News

50 Negara Paling Berbahaya bagi Orang Kristen di Tahun 2026

Dari Suriah hingga Sudan, orang-orang percaya di seluruh dunia menghadapi penindasan dan penganiayaan yang semakin meningkat.

A paper cut out collage of a figure reaching up and pieces of a globe.
Christianity Today January 16, 2026
Illustration by Kumé Pather

In this series

Pendeta Edward Awabdeh baru saja selesai melayani perjamuan kudus di Gereja Evangelical Christian Alliance ketika ia melihat sejumlah jemaat sibuk melihat ponsel mereka dan berbisik-bisik dengan gelisah kepada orang-orang di sekitarnya. Banyak jemaat di gereja yang terletak di Damaskus, Suriah, itu menerima notifikasi tentang serangan bom bunuh diri di Gereja Ortodoks Yunani Mar Elias, yang berlokasi hanya sekitar 15 menit dari sana.

Pasukan keamanan Suriah tiba-tiba masuk dari bagian belakang gereja dan mengevakuasi jemaat dalam hitungan menit. Namun, meskipun jemaat keluar dengan tertib, banyak yang cemas akan keselamatan teman dan kerabat mereka di Mar Elias, yang mana mereka ketahui bahwa pengeboman pada 22 Juni tahun lalu telah menewaskan 22 orang Kristen dan melukai sedikitnya 60 orang lainnya.

“Ini adalah hari terberat kami,” kata Awabdeh. “Namun yang paling mengkhawatirkan adalah suasana ekstremisme secara umum [di negara ini].”

Dapatkan pembaruan harian dalam Bahasa Indonesia langsung di ponsel Anda! Bergabunglah dengan kanal WhatsApp kami.

Organisasi pemantau penganiayaan Open Doors sependapat. Dalam edisi 2026 dari laporan tahunan World Watch List (WWL; Daftar Pantauan Dunia), lembaga nirlaba tersebut menempatkan Suriah di peringkat ke-6, naik dari peringkat ke-18 tahun lalu. Negara ini menjadi satu-satunya pendatang baru dalam daftar 10 besar tempat paling berbahaya bagi orang Kristen dan memperoleh skor mendekati maksimum, yakni 90, berdasarkan metodologi Open Doors.

Dalam siklus pelaporan Open Doors sebelumnya, yang berakhir setiap September, tidak ada orang Kristen Suriah yang meninggal karena alasan terkait keimanan. Namun, untuk laporan 2026, Open Doors memverifikasi setidaknya ada 27 kematian orang percaya.

Kejatuhan rezim Assad di Suriah terjadi pada Desember 2024. Tak lama setelah itu, Ahmad al-Sharaa, pemimpin koalisi pemberontak sekaligus kepala kelompok jihadis Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), mengangkat dirinya sebagai presiden sementara negara tersebut dan menetapkan hukum Islam sebagai sumber utama perundang-undangan dalam konstitusi transisi.

Open Doors menyatakan bahwa kekuasaan di Suriah masih terfragmentasi di negara tersebut, sehingga memberi ruang bagi kelompok ekstremis untuk melecehkan orang Kristen. Ketakutan menyelimuti sedikit orang Kristen yang masih bertahan di kota Idlib di wilayah barat laut—di mana tempat basis HTS juga menampung sel-sel ISIS serta kehadiran militer Turki, dan juga di Suriah bagian tengah akibat minimnya keamanan lokal serta intimidasi dari kelompok ekstremis.

Di kota-kota besar seperti Damaskus dan Aleppo, aktor-aktor Islamis menyerukan perpindahan dari agama Kristen ke Islam melalui truk-truk yang dilengkapi pengeras suara di lingkungan-lingkungan Kristen. Mereka juga menempelkan poster yang berisikan tuntutan akan pembayaran pajak jizyah yang diwajibkan berdasarkan syariah Islam (yang secara historis dikenakan kepada non-Muslim) di gereja-gereja yang menolak.

Open Doors menyatakan bahwa situasi bagi orang Kristen relatif lebih dapat ditoleransi di wilayah pesisir Suriah dan di wilayah timur laut yang dikuasai oleh Kurdi. Namun demikian, otoritas Suriah menutup 14 sekolah Kristen di wilayah timur laut karena menolak menerapkan kurikulum Kurdi yang baru, sehingga ribuan siswa kehilangan akses pendidikan.

Awabdeh memiliki harapan bagi Suriah. Menurutnya, kaum Injili menikmati kebebasan “sepuluh kali lipat” lebih besar sekarang dibandingkan pada masa pemerintahan Assad. Pihak otoritas mengerahkan pasukan keamanan untuk menjaga semua kawasan Kristen selama Natal, dan kepala kepolisian Damaskus mengunjungi gereja Awabdeh untuk menyampaikan ucapan selamat hari raya. Para pejabat juga baru-baru ini memberikan izin untuk membangun sebuah pusat komunitas di atas tanah milik Gereja Evangelical Christian Alliance di ibu kota, izin yang selama lebih dari tiga dekade ditolak oleh rezim sebelumnya.

Namun, Awabdeh tetap merasa gelisah karena pemerintah tidak cukup menindak ekstremisme. Ia mengatakan para pejabat menyampaikan hal-hal yang benar mengenai hak-hak minoritas, tetapi hampir tidak ada akuntabilitas setelah pembantaian terhadap kaum Alawi oleh pasukan Suriah pada Maret lalu dan pembunuhan terhadap kaum muslim Druze oleh milisi bersenjata pada Juli lalu.

Di wilayah barat daya Sweida yang mayoritas penduduknya adalah kaum Druze, orang-orang bersenjata masuk ke apartemen salah satu anggota jemaat Awabdeh dan menodongnya dengan senjata. Mereka mencuri semua barang dan merusak seluruh simbol Kristen di rumah tersebut. Seorang pemimpin muslim moderat mengatakan kepada Awabdeh bahwa sebagian militan Islam percaya mereka memiliki hak untuk menjarah properti milik non-muslim.

Emigrasi orang Kristen Suriah terus meningkat. Open Doors memperkirakan hanya sekitar 300.000 orang percaya yang masih tersisa, turun drastis dari jumlah sebelum 2011 yang mencapai 1,5 hingga 2 juta jiwa, sekitar 10 persen dari populasi saat itu.

Secara global, lebih dari 388 juta orang Kristen hidup di negara-negara dengan tingkat penganiayaan atau diskriminasi yang tinggi karena iman mereka. Angka ini setara dengan 1 dari 7 orang Kristen di seluruh dunia, termasuk 1 dari 5 orang percaya di Afrika, 2 dari 5 di Asia, dan 1 dari 12 di Amerika Latin. Jumlah total ini meningkat sekitar 8 juta dibandingkan tahun lalu, mencerminkan tren kenaikan yang stabil dari waktu ke waktu. Menurut WWL 2019, 1 dari 9 orang Kristen di dunia tinggal di negara-negara dengan tingkat penganiayaan yang tinggi.

Kenaikan peringkat Suriah yang dramatis dalam WWL seharusnya tidak mengalihkan perhatian dari penganiayaan yang terus berlangsung di berbagai belahan dunia lainnya. Open Doors mencatat dua tren besar secara khusus: pemerintahan yang rapuh dan isolasi yang dipicu oleh negara.

Dalam lima tahun terakhir, 5 dari 14 negara Afrika sub-Sahara yang tercantum dalam WWL telah menggulingkan pemerintahnya, dan dua negara menangguhkan konstitusinya. Di negara-negara demokratis seperti Nigeria dan Etiopia, kelompok jihadis dan pemberontak menghalangi negara dalam memperluas keamanan dan stabilitas ke seluruh wilayahnya.

Sebagai akibat dari kondisi pemerintahan rapuh yang serupa di tempat lain, Open Doors menandai “penindasan Islam” dan “korupsi serta kejahatan terorganisasi” sebagai dua dari tiga pendorong utama penganiayaan di 10 dari 14 negara tersebut.

Dalam satu dekade terakhir, skor rata-rata penganiayaan di kawasan Afrika sub-Sahara meningkat dari 68 menjadi 78 pada skala 100, sementara skor kekerasan (salah satu dari enam indikator yang dipantau dalam daftar) melonjak dari 49 menjadi 88 persen dari total kategori. Bentuk kekerasan ini mencakup pembunuhan, penahanan tanpa proses pengadilan yang layak, penculikan, serta perusakan properti.

Sepuluh tahun lalu, 6 negara Afrika sub-Sahara masuk dalam peringkat 20 negara paling penuh kekerasan terhadap orang Kristen di dunia. Pada daftar tahun ini, 12 negara dari kawasan tersebut menempati posisi 20 besar, termasuk tiga negara dengan skor kekerasan maksimum: Sudan, Nigeria, dan Mali.

Sudan (peringkat ke-4) naik satu tingkat dalam daftar tahun ini akibat kekerasan yang ditujukan kepada orang Kristen. Perang saudara, yang berlangsung sejak 2023, telah menyebabkan hampir 10 juta orang mengungsi, jumlah yang setara dengan populasi London atau Bangkok. Secara nasional, konflik ini telah merusak ratusan gereja, dengan orang Kristen menjadi sasaran di wilayah Darfur, Blue Nile, Pegunungan Nuba, serta kawasan ibu kota.

Pasukan pemberontak Rapid Support Forces (RSF) di Sudan, yang menguasai sebagian besar ibu kota Khartoum selama hampir dua tahun, menghancurkan sejumlah sekolah dan gereja Kristen, termasuk Gereja Presbiterian Injili Sudan dan Gereja Injili di kawasan Omdurman. Setelah tentara nasional negara itu mengambil alih kendali pada Maret lalu, mereka kemudian menggusur sebuah gereja Pentakosta dengan buldoser.

Sementara itu, Nigeria, yang berada di peringkat ke-7, menarik perhatian global tahun lalu ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecam negara tersebut dan mengancam akan mengambil tindakan militer terkait penganiayaan terhadap orang Kristen. Terdaftar dalam 10 besar sejak 2021 dan mencatat skor kekerasan maksimum selama delapan tahun berturut-turut, Nigeria menderita akibat konflik lahan antara petani dan penggembala yang bercampur dengan intoleransi agama serta penindasan oleh kelompok jihadis.

Meskipun para ahli memperdebatkan akar penyebab kekerasan terhadap orang-orang percaya, Nigeria mencatat jumlah terbesar orang Kristen yang dibunuh karena iman mereka dalam WWL 2026, yakni 3.490 dari total 4.849 kematian. Negara-negara Afrika Sub-Sahara lainnya menyusul, dengan Republik Demokratik Kongo (peringkat ke-29) mencatat 339 kematian, dan Burkina Faso (peringkat ke-16) sebanyak 150 kematian.

Namun, tidak semua penganiayaan bersumber dari kelompok muslim. Di Etiopia (peringkat ke-36), Gereja Ortodoks, yang secara historis memiliki keterkaitan dengan kekuasaan negara, memberikan tekanan terhadap komunitas Protestan yang kerap menghadapi permusuhan di tingkat lokal. Meskipun gencatan senjata dengan pemerintah telah ditandatangani pada 2022, kelompok-kelompok bersenjata di wilayah Amhara dan Oromia membakar, merobohkan, atau menjarah 25 gereja, menurut laporan Open Doors.

Open Doors menyoroti sejumlah negara Afrika lainnya terkait tren kedua—pengawasan dan penindasan oleh pemerintah. Skor keseluruhan Aljazair (peringkat ke-20) telah meningkat 7 poin menjadi 77 sejak tahun 2021. Penutupan gereja secara sistematis oleh pemerintah telah menyebabkan sekitar tiga perempat orang Kristen Aljazair tidak lagi menjadi bagian dari komunitas Kristen yang terorganisasi, menurut Open Doors. Orang-orang percaya yang beribadah secara privat tetap menghadapi risiko penangkapan.

Namun, contoh dengan peringkat tertinggi berasal dari Tiongkok (peringkat ke-17). Meskipun mencatat skor 79, yang merupakan kenaikan tertinggi sepanjang sejarahnya, peningkatan ini bukan disebabkan oleh perubahan dalam tingkat kekerasan. Sebaliknya, tekanan terhadap gereja meningkat akibat penerbitan dan penegakan peraturan baru terkait penggunaan internet dan media sosial.

Pemberitaan Firman Tuhan hanya boleh dilakukan melalui situs web yang terdaftar, lewat asosiasi-asosiasi Katolik dan Protestan resmi. Para pemimpin gereja diwajibkan mendukung Partai Komunis dan sistem sosialis, sekaligus dilarang melakukan penggalangan dana, menjangkau kaum muda, serta mendistribusikan aplikasi Alkitab dan materi keagamaan.

Peraturan baru di Tiongkok ini sesuai dengan pola peningkatan regulasi sejak 2018 dan bertepatan dengan penindasan terhadap gereja-gereja independen yang sebelumnya ditoleransi, menurut Open Doors. Beberapa persekutuan besar kini beribadah secara diam-diam dalam kelompok kecil yang beranggotakan hanya 10 hingga 20 orang percaya. Pejabat pemerintah dapat menuduh pendeta gereja rumah yang tidak terdaftar sebagai pihak yang “memprovokasi kerusuhan,” dan para pendeta ini juga menghadapi kecurigaan penipuan jika mereka mengumpulkan persembahan.

Meskipun tingkat kekerasan menurun di beberapa negara yang masih represif, statistik yang dikumpulkan oleh Open Doors tetap menunjukkan angka sangat mengkhawatirkan secara global. Jumlah orang Kristen yang dibunuh karena iman mereka di negara-negara termasuk Nigeria meningkat hampir 400 kasus dibandingkan periode pelaporan sebelumnya.

Tindakan kekerasan juga memaksa orang Kristen meninggalkan rumah mereka demi mencari tempat yang lebih aman. Dalam laporan WWL 2026, Open Doors mencatat 224.129 orang Kristen yang mengungsi di dalam negeri atau menjadi pengungsi lintas negara, dibandingkan dengan 209.771 kasus pada periode pelaporan sebelumnya. Orang-orang percaya dari Nigeria, Myanmar (peringkat ke-14), dan Kamerun (peringkat ke-37) paling banyak mengalami hal ini.

Jumlah kasus penganiayaan fisik atau mental (termasuk pemukulan dan ancaman pembunuhan) terhadap umat Kristen karena alasan iman meningkat dari 54.780 menjadi 67.843 dalam WWL 2026. Nigeria, Pakistan (peringkat ke-8), dan India (peringkat ke-12) mencatat jumlah kasus terbanyak. Sementara itu, total orang Kristen yang dijatuhi hukuman penjara, kerja paksa, atau dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena iman mereka, meningkat dari 1.140 menjadi 1.298, dengan India, Bangladesh (peringkat ke-33), dan Eritrea (peringkat ke-5) memimpin dalam daftar tersebut.

Sementara itu, jumlah orang Kristen yang diperkosa atau mengalami pelecehan seksual karena alasan iman naik dari 3.123 menjadi 4.055, dengan Nigeria, Kongo, dan Suriah sebagai negara dengan kasus terbanyak. Laporan tersebut mengakui tantangan besar dalam pengumpulan data laporan ini, mengingat trauma para korban serta adanya tabu budaya.

Data sensitif lainnya: jumlah pernikahan paksa terhadap orang Kristen dengan non-Kristen. Open Doors melaporkan bahwa angka ini meningkat dari 821 menjadi 1.147 kasus, dengan Nigeria, Pakistan, dan Republik Afrika Tengah (peringkat ke-22) sebagai tiga negara teratas.

Indikator kekerasan lainnya menurun pada periode pelaporan terbaru. Serangan terhadap rumah, toko, tempat usaha, atau properti lain milik orang Kristen turun dari 28.368 menjadi 25.794 kasus, dengan Nigeria, Sudan, dan Sudan Selatan (yang berada di luar 50 besar) berada di urutan teratas. Penyerangan terhadap properti gereja menurun tajam dari 7.679 menjadi 3.632 kasus, dengan Nigeria, Tiongkok, dan Niger (peringkat ke-26) sebagai pelaku paling menonjol. Jumlah orang Kristen yang diculik juga berkurang dari 3.775 menjadi 3.302, dengan Nigeria, Sudan, dan Mozambik sebagai negara paling berbahaya dalam kategori ini.

Dalam banyak kasus, angka-angka tersebut tidak dapat diukur secara tepat, sehingga Open Doors terkadang melaporkan angka pembulatan seperti 10, 100, 1.000, 10.000, dan 100.000, tergantung pada situasinya. Para peneliti Open Doors menekankan bahwa estimasi ini bersifat konservatif dan mewakili “batas minimum absolut” dari serangan dan kekejaman yang terjadi, artinya, angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

Open Doors juga menggambarkan adanya tren perbaikan bagi orang Kristen di beberapa negara dalam WWL 2026. Negara mayoritas muslim Bangladesh turun ke peringkat ke-33 dari ke-24 karena penurunan skor kekerasan sebesar 20 persen, setelah situasi yang relatif tenang pasca kudeta pemerintah pada 2024. Perdana menteri sementara negara itu, Muhammad Yunus, juga telah menyampaikan sejumlah pernyataan positif tentang kebebasan beragama, meskipun komitmennya kemungkinan akan diuji dalam pemilu bulan depan.

Di Malaysia, yang berada tepat di luar 50 besar negara paling berbahaya bagi orang Kristen, Mahkamah Tinggi mengeluarkan putusan bersejarah yang mengakui peran kepolisian dalam penculikan Pendeta Raymond Koh pada 2017. Mahkamah tersebut memerintahkan pemerintah untuk membuka kembali penyelidikan dan membayar denda untuk setiap hari hilangnya Koh, yang kini telah mencapai total lebih dari 7 juta dolar AS.

Terakhir, meskipun kondisi kebebasan beragama tidak menunjukkan perbaikan signifikan di Kuba (peringkat ke-24), Meksiko (peringkat ke-30), Nikaragua (peringkat ke-32), atau Kolombia (peringkat ke-47), terdapat peningkatan advokasi kebebasan beragama di tingkat lokal maupun global bagi umat Kristen di negara-negara tersebut. Gereja-gereja dalam konteks ini “menunjukkan ketangguhan dan kreativitas yang luar biasa” dalam melayani kelompok-kelompok rentan, demikian dicatat dalam laporan Open Doors.

CT sebelumnya melaporkan peringkat WWL untuk tahun 2025, 2024, 2023, 2022, 2021, 2020, 2019, 2018, 2017, 2016, 2015, 2014, 2013, dan 2012, serta sorotan khusus pada 2010 tentang tempat-tempat tersulit untuk menjadi orang percaya. CT juga pernah menanyakan kepada para pakar pada tahun 2017 apakah Amerika Serikat masuk dalam daftar penganiayaan, dan menghimpun artikel-artikel paling banyak dibaca tentang gereja yang teraniaya pada 2019, 2018, 2017, 2016, dan 2015.

Baca laporan lengkap Open Doors tentang World Watch List 2026 di sini.

Metodologi

Open Doors menilai setiap negara berdasarkan enam komponen, dan setiap kategori dapat menerima skor maksimum 16,7, sehingga total skor maksimum adalah 100. Para peneliti menganggap skor di atas 40 poin sebagai tingkat penganiayaan yang tinggi.

Metodologi ini memperhitungkan unsur kekerasan sekaligus tekanan untuk meninggalkan iman yang dialami orang-orang percaya dari tetangga, teman, keluarga besar, dan masyarakat secara luas. Skor total ditentukan berdasarkan jawaban dari kuesioner yang komprehensif.

  • Kehidupan pribadi: kehidupan batin seorang Kristen serta kebebasan berpikir dan berkeyakinan.
     “Seberapa bebas seorang Kristen menjalin relasi pribadi dengan Tuhan secara pribadi di ruang privat mereka?”
  • Kehidupan keluarga: menyangkut keluarga inti dan keluarga besar seorang Kristen.
    “Seberapa bebas seorang Kristen menjalani keyakinan Kristennya di dalam lingkup keluarga, dan seberapa bebas keluarga Kristen menjalani kehidupan keluarga mereka secara Kristen?”
  • Kehidupan komunitas: interaksi orang Kristen dengan komunitas lokal di luar keluarga mereka.
    “Seberapa bebas orang Kristen secara individu maupun kolektif menjalani keyakinan Kristennya di dalam komunitas lokal? Seberapa besar tekanan yang diberikan komunitas kepada orang Kristen melalui tindakan diskriminasi, pelecehan, atau bentuk penganiayaan lainnya?”
  • Kehidupan nasional: interaksi antara orang Kristen dan negara tempat mereka tinggal. Ini mencakup hak dan hukum, sistem peradilan, negara, dan institusi lainnya.
    “Seberapa bebas orang Kristen secara individu maupun kolektif menjalani keyakinan Kristennya melampaui komunitas lokal mereka? Seberapa besar tekanan yang diberikan sistem hukum kepada orang Kristen? Seberapa besar tekanan dari tokoh-tokoh tingkat wilayah lokal melalui tindakan misinformasi, diskriminasi, pelecehan, atau bentuk penganiayaan lainnya?”
  • Kehidupan gereja: pelaksanaan kebebasan berpikir dan berkeyakinan secara kolektif, khususnya dalam hal bersekutu dengan sesama orang Kristen dalam ibadah, pelayanan, dan ekspresi iman di ruang publik tanpa campur tangan yang tidak semestinya.
     “Bagaimana pembatasan, diskriminasi, pelecehan, atau bentuk penganiayaan lainnya melanggar hak-hak ini serta kehidupan kolektif gereja, organisasi, dan lembaga Kristen?”
  • Kekerasan: perampasan kebebasan fisik, penderitaan fisik atau mental yang serius terhadap orang Kristen, atau kerusakan serius terhadap properti mereka. Kategori ini dapat memengaruhi atau menghambat relasi di semua bidang kehidupan lainnya.
    “Berapa banyak kasus kekerasan semacam ini terjadi?”

Pelaporan tambahan oleh Sofía Castillo.

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui email, Facebook, X, Instagram, atau Whatsapp.

Also in this series

Our Latest

Salib di Zaman ‘Kekacauan Spiritual’

J. D. Peabody

Karya teolog abad ke-20, P.T. Forsyth, mengingatkan umat Kristen saat ini untuk menempatkan salib di depan dan dunia di belakang.

Kasih yang Tak Akan Melepaskan

Simon Chan

Maria Magdalena berpegang teguh pada Kristus yang bangkit dan pergi untuk bersaksi.

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Mencari Kemakmuran dengan Benar selama Perayaan Tahun Baru Imlek

Tidaklah salah untuk merayakan berkat yang kita terima. Namun para teolog dan pendeta Asia memberikan nasihat tentang bagaimana melakukannya dengan cara yang alkitabiah dan berkenan kepada Allah, di tengah tradisi angpao merah dan ucapan-ucapan selamat.

Di Mana Hatimu Berada, Di Situ Juga Kebiasaanmu Berada

Elise Brandon

Kita tidak akan mau berubah sampai kita tahu mengapa kita perlu melakukannya dan apa yang menjadi tujuan kita.

Memberi Berasal dari Allah

Sam Storms

Pelayanan memberi membangkitkan rasa syukur kepada Allah karena sumbernya berakar pada anugerah-Nya.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube