Theology

Salib di Zaman ‘Kekacauan Spiritual’

Karya teolog abad ke-20, P.T. Forsyth, mengingatkan umat Kristen saat ini untuk menempatkan salib di depan dan dunia di belakang.

A cross with a light illuminating it from behind in the dark
Christianity Today February 28, 2026
Trophim Lapteff / Unsplash

Saya mengasihi gereja, namun saya tidak bisa mengatakan bahwa saya selalu memahami atau bahkan menyukainya. Dan selama lebih dari setengah abad saya berada di dalamnya, saya tidak ingat kapan gereja di Amerika tampak kurang jelas tentang identitas dan tujuannya.

Dalam Yohanes 13:35, Tuhan sendiri telah menetapkan bahwa kasih merupakan ciri khas kita, namun orang Kristen lebih dikenal sebagai orang yang penuh kebencian dan bahkan mesum. Dari wabah kegagalan pemimpin hingga larinya orang-orang yang kecewa pada gereja, membuat kita seolah-olah telah kehilangan arah.

“Ini adalah zaman kekacauan spiritual dan kemerosotan moral yang sangat besar,” demikian pengamatan tajam dari pendeta dan teolog Skotlandia, P. T. Forsyth, pada zamannya. “Bahaya saat ini,” menurut dia di masa itu, adalah “subjektivitas religius yang meluncur ke dalam kemerosotan religius.”

Dapatkan pembaruan harian dalam Bahasa Indonesia langsung di ponsel Anda! Bergabunglah dengan kanal WhatsApp kami.

Forsyth menulisakan kalimat ini lebih dari seabad yang lalu, tepat sebelum Perang Dunia I, ketika para teolog modernis mengikis habis kepercayaan pada Alkitab dan para tradisionalis ortodoks bertahan dengan sikap defensif yang kaku untuk membendung arus yang datang menerjang. Seperti halnya hari ini, gereja di masa Forsyth hidup juga mengalami krisis dan perpecahan—dan ia terbeban untuk menolong gereja agar kembali kepada pusatnya dan menemukan arahnya lagi.

“Tak ada satu agama pun yang dapat bertahan tanpa mengetahui tempatnya berpijak,” Forsyth merenung. “Dan agama saat ini tidak tahu posisinya, dan benci jika dipaksa untuk menanyakan arah.”

Saya pertama kali membaca bukunya yang tipis, The Cruciality of the Cross, saat saya masih di seminari. Dan selama lebih dari dua dekade menggembalakan, saya sangat mengandalkan ajaran Forsyth untuk mencari jalan di tengah arus perubahan budaya, perpecahan politik, dan kompleksitas etis dunia teknologi kita.

Inti dari pesannya pada gereja yang sedang bergumul sangat jelas: Berpusatlah pada salib Kristus. Itu saja. Tulisan Forsyth secara tegas memanggil kita untuk kembali kepada sumber kasih karunia dan makna hidup kita. Seperti rasul Paulus, ia juga bertekad untuk tidak mengenal apa pun “selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor. 2:2).

Namun marilah kita jujur: Hal ini bukanlah pilihan alami kita untuk mengatasi masalah-masalah yang paling mendesak. Menempatkan salib sebagai pusat iman dan keseharian kita mungkin terdengar (1) sangat mendasar atau terlalu jelas untuk ditekankan atau (2) terlihat sempit dan tidak seimbang, meninggikan kematian Kristus ketimbang kehidupan-Nya. Dan hal ini tentu saja tidak tampak seperti obat yang cocok bagi penyakit yang dialami gereja saat ini.

Namun Forsyth tetap bersikeras. “Karya abadi Kristus yang tertinggi ada pada salib-Nya,” tulisnya, “yang mengandung, bersama dengan kuasa, prinsip yang dapat menyelesaikan masalah dari setiap zaman.”

Forsyth tidak sedang sok menyederhanakan atau berpandangan sempit ketika memanggil kita kembali ke Kalvari. Lebih dari sekadar menyematkan “Yesus mati bagi dosa-dosa kita” di penghujung setiap kotbah, ia masuk lebih dalam lagi pada implikasi dari salib dalam keseharian kita, yang dengan sendiri mengikat kita pada karya Tuhan ketimbang karya kita sendiri.

“Ini adalah Injil tentang apa yang telah tercapai, bukan panggilan untuk mencapai,” ia menyatakan. “Injil ini mendorong kita bukan untuk berbuat, melainkan untuk bersandar pada sesuatu hal yang telah selesai dikerjakan.”

”Untuk bersandar pada sesuatu hal yang telah selesai dikerjakan” menuntut kita untuk berhenti mengusahakan segalanya sendirian. Sesungguhnya tak ada hal lain yang mampu meringankan beban jiwa kita dari ketegasan dan finalitas dari ucapan Yesus di salib: “Sudah selesai.”

Sayangnya kita dengan mudahnya mengesampingkan kematian dan kebangkitan Kristus, bahkan dalam upaya kita untuk melayani-Nya. Terlalu sering, kita memperlakukan salib hanya sebagai titik awal perjalanan iman kita—tetapi kemudian kita mengambil alih kendali, berupaya untuk mengendalikan pertumbuhan rohani kita dan melihat upaya kita sebagai pelengkap karya Kristus.

“Kerajaan sebagai sebuah realitas yang ada di luar diri kita sejak Kristus menuntaskan karya-Nya untuk mendirikannya,” Forsyth mengamati. “Dan hal itu membuat perbedaan besar pada para agen Kerajaan Allah, apakah mereka berpikir bahwa mereka sedang menciptakannya atau membawa masuk apa yang sudah ada.”

Sangat mudah untuk melupakan perbedaan itu. Dulu di seminari, salah satu profesor teologi saya bertanya kepada semua orang di kelas mengapa kami berada di sana. Seorang calon rohaniwan menjawab, “Saya hanya ingin memberikan sedikit kehidupan pada Firman.” Seolah-olah teks yang diilhami Tuhan itu membutuhkan bantuan pernapasan darinya agar hidup! Mahasiswa itu secara terang-terangan mengungkapkan apa yang kita semua lakukan dengan cara yang lebih halus setiap kali kita melebih-lebihkan nilai kontribusi kita—menempatkan upaya kita di tempat yang sebenarnya hanya milik Tuhan.

Secara teoritis, kita dapat menerima salib sebagai pusat dari iman Kristen, tetapi bagaimana hal ini terlihat dalam praktiknya? Bagaimana hal ini mengubah cara kita menangani setiap tantangan nyata yang dihadapi oleh gereja saat ini dan mencegah kita dari “kemerosotan religius” yang dikecam Forsyth itu?

Pertama, kita dipanggil untuk senantiasa membaca dan menafsirkan Alkitab lewat lensa salib. Karena Yesus adalah“Anak Domba, yang telah disembelih”(Why. 13:8) sejak dunia dijadikan, Injil itu sendiri telah ada sebelum Alkitab ditulis—awalnya adalah tindakan sebelum menjadi kata-kata. Kebenaran abadi ini memampukan Yesus untuk menunjukkan kepada para murid dalam perjalanan ke Emaus bagaimana seluruh Perjanjian Lama secara khusus menunjuk pada diri-Nya (Luk. 24:27).

Jika salib datang lebih dulu dalam pengertian “superhistoris” (seperti yang diungkapkan Forsyth), maka Alkitab itu sendiri melayani Injil tersebut. Firman tertulis memperoleh otoritas dan kesatuan sejatinya lewat kesaksian yang diberitakannya tentang Kristus dan karya-Nya. Forsyth menunjukkan bahwa “Alkitab bukanlah ringkasan fakta, baik historis atau teologis, tetapi saluran kasih karunia penebusan.”

Prinsip ini berfungsi sebagai ujian bagi penafsiran kita atas Alkitab. Apa pun teksnya, saya akan mencoba memulai studi saya dengan pertanyaan, Apa yang bagian firman ini ingin tunjukkan tentang penebusan? Bagaimana hal ini dapat membawa saya kepada salib? Alih-alih mencari penerapannya dalam kehidupan atau suatu tema rohani yang lebih luas, saya berusaha untuk peka akan kehadiran Kristus yang sesungguhnya.

Beberapa teks tetap sulit untuk dipahami, tetapi lebih sering saya mendapati diri saya terkejut oleh perjumpaan baru dengan Kristus yang hidup yang seolah melompat dari halaman dan menunjukkan kepada saya kembali betapa luasnya dimensi kasih Allah. Sikap mendekati Kitab Suci dengan mengingat salib sering kali secara drastis mengubah asumsi saya tentang sebuah teks. Hal ini kemudian menyaring banyak ideologi saya yang saling bertentangan yang mungkin akan membajak Kitab Suci untuk kepentingan mereka sendiri.

Penulis dan pendeta Rich Villodas baru-baru ini merangkumkan gagasan ini dengan baik: “Bila kita tidak membaca Kitab Suci melalui lensa Kristus yang disalibkan, bersama orang lain,maka  penafsiran kita sangat rentan terhadap preferensi pribadi dan kepentingan politis.”

Teologi yang berpusat pada Salib juga mengubah cara kita berpikir tentang perpecahan mendalam yang mempolarisasi budaya dan gereja kita saat ini. Seperti yang pernah dinyatakan oleh Billy Graham, “tanah itu rata di bawah kaki salib” karena salib menempatkan setiap orang pada kedudukan yang sama dalam kebutuhan kita bersama akan penebusan.

Ada nuansa dalam setiap perdebatan yang berkecamuk saat ini, yang mengharuskan kita untuk menggengam kebenaran tertentu dalam ketegangan, dan tiada tempat yang lebih baik untuk melakukan itu selain daripada salib. Pikirkan paradoks iman kita yang berdampingan tanpa ragu di sana: Pemberi kehidupan menghadapi kematian. Kesempurnaan menjadi dosa. Kekudusan yang eksklusif menawarkan kasih yang inklusif. Hakim secara pribadi menanggung semua penghakiman!

Semakin saya menyadari besarnya belas kasihan Kristus pada saya, semakin rendah hati saya dan semakin banyak ruang yang saya berikan kepada orang lain untuk menerima belas kasihan yang sama. Salib Kalvari menuntut pola pikir rekonsiliasi yang berkelanjutan dan kesiapan untuk mengampuni seperti Kristus telah mengampuni kita (Ef. 4:32).

Seiring bertambahnya apresiasi kita terhadap Salib, cara kita mengalami dan memahami penderitaan kita sendiri pun berubah. Kala merenungkan penderitaan Yesus di Taman Getsemani, Forsyth mencatat, “Terlebih agung untuk berdoa agar penderitaan diubahkan daripada dihilangkan. Lebih merupakan anugerah untuk berdoa agar Tuhan menjadikan penderitaan itu sebagai sakramen.”

Ketika saya sedang melewati lembah kekelaman dari penderitaan mental dan emosional secara pribadi, saya pertama kali menemukan kata-kata tersebut, dan kata-kata itu menjadi penyejuk bagi hati dan pikiran saya yang penat. Alih-alih memohon agar Tuhan menghapuskan penderitaan saya (seperti yang selama ini saya lakukan), saya mulai memandang penderitaan itu sebagai sarana untuk bertemu dengan Dia yang sungguh memahami akan penderitaan saya lebih dari siapa pun.

Yesus yang tersalib melambangkan kasih dan karakter Allah dengan cara yang tak dapat kita temukan di manapun. Kematian-Nya adalah pertunjukkan kemuliaan-Nya yang begitu mengejutkan dan sangat jelas. Dalam tubuh jasmani-Nya di kayu salib, seluruh spektrum pengalaman manusia pun terungkap.

Seperti yang pernah ditulis oleh teolog Jürgen Moltmann, penulis buku The Crucified God, “Dapat disimpulkan bahwa penderitaan diatasi oleh penderitaan, dan luka disembuhkan oleh luka. … Oleh karena itu, penderitaan karena ditinggalkan diatasi oleh penderitaan kasih, yang tidak takut akan apa yang sakit dan keburukan, tetapi menerimanya dan mengambilnya untuk menyembuhkannya.”

Kematian Kristus menunjukkan bahwa semua kengerian dunia yang telah rusak ini sangat berarti bagi Allah. Kita begitu penting bagi Allah, hingga pada titik yang tak terhingga. Dan bukankah itu yang ingin diketahui semua orang dengan pasti—bahwa kita ini penting adanya?

Di atas salib, seluruh ketidakpastian dan luka kita, pertanyaan dan perasaan kita, kebencian dan penghakiman kita, kerinduan dan ketakutan kita—semuanya diubah menjadi doa. Semuanya! Salib adalah tempat Kristus mengangkat permohonan manusia yang memilukan, “Mengapa Engkau meninggalkan Aku?” dan mendoakannya atas nama kita sampai akhirnya berubah menjadi kepercayaan penuh akan kata-kata terakhir-Nya, “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan roh-Ku.”

Forsyth paham bahwa kematian dan kebangkitan Yesus tidak hanya mengatasi dosa manusia tetapi juga seluruh penderitaan yang terjadi akibat Kejatuhan manusia dalam dosa. Wawasan profestis inilah yang telah berulang kali menarik saya kepadanya sebagai penulis, dan selanjutnya melalui dirinya kepada Kristus sendiri.

Salah satu biografi Forsyth yang memiliki judul Latin, Per Crucem Ad Lucem—melalui Salib menuju pada terang. Itulah pengejarannya yang tiada pernah berakhir. “Kita harus membersihkan dan meringankan Injil untuk tindakan,” tulisnya. “Kita harus mengikis kerang teritip yang menempel padanya yang dapat mengurangi kecepatannya.”

Lebih dari satu abad kemudian, karya P. T. Forsyth terus melakukan hal itu. Dan bila kita mengizinkannya, maka kata-katanya akan menjadi penunjuk arah yang dapat dipercaya bagi geraja yang rindu untuk memusatkan kembali perhatiannya pada tujuan yang sejati.

J. D. Peabody adalah pendeta pendiri New Day Church di Federal Way, Washington. Ia adalah penulis buku Perfectly Suited: The Armor of God for the Anxious Mind.

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui email, Facebook, Twitter, Instagram, atau Whatsapp.

Our Latest

Salib di Zaman ‘Kekacauan Spiritual’

J. D. Peabody

Karya teolog abad ke-20, P.T. Forsyth, mengingatkan umat Kristen saat ini untuk menempatkan salib di depan dan dunia di belakang.

Kasih yang Tak Akan Melepaskan

Simon Chan

Maria Magdalena berpegang teguh pada Kristus yang bangkit dan pergi untuk bersaksi.

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Mencari Kemakmuran dengan Benar selama Perayaan Tahun Baru Imlek

Tidaklah salah untuk merayakan berkat yang kita terima. Namun para teolog dan pendeta Asia memberikan nasihat tentang bagaimana melakukannya dengan cara yang alkitabiah dan berkenan kepada Allah, di tengah tradisi angpao merah dan ucapan-ucapan selamat.

Di Mana Hatimu Berada, Di Situ Juga Kebiasaanmu Berada

Elise Brandon

Kita tidak akan mau berubah sampai kita tahu mengapa kita perlu melakukannya dan apa yang menjadi tujuan kita.

Memberi Berasal dari Allah

Sam Storms

Pelayanan memberi membangkitkan rasa syukur kepada Allah karena sumbernya berakar pada anugerah-Nya.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube