Church Life

Mencari Kemakmuran dengan Benar selama Perayaan Tahun Baru Imlek

Tidaklah salah untuk merayakan berkat yang kita terima. Namun para teolog dan pendeta Asia memberikan nasihat tentang bagaimana melakukannya dengan cara yang alkitabiah dan berkenan kepada Allah, di tengah tradisi angpao merah dan ucapan-ucapan selamat.

People purchase Fu character ornaments, which is the Mandarin character for "prosperity", for the upcoming Chinese New Year at a wholesale market.

Orang-orang membeli ornamen karakter Fu, yaitu huruf Mandarin yang berarti “kemakmuran,” menjelang Tahun Baru Imlek di sebuah pasar grosir.

Christianity Today February 11, 2026
VCG / Getty / Edits by Christianity Today

Setiap Tahun Baru Imlek, anak-anak Calvin Qin menerima hongbao, atau angpao merah, di gereja. Dalam budaya Tionghoa, hongbao melambangkan keberuntungan dan berkat. Namun, angpao milik keluarga Qin tidak berisi uang kertas baru yang biasanya diterima oleh anak-anak. Sebaliknya, angpao tersebut berisi ayat-ayat Alkitab yang dicetak di secarik kertas.

“Jika mereka berhasil menghafal ayat-ayat Alkitab itu dengan benar, mereka akan mendapatkan hadiah seperti permen atau koin cokelat dari guru sekolah Minggu mereka,” kata Qin, yang pindah dari Tiongkok ke Amerika Serikat delapan tahun lalu dan saat ini melayani sebagai pendeta di Chinese Community Church of Indianapolis Northwest, Indiana.

Hingga kini, anak-anak Qin (dengan polosnya) belum menyadari bahwa angpao yang mereka terima merupakan pengecualian, bukan kebiasaan umum. Namun, ketidaktahuan itu ada batas waktunya.

Dapatkan pembaruan harian dalam Bahasa Indonesia langsung di ponsel Anda! Bergabunglah dengan kanal WhatsApp kami.

Tahun Baru Imlek, yang tahun ini (2023) dimulai pada 22 Januari, disertai dengan berbagai tradisi dan kebiasaan yang mengungkapkan hasrat akan kemakmuran, sering kali dalam bentuk peningkatan kekayaan dan kelimpahan materi. (Berbagai versi perayaan ini dirayakan di seluruh Asia: dikenal sebagai chun jie atau Festival Musim Semi di kalangan diaspora Tionghoa, Tết di Vietnam, dan Seollal di Korea Selatan.)

Namun, menyamakan kemakmuran dengan keuntungan finansial, atau memandangnya semata-mata sebagai peningkatan kepemilikan materi, justru mempersempit dan merusak makna sejatinya sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Suci, demikian disampaikan para teolog dan pendeta Asia kepada CT. Mereka percaya bahwa masa perayaan ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan refleksi teologis yang lebih mendalam tentang apa yang Alkitab ajarkan mengenai kemakmuran sejati.

Keterkaitan Semantik dalam Kitab Suci

Karakter Mandarin untuk kemakmuran, yang dilafalkan fu (福), banyak muncul dalam terjemahan Alkitab berbahasa Tionghoa, termasuk Chinese Union Version (CUV) yang populer.

Penelusuran di BibleGateway menunjukkan bahwa fu muncul sebanyak 593 kali dalam terjemahan CUV berbahasa Mandarin sederhana. (Sebagai perbandingan, pencarian kata prosperity dalam NIV hanya menghasilkan 33 kemunculan.)

Fu berulang kali muncul dalam Perjanjian Lama, misalnya ketika Allah memberkati umat manusia dalam Kejadian 1:28. Kata ini juga muncul dalam bagian lain dari Pentateukh, kitab-kitab Hikmat, dan kitab para Nabi. Dalam Perjanjian Baru, fu terdapat dalam bagian-bagian terkenal seperti Ucapan Bahagia (Matius 5) dan juga muncul dalam kitab Injil, Surat-surat dalam Perjanjian Baru, serta kitab Wahyu.

Namun, penerjemah Alkitab profesional Jost Zetzsche memperingatkan agar tidak mengasumsikan bahwa fu secara sederhana berarti “kemakmuran.” Ungkapan lain, seperti “memiliki lebih” (有馀) atau “segala sesuatu berhasil baik” (诸事亨通), juga mengandung makna fu.

“Selain itu, Chinese Union Version diterjemahkan antara tahun 1890 dan 1919, pada masa ketika injil kemakmuran belum ada,” kata Zetzsche.

Meski demikian, keterkaitan linguistik yang kuat antara fu dan prosperity (kemakmuran) dalam bahasa Mandarin memudahkan terbentuknya suatu “pemahaman Alkitab yang berorientasi pada kemakmuran,” kata Jerry Hwang, dekan akademik dan lektor kepala bidang Perjanjian Lama di Singapore Bible College.

Bahkan, karakter untuk kata Injil (福音) mengandung karakter fu, dan hal ini beresonansi dengan orang-orang beretnis Tionghoa dengan cara yang tidak dimiliki oleh kata gospel dalam bahasa Inggris.

Melihat fu dalam Kitab Suci membantu menciptakan suatu kontekstualisasi Injil yang sudah melekat dalam bahasa Mandarin. Mazmur 1, misalnya, menggambarkan orang yang diberkati sebagai orang yang “memiliki kemakmuran” (有福). “Ketika seseorang memiliki fu, itu berarti kemakmuran dan kepenuhan hidup,” kata Hwang.

“Gagasan tentang ‘blessing’ (berkat) dalam bahasa Inggris selalu merupakan kategori religius, tetapi dalam bahasa Tionghoa, itu adalah kategori sehari-hari.”

Karena itu, fu digunakan untuk menerjemahkan kata-kata bahasa Inggris seperti bless atau blessed (蒙福, 赐福, atau 祝福), ujar Zetzsche.

Pada saat yang sama, dalam psikologi orang Tionghoa, banyaknya penggunaan fu dalam Kitab Suci juga dapat menimbulkan kecenderungan untuk secara tidak sadar mengaitkan perolehan kekayaan dengan cerminan berkat Allah.

Kausalitas antara kekayaan dan berkat ilahi ini juga terlihat dalam cara kata-kata bantu tertentu dalam bahasa Ibrani Alkitab, seperti will dan shall diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, kata Hwang.

“Kata-kata ini dalam bahasa Ibrani menandakan prediksi dan janji, tetapi karena maknanya telah bergeser dan kata shall tidak dipakai lagi, prediksi kini terdengar seperti janji,” jelasnya.

Akibatnya, bagian-bagian tertentu dalam Perjanjian Lama “mengalami masalah ganda secara linguistik, yaitu keusangan bahasa dan pergeseran makna,” sehingga apa yang Allah akan lakukan sebagai respons terhadap ketaatan manusia terdengar seperti sebuah janji.

Sebagai contoh, frasa “Ia akan meluruskan jalanmu” dalam Amsal 3:5–6 dapat ditafsirkan sebagai janji ketika dibaca dalam bahasa Mandarin karena penggunaan kata bi (必), yang menyampaikan tingkat kepastian yang lebih kuat, mirip dengan kata must dalam bahasa Inggris.

Pembacaan semacam ini memunculkan gagasan bahwa kesalehan membawa kemakmuran, dan orang Kristen Tionghoa dapat menemukan “pembenaran semu yang tampak alkitabiah” sebagai akibatnya, kata Hwang.

Anggapan adanya persamaan antara memperoleh kekayaan dan menerima berkat Allah ini sering mendorong orang Tionghoa untuk menarik kesimpulan-kesimpulan tentang apa arti berkat sebagai tanda perkenanan Allah.

“Ditambah dengan mobilitas ke atas dari diaspora, yang secara tidak proporsional tergolong kaya, orang-orang mulai mengaitkan kekayaan dengan berkat Allah, entah kekayaan itu diperoleh dengan cara yang benar atau tidak,” ujar Hwang.

Diaspora Tionghoa merupakan bagian signifikan dari kelompok ultra-kaya di negara-negara seperti Singapura, Filipina, Indonesia, dan Malaysia.

Kekristenan secara “tidak proporsional menjadi agama kelas atas” di Singapura, Malaysia, dan Hong Kong, karena para misionaris dari Barat memainkan “peran penting dalam membentuk kelas menengah dan elite berbahasa Inggris [yang berfungsi sebagai] kelompok lokal yang loyal,” kata Hwang.

Menurut Hwang, orang-orang percaya sedang bergumul dengan apa yang disebut sebagai hak istimewa ini melalui beberapa cara. Dalam kasus Singapura, pergumulan itu muncul melalui dorongan misi, di mana orang-orang Singapura memandang negara mereka sebagai Antiokhia Asia. Namun, pemahaman Kristen tentang “keterpilihan” ini juga dapat melahirkan suatu “keistimewaan Singapura,” di mana negara tersebut memandang dirinya lebih unggul dibandingkan negara-negara sekitarnya.

Sebuah Obsesi Budaya

Selain sering muncul dalam terjemahan Alkitab berbahasa Tionghoa, fu juga hadir di mana-mana selama perayaan Tahun Baru Imlek. Tulisan atau guntingan kertas bergambar karakter Tionghoa ini sering ditempelkan di pintu, jendela, atau perabot rumah, dan biasanya dipasang terbalik untuk melambangkan bahwa keberuntungan telah datang.

Praktik-praktik Imlek lainnya juga merujuk pada fu. Orang-orang kerap saling mengucapkan salam seperti gong xi fa cai dalam bahasa Mandarin atau gong hey fatt choy dalam bahasa Kanton untuk mendoakan keberuntungan dan bertambahnya kekayaan di tahun yang akan datang.

Hidangan-hidangan khusus yang disiapkan atau dinikmati juga mengandung makna kemakmuran. Di kalangan keturunan Tionghoa di Singapura dan Malaysia, terdapat tradisi populer yang disebut lo hei. Tradisi ini biasanya berlangsung meriah, ketika keluarga bersama-sama melemparkan tinggi ke udara bahan-bahan yusheng, salad ikan mentah, sambil meneriakkan ungkapan-ungkapan berbahasa Mandarin yang berisi doa berkat dan keberhasilan dalam berbagai aspek kehidupan.

Bagi James Hwang (tidak memiliki hubungan keluarga dengan Jerry), mantan direktur eksekutif pelayanan Tionghoa di Far East Broadcasting Corporation (FEBC), telur goreng khas Shanghai yang ia buat bersama neneknya saat kecil merupakan hidangan perayaan yang penuh kenangan. Dibuat menyerupai “batangan emas,” telur–telur gulung ini sering dibagikan kepada para tetangga sebagai simbol berbagi “kekayaan.”

Perayaan ini juga mencakup penekanan pada sisi-sisi yang serius terkait kemakmuran.

Hal ini dapat terlihat dalam perilaku yang bersifat takhayul, seperti menghindari mengenakan warna-warna yang dianggap membawa sial seperti warna hitam serta tidak membersihkan rumah karena takut “menyapu pergi” kekayaan.

Di Filipina, di mana hingga 25 persen penduduknya adalah keturunan Tionghoa, banyak orang Filipina beranggapan bahwa orang Tionghoa itu kaya, kata Juliet Lee Uytanlet, penulis The Hybrid Tsinoys: Challenges of Hybridity and Homogeneity as Sociocultural Constructs among the Chinese in the Philippines.

Sebagian umat Katolik Filipina ingin meniru orang Tionghoa dalam meraih kekayaan dan keberhasilan, sampai-sampai mereka mengunjungi Binondo, kawasan kampung Tionghoa di Manila, untuk membeli jimat dan benda-benda pembawa keberuntungan guna menangkal roh jahat.

Hasrat akan kemakmuran juga dapat menjadi masalah ketika memicu konflik relasional—sebuah fenomena yang melampaui batas geografis dan budaya di Asia.

Tahun Baru Imlek biasanya menjadi waktu bagi keluarga untuk berkumpul dalam jamuan reuni dan saling mengunjungi, namun terlalu sering orang-orang terkasih justru bertengkar soal uang selama masa perayaan, kata Clive Lim, salah satu penulis Money Matters: Faith, Life, and Wealth asal Singapura.

Lim mengaitkan persepsi budaya yang dominan tentang kemakmuran dengan suatu “ketimbal-balikan pragmatis” dalam budaya Tionghoa, yang kemungkinan besar berakar pada ajaran agama Buddha tentang karma.

Orang Tionghoa sering memandang seseorang yang sangat makmur sebagai orang yang memiliki karma baik karena telah melakukan banyak perbuatan baik dalam kehidupan sebelumnya, kata Lim. “Karena itu, untuk mendapatkan hal-hal baik, saya harus melakukan perbuatan baik. Lalu hal itu akan berlipat ganda dan berkembang menjadi [penerimaan] banyak hal baik dalam hidup saya.”

Menjadi penerima “karma baik” membuat memamerkan kekayaan dianggap dapat diterima di Timur, sementara tindakan yang sama dipandang tidak pantas secara sosial di Barat, tambah Lim.

Perbedaan cara menampilkan kekayaan ini juga muncul karena hierarki dianggap wajar dalam konteks budaya Tionghoa. “Sejak hari seseorang dilahirkan, sudah ada tatanan hierarkis,” kata Lim. “Kekayaan menunjukkan posisi sosial Anda.”

Pola pikir hierarkis yang dianut banyak orang Tionghoa menyebabkan perayaan Imlek menjadi waktu ketika orang-orang menunjukkan seberapa makmur mereka, misalnya dengan menghitung jumlah uang dalam angpao (yang secara tradisional diberikan kepada anak-anak dan orang dewasa yang belum menikah) dan membandingkannya dengan milik orang lain.

Dorongan atau beban tak kasat mata untuk mengumpulkan uang dan meningkatkan status sosial ini sangat dirasakan Qin ketika ia melayani sebagai pendeta di Tiongkok.

“Banyak anak muda, termasuk orang Kristen, tidak ingin pulang ke rumah saat Tahun Baru Imlek karena keluarga dan komunitas mereka akan bertanya berapa banyak uang yang mereka hasilkan tahun ini,” ujarnya.

Orang-orang di Tiongkok—bahkan anggota keluarga sendiri—akan memperlakukan Anda secara berbeda jika Anda kaya, dan orang yang kurang mampu tidak mendapatkan tingkat penghormatan yang sama, kata Qin.

Menata ulang ritual-ritual

Dalam sebuah perayaan yang secara terang-terangan didasarkan pada hasrat dan pemuliaan akan keuntungan materi, mungkin terasa sulit bagi orang Kristen untuk merayakan kemakmuran dengan cara yang berkenan kepada Allah selama Tahun Baru Imlek.

Titik awal yang penting adalah menyadari bahwa kemakmuran tidak terbatas pada ranah materi, melainkan didefinisikan secara alkitabiah sebagai shalom, kata para teolog dan pendeta Asia.

Shalom bersifat komunal, relasional, dan kreasional, kata Jerry Hwang, dekan akademik. Shalom adalah “hidup bersama Allah serta harmoni dengan lingkungan dan sesama manusia,” yang menantang pemahaman konsumeristik tentang kemakmuran maupun pemahaman psikologis yang menyempitkan arti kemakmuran sebagai kedamaian batin.

“Pemahaman ini juga menantang baik orang Barat yang individualistis maupun Timur yang pragmatis. Anda membutuhkan Allah di dalam gambaran itu untuk hadirnya shalom yang sejati.”

Selain teladan-teladan dalam Perjanjian Lama seperti Abraham, Ayub, dan Yusuf, yang kaya dan makmur karena hidup benar di hadapan Allah dan taat kepada-Nya, kita juga dapat melihat tokoh-tokoh Perjanjian Baru seperti Lidia dan Yusuf, yang menggunakan kekayaan mereka untuk menolong sesama, kata Uytanlet.

Lim juga memperingatkan bahwa menumbuhkan kesadaran akan bahaya rohani dari kekayaan adalah hal yang penting.

“Yesus menyebut uang sebagai ‘mamon’ dalam Perjanjian Baru. Amsal 30:8 (‘Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku) juga mengingatkan kita untuk sangat berhati-hati agar tidak jatuh ke salah satu dari dua ekstrem itu dan melupakan Allah.”

Daewon Moon, pendeta senior Gereja Daegu Dongshin di Korea Selatan, secara rutin berkhotbah menentang cinta akan uang (1Tim. 6:10) di gerejanya. Ia sangat menyadari bahwa ia melayani di tengah masyarakat yang semakin sekuler dan individualistis, di mana setengah dari penduduknya tidak beragama.

Sementara sebagian pengkhotbah menyampaikan khotbah yang menentang segala bentuk pencarian kekayaan, dan sebagian lainnya mengejar kemiskinan sebagaimana ditekankan dalam teologi minjung (teologi pembebasan kaum miskin), Moon mengatakan bahwa sebagian besar pendeta Korea berada di posisi tengah di antara dua ekstrem tersebut. Di gereja Presbiterian-nya, ia sering menekankan penatalayanan, bahwa segala sesuatu yang dimiliki seseorang adalah pemberian Allah yang harus digunakan untuk melayani Tuhan di tengah dunia.

Menafsirkan ulang beberapa tradisi tertentu selama Tahun Baru Imlek juga dapat membantu orang memahami bahwa kelimpahan sejati hanya ditemukan dalam hidup bersama Kristus.

Alih-alih memasang “syair musim semi” tradisional atau spanduk merah bertuliskan ucapan Imlek yang umum di pintu rumah, orang Kristen dapat menuliskan syair puisi yang mencerminkan iman mereka, seperti “Allah adalah sumber segala berkat,” kata James Hwang, direktur eksekutif FEBC. Di Singapura, sejumlah toko bahkan telah membuat versi dekorasi Imlek yang bernuansa Kristen, mulai dari guntingan kertas berbentuk salib hingga desain angpao yang diambil dari Kitab Suci.

Daripada mengucapkan slogan tentang keberuntungan dan kekayaan saat lo hei, orang Kristen dapat memilih untuk menyatakan pengakuan tentang menerima berkat Allah atau mempercayai Allah untuk membentuk pemahaman yang lebih luas tentang apa itu kemakmuran, kata Jerry Hwang.

“Secara teologis, kita dapat menggantikan liturgi kemakmuran dengan liturgi tentang apa itu berkat sejati menurut sudut pandang Allah, yang mencakup penderitaan, jika diperlukan.”

Bagi sebagian orang Kristen lainnya, menjauh dari tradisi-tradisi budaya memang diperlukan.

Qin tidak mengucapkan gong xi fa cai saat Tahun Baru Imlek karena ia tidak ingin terlalu mengaitkan perayaan tersebut dengan uang. Dan ketika pertanyaan-pertanyaan yang mengusik tentang penghasilan muncul dalam pertemuan keluarga di Tiongkok, ia mendorong orang Kristen di sana untuk merespons dengan membagikan pelajaran-pelajaran yang mereka peroleh dalam pertumbuhan rohani atau profesional mereka.

Mengucapkan doa atau harapan akan kesehatan jasmani juga lazim pada masa ini. Namun, orang percaya yang ingin menumbuhkan shalom yang alkitabiah di dunia perlu menyadari bahwa mendoakan kesehatan fisik saja tidaklah cukup.

“Kesehatan rohani terbesar [yang perlu dicari selama Tahun Baru Imlek] adalah pengampunan,” kata Lim. “Apakah kita bersedia berkomitmen untuk mengasihi musuh-musuh kita, saling mengampuni, dan menemui para orang tua atau sesepuh kita untuk menunjukkan kasih dan hormat?”

Isabel Ong adalah editor Asia di CT. Ia berasal dari Singapura dan saat ini tinggal di Kanada.

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui email, Facebook, X, Instagram, atau Whatsapp.

Our Latest

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Mencari Kemakmuran dengan Benar selama Perayaan Tahun Baru Imlek

Tidaklah salah untuk merayakan berkat yang kita terima. Namun para teolog dan pendeta Asia memberikan nasihat tentang bagaimana melakukannya dengan cara yang alkitabiah dan berkenan kepada Allah, di tengah tradisi angpao merah dan ucapan-ucapan selamat.

Di Mana Hatimu Berada, Di Situ Juga Kebiasaanmu Berada

Elise Brandon

Kita tidak akan mau berubah sampai kita tahu mengapa kita perlu melakukannya dan apa yang menjadi tujuan kita.

Memberi Berasal dari Allah

Sam Storms

Pelayanan memberi membangkitkan rasa syukur kepada Allah karena sumbernya berakar pada anugerah-Nya.

Rencanakan Pembacaan Alkitab Tahun Ini untuk Mengejar Ketekunan, Bukan Kecepatan

J. L. Gerhardt

Rencana membaca Alkitab selama dua belas bulan dari Kejadian-Wahyu memang populer, tetapi kebanyakan orang Kristen akan bertumbuh lebih dekat dengan Allah dan Firman-Nya jika membaca lebih perlahan.

News

50 Negara Paling Berbahaya bagi Orang Kristen di Tahun 2026

Dari Suriah hingga Sudan, orang-orang percaya di seluruh dunia menghadapi penindasan dan penganiayaan yang semakin meningkat.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube