allah

Sam Storms

Pelayanan memberi membangkitkan rasa syukur kepada Allah karena sumbernya berakar pada anugerah-Nya.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube