Pilatus bertanya pula kepada-Nya, katanya: “Tidakkah Engkau memberi jawab? Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau!” (Mrk.15:4).
Ketika mendekati Paskah, ada banyak hal yang kita pikirkan: kematian Yesus yang menggantikan kita, kurangnya pemahaman para murid, pilihan Allah untuk menjadikan perempuan sebagai saksi pertama dari kubur yang kosong, pengharapan akan kebangkitan. Ada banyak yang bisa dibahas saat memikirkan akhir dari minggu paling penting dalam sejarah ini.
Namun ada satu hal yang sering kita lewatkan: Bagaimana Yesus menjalani pengalaman itu? Ya, kita mengingat Getsemani di mana Ia bergumul dengan apa yang akan menimpa-Nya dan akhirnya menyerahkan semuanya kepada Allah. Namun apa artinya itu bagi Dia? Adakah yang bisa kita pelajari dari cara Kristus menghadapi penolakan dunia yang intens yang direpresentasikan oleh Salib?
Sepanjang paruh kedua pelayanan-Nya, Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya bahwa mereka akan menghadapi penentangan, perlawanan, dan penolakan sama seperti yang Ia alami. Pertumbuhan rohani mereka bergantung pada cara mereka menghadapi kenyataan ini—suatu kenyataan yang dihadapi oleh gereja-gereja kita saat ini ketika kita memasuki konteks pasca-Kristen yang kian meningkat. John O’Sullivan, mantan editor National Review, mendefinisikannya seperti ini: “Masyarakat pasca-Kristen bukanlah sekadar masyarakat di mana agnostisisme atau ateisme menjadi keyakinan dasar yang dominan. Ini adalah masyarakat yang berakar pada sejarah, budaya, dan praktik-praktik kekristenan, tetapi ini juga masyarakat di mana keyakinan religius terhadap kekristenan telah ditolak atau yang lebih buruk, dilupakan.”
Apa yang bisa dipelajari dari penangkapan dan pengadilan Yesus terkait panggilan kita di dunia yang seperti ini? Bagaimana kita sebaiknya mengingat apa yang telah dilupakan oleh banyak orang di dunia?
Yesus dikhianati oleh salah satu dari orang terdekat-Nya sendiri. Ia diinterogasi tentang identitas-Nya oleh para pemimpin Yahudi. Ia menghadapi Pilatus dengan nyawa-Nya sebagai taruhan, bergantung pada apa yang akan Ia katakan. Taruhannya sangat tinggi saat Dia berdiri di hadapan gubernur Romawi itu. Saat kita merenungkan Kristus selama Ia diadili, apa yang bisa kita pelajari?
Pertama, dengan memercayai Bapa, Yesus tidak melawan balik atau menunjukkan rasa takut ketika menghadapi penolakan itu. Kejadian bersama Pilatus sangat mengungkap akan hal ini. Pilatus terkejut karena Yesus tidak menanggapi sebagaimana yang dia harapkan dari seseorang dalam situasi Yesus. Bahkan, Markus 15:5 mengatakan Pilatus merasa heran. Cara Yesus berinteraksi dengan penentangan tidaklah seperti cara dunia. Seburuk apa pun situasinya (dan semuram apa pun kelihatannya bagi Petrus, yang menyangkal Tuhan pada waktu yang hampir bersamaan), Yesus tahu bahwa panggilan yang telah diberikan Bapa kepada-Nya mencakup hal ini. Tidak diperlukan perlawanan yang keras.
Kedua, Yesus bersandar pada keyakinan akan identitas-Nya. Dia merasa aman di area ini. Seperti yang dicatat oleh Yohanes, Pilatus terkejut ketika Yesus pada awalnya tidak memberikan jawaban atas tuduhan-tuduhan terhadap-Nya. Kemudian, dalam Yohanes 19:11, kita melihat jawaban Yesus, yang berakar pada rasa aman akan identitas-Nya di dalam Allah: “”Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas.”
Sebelumnya Yesus telah memberi tahu Pilatus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini” (18:36). Percakapan sebelumnya ini terjadi saat mereka memperdebatkan hakikat kebenaran. Bagi Yesus, Allah Bapa dan jalan-Nya—yang terhubung dengan Kristus sendiri—adalah kebenaran, sehingga tidak perlu merengek tentang apa yang sedang terjadi, tidak perlu pembelaan, dan tidak perlu bertindak karena takut. Firman Tuhan dalam 1 Petrus 3:14 mengekspresikan gagasan ini sebagai berikut: “Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.” Penolakan akan datang, sama seperti yang dialami oleh Sang Guru, tetapi cara kita meresponsnya harus mencerminkan jalan yang Dia tempuh.
Ketiga, kita bersandar pada keyakinan bahwa kebenaran Allah akan tersingkap dan keadilan akan datang. Ketika kita menghadapi penentangan, rasanya sangat berisiko untuk membiarkan keadaan itu berlalu begitu saja, dan tidak melawan balik. Namun keyakinan Yesus tidak tertuju pada masa kini; Ia tahu bahwa hari pembenaran akan datang. Hal ini jelas dalam jawaban Yesus atas pertanyaan yang diajukan para pemimpin Yahudi, yang menanyakan apakah Ia adalah Mesias. “Akulah Dia,” kata Yesus, “dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit” (Mrk. 14:62). Jawaban Yesus bukan hanya sebuah afirmasi bahwa Dia adalah Mesias, melainkan sebuah pernyataan bahwa Dia akan duduk bersama Bapa di surga—suatu ucapan yang dianggap oleh pemimpin Yahudi sebagai hujat (ay. 64). Sebenarnya, klaim Yesus tersebut akan menjadi hujat seandainya hal itu tidak benar.
Keputusan Allah dalam perselisihan ini—apakah itu hujat atau eksaltasi—justru merupakan inti dari Paskah. Yesus sebenarnya sedang berkata, “Kalian boleh melakukan apa pun yang kalian mau terhadap-Ku, tetapi akan tiba saatnya ketika Bapa akan membenarkan Aku dan memberi-Ku tempat di sisi-Nya di mana Aku akan menjadi Hakim kalian.” Realitas pembenaran-Nya yang akan datang memberi Yesus keyakinan untuk tetap setia saat Dia dituduh dan diadili. Yesus tidak mengambil tindakan sendiri karena Ia tahu Bapa mendukung-Nya. Kebangkitan yang kita rayakan adalah pembenaran Allah atas klaim Yesus.
Ada sebuah ironi dalam hal ini yang tidak boleh dilewatkan. Kata-kata Yesus tentang Anak Manusia yang duduk di sebelah kanan Allah secara teknis adalah hal yang membuat-Nya disalibkan. Para pemimpin agama telah berjuang untuk mendapatkan kesaksian yang bisa mereka bawa ke Pilatus—lalu Yesus sendiri memberikan kesaksian itu. Para pemimpin itu memahami poin yang Yesus sampaikan, tetapi mereka gagal memercayai hal itu. Setelah Dia dipukuli dan diolok-olok, mereka membawa-Nya kepada Pilatus di mana Dia disalibkan karena pemberontakan—karena Ia mengklaim diri-Nya sebagai raja yang tidak ditunjuk oleh Roma, sebab kerajaan Yesus bukan dari dunia ini.
Yesus begitu berkomitmen untuk pergi ke Salib demi kita sehingga Dia memberikan kata-kata yang justru membuat-Nya disalibkan. Iia melakukannya karena Ia tahu Allah akan membenarkan-Nya tiga hari kemudian. Begitulah dalamnya kasih-Nya bagi kita.
Bagaimana kita bisa menanggapi perlawanan atau penolakan? Seperti yang dilakukan Kristus. Kita memercayai Allah dalam menghadapi penentangan. Kita bersandar pada identitas yang Allah berikan kepada kita sehingga kita tidak perlu takut akan penolakan dan bereaksi berlebihan. Kita tahu bahwa dalam pembenaran yang terhubung dengan Yesus, kita menemukan pemulihan kita sendiri ketika segala sesuatu akan diperbaiki. Dalam hal inilah letak jalan Salib.
Darrell L. Bock adalah direktur eksekutif bidang keterlibatan budaya dan profesor riset senior studi Perjanjian Baru di Dallas Theological Seminary. Ia adalah penulis lebih dari 40 buku dan tafsiran, termasuk Jesus According to Scripture.