Theology

Kita Bukan Kuda Pekerja

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

A gold workhorse on a red background.
Christianity Today February 11, 2026
Illustration by Christianity Today / Source Images: Unsplash

Saya pindah ke Australia dari Tiongkok tiga dekade lalu. Salah satu alasan saya tertarik untuk tinggal di negara itu adalah melihat kuda liar berlari bebas di dataran luas yang berdebu. Semangat para kuda yang riang itu memikat saya untuk meninggalkan hutan beton tempat saya dibesarkan.

Kini, pengalaman saya memberi makan dan menunggangi anak kuda berbulu cokelat di sepanjang pantai telah menjadi bagian berharga dari istirahat Sabat saya di tengah kesibukan hidup dan pelayanan.

Alkitab sering menggambarkan kuda sebagai simbol kekuatan militer, otoritas kerajaan, dan keberanian dalam pertempuran. Alkitab terjemahan NIV, misalnya, menyebutkan hewan itu 176 kali.

Dapatkan pembaruan harian dalam Bahasa Indonesia langsung di ponsel Anda! Bergabunglah dengan kanal WhatsApp kami.

Dalam Perjanjian Lama, kita menjumpai kuda-kuda Mesir yang perkasa dan para penunggangnya yang dilemparkan Allah ke dalam laut dalam Keluaran 15 dan 12.000 kuda (atau kereta kuda) yang dimiliki raja Salomo sebagai tanda kekayaannya dalam 1 Raja-raja 10. Dalam kitab Ayub, Allah menanyai Ayub tentang sumber kekuatan dan keberanian kuda, yang dengan jelas menggambarkan lompatan, dengusan, dan serangan ganasnya terhadap musuh (39:19-25)Top of Form

Dalam kitab para nabi, penglihatan tentang kuda sebagai agen tindakan dan kemenangan ilahi berulang kali muncul, seperti empat roh dari surga yang muncul dalam bentuk kuda merah, hitam, putih, dan belang dalam kitab Zakharia

(1:8; 6:1–8). Dan dalam kitab Wahyu, gambaran Kristus dan pasukan surgawi yang menunggang kuda putih menunjukkan puncak otoritas Allah (19:14).

Namun, terlepas dari semua penggambaran positif tentang kuda, Alkitab mendorong kita untuk tidak mengandalkan kekuatan “kuda,” melainkan mengandalkan kuasa dan kedaulatan Tuhan, seperti yang dinyatakan dalam Amsal 21:31, “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan Tuhan.”

Ayat ini menawarkan perspektif yang kaya tentang seperti apa kehidupan yang penuh kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa yang merayakan Tahun Kuda pada Tahun Batu Imlek ini. Alkitab mendorong kita untuk tidak mendefinisikan kemenangan sebagai pencapaian kesuksesan pribadi atau politik, melainkan untuk menanggapnya seperti yang Kristus lakukan: suatu penyerahan diri dan bersandar pada rencana dan tujuan Allah.

Seperti Kitab Suci, budaya Tionghoa sangat menghargai kuda. Zodiak Tionghoa mengatakan bahwa orang yang lahir pada tahun kuda adalah seorang pekerja keras, aktif, dan energik, dan konon paling cocok  untuk menjadi arsitek atau pengusaha.

Idiom-idiom populer Tionghoa memakai kata “kuda” (“ma”) untuk menandakan semangat dan vitalitas pada tingkat individu dan komunitas. Salah satu idiom, ma dao cheng gong, menggambarkan pencapaian kesuksesan melalui usaha yang gigih dan kepercayaan diri pada kemampuan seseorang— seperti kuda yang berlari kencang menuju garis finis dalam perlombaan. Idiom lain, long ma jing shenmengartikulasikan  bagaimana seseorang atau komunitas dipenuhi dengan semangat yang kuat dan berani.

Penggambaran dekoratif kuda juga merupakan hal yang umum di banyak rumah dan kantor di Tiongkok. Patung-patung binatang yang gagah dan ramping ini sering dipajang menghadap pintu atau jendela untuk menarik “qi” (energi) positif sebagai cara untuk meningkatkan kekayaan dan keberuntungan, menurut feng shui (geomansi Tionghoa).

Persepsi modern tentang kuda dalam budaya Tionghoa ini muncul dari cara-cara kekuatan politik dan nasional didefinisikan dalam peradaban Tionghoa selama berabad-abad.

Orang-orang Tionghoa kuno menganggap kuda sebagai sumber daya utama untuk transportasi, produktivitas, dan peperangan. Tentara Terakota, yang dibuat pada akhir abad ke-3 SM untuk melindungi kaisar pertama Tiongkok, Qinshi Huang, di alam baka, terdiri dari patung-patung berukuran seperti aslinya yang menggambarkan prajurit, kuda, dan kereta perang. Zaman keemasan Dinasti Tang (618–917 M) juga terkenal karena menghasilkan kuda-kuda berglasir dekoratif dalam gaya sancai (gaya tiga warna) untuk memuji kehebatan bangsa tersebut atas bangsa lain.

Tiongkok mungkin tidak lagi bergantung pada kuda, tetapi masih berupaya untuk menunjukkan kekuatannya melalui transportasi dan industri. Prakarsa Sabuk dan Jalan (The Belt and Road Initiative; BRI), sebuah proyek besar di beberapa bagian dunia yang diimplementasikan oleh pemerintah Tiongkok mulai tahun 2013 yang juga dikenal sebagai Jalur Sutra Baru, bertujuan untuk menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara Eurasia melalui jalan raya, kereta api, pelabuhan, dan jalur maritim.

Umat Kristen di Tiongkok telah menyatakan antusiasme mereka terhadap BRI, menyadari bahwa BRI dapat menawarkan peluang bagi orang percaya untuk hidup dan bekerja di antara komunitas dengan akses terbatas terhadap Injil. Namun, pandangan ini meremehkan jebakan dalam berbagi Injil lintas budaya, terutama ketika bercampur dengan kekuatan ekonomi dan politik.

Penginjilan dan pelayanan semacam itu mungkin saja melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan misi-misi era kolonial dalam sejarah. Bentuk misi ini berisiko memaksakan Injil yang terikat secara budaya dan sosial tanpa memerhatikan dan memberdayakan orang percaya setempat.

Amsal 21:30 mengingatkan kita bahwa “Tidak ada hikmat dan pengertian, dan tidak ada pertimbangan yang dapat menandingi Tuhan.” Kemenangan—atau cara melaksanakan misi secara efektif sebagai orang Kristen Tionghoa dalam hal ini—ditemukan dalam pengetahuan bahwa Roh Kudus-lah, bukan pengaruh politik, ekonomi, atau sosial, yang menyebabkan buah yang dihasilkan dapat tumbuh subur di tanah yang keras dan menyebabkan Injil menyebar.

Dalam gereja Tionghoa, pemahaman kita tentang apa artinya menjadi “seperti kuda” juga dapat menjadi bumerang. Sama seperti nilai seekor kuda hampir seluruhnya terletak pada apa yang dapat dibawanya dan seberapa jauh ia dapat pergi, orang Kristen Tionghoa mungkin secara tidak sadar beroperasi dengan kerangka kerja serupa dalam cara mereka berhubungan dengan Tuhan dan pelayanan.

Di sini, komitmen seseorang terhadap pelayanan sering diukur dengan tingkat ketekunan, daya tahan, dan kemampuannya untuk menanggung kesulitan (atau “memakan kepahitan”). Dalam lingkungan seperti itu, kemenangan cenderung didefinisikan dengan menolak untuk beristirahat sampai setiap tugas atau komitmen selesai. Akibatnya, orang mengalami kelelahan dan kehabisan energi, terutama dalam struktur gereja paternalistik di mana sebagai anggota gereja mungkin sulit untuk mengabaikan otoritas penatua atau pendeta.

Akan tetapi Amsal 21:31 menumbangkan kecenderungan budaya yang mengandalkan “tenaga kuda” kita sendiri (usaha manusia) ini sebagai simbol kekuatan dan kemenangan. Meskipun disiplin dan ketaatan itu berharga, ayat ini menolak ilusi bahwa yang membantu kita meraih kesuksesan adalah kemampuan diri kita sendiri.

Bahayanya bukan terletak pada kerja keras yang kita lakukan dalam membangun kerajaan Allah, melainkan pada membiarkan pekerjaan ini menjadi tujuan akhir. Bekerja tanpa mengandalkan dan beristirahat diam-diam mengalihkan iman dari Allah kepada kemampuan manusia.

Amsal ini membentuk sikap kesiapan yang rendah hati di dalam diri kita. Umat Allah harus melayani-Nya dengan setia sambil menyerahkan hasil yang tidak dapat mereka kendalikan kepada-Nya. Keberhasilan tidak dijamin oleh strategi atau kekuatan, melainkan diterima sebagai pemberian. Kita tidak boleh memperlakukan orang sebagai “kuda pekerja,” melainkan berjalan bersama mereka dengan kecepatan dan penyataan kasih Allah.

Kebenaran bahwa “kemenangan ada di tangan Tuhan” dalam Amsal 21:31 membebaskan kita untuk bertindak bijaksana tanpa kecemasan atau paksaan. Kita dipanggil untuk bekerja dengan tekun dan mempersiapkan diri sepenuhnya untuk “hari pertempuran”—melawan kekuatan spiritual gelap yang mengancam iman dan persatuan Kristen—dan mengenali kehadiran dan pemeliharaan Allah di sepanjang jalan.

Namun, kemenangan bukanlah sekadar memenangkan peperangan, baik fisik maupun spiritual; melainkan, menaruh kepercayaan penuh kita kepada Tuhan yang sendirilah yang memberikan hidup, sukacita, dan kedamaian.

Salah satu ilustrasi paling jelas tentang seperti apa kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa dapat kita lihat dari Yesus yang memasuki Yerusalem dengan seekor keledai yang rendah hati, bukan kuda yang menakutkan (Mat. 21:5).

Di sini, kerajaan Allah ditegakkan bukan dengan kekuatan, penaklukan, atau momentum maju yang tiada henti, melainkan melalui kasih yang rela berkorban yang diungkapkan dalam belas kasihan, kedamaian, dan keadilan. Otoritas Yesus, yang sangat kontras dengan kekuatan duniawi, diungkapkan dalam kelemah-lembutan, ketekunan yang sederhana yang mencapai tujuan Allah dari waktu ke waktu.

Citra kontra-budaya dari gambaran Yesus yang menunggangi keledai dalam bagian Alkitab ini juga berbicara tentang kerendahan hati yang intensional, mobilitas turun ke bawah yang Kristus inginkan agar kita tiru. Seperti apa jadinya jika orang Kristen Tionghoa menjadi “keledai” yang rendah hati yang ditunggangi oleh Tuhan? Bisakah kita menjadi “hal-hal bodoh di dunia” yang dipilih Allah untuk mempermalukan orang-orang bijak (1Kor. 1:27)?

Kuda tetap menjadi simbol keberanian dan kekuatan yang kuat dalam Kitab Suci. Ini adalah kebajikan yang tidak boleh ditinggalkan gereja. Akan tetapi Injil membingkai ulang cara kita seharusnya memahami penggambaran kuda dalam budaya Tionghoa.

Orang Kristen Tionghoa tidak boleh hanya berfungsi sebagai kuda perang yang didorong menuju kesuksesan. Dalam segala hal yang kita lakukan untuk Allah, kita harus dibentuk oleh kasih, dibatasi oleh kerendahan hati, dan ditopang oleh ketenangan.

Seperti nabi Yeremia, yang menyerahkan hidupnya sepenuh hati sebagai tanggapan terhadap panggilan Allah untuk “berlari bersama kuda-kuda,” seperti yang dikatakan Eugene Peterson (Yer. 12:5), kita dapat menjalani hidup dengan tujuan dan keunggulan, tenang dalam keyakinan bahwa Allah telah memegang kemenangan tertinggi atas dosa dan kejahatan melalui Yesus Kristus.

Xiaoli Yang adalah seorang teolog, pembimbing rohani, dan penyair Tionghoa-Australia. Publikasi terbarunya termasuk Chinese Christian Witness: Identity, Creativity, Transmission and Poetics.

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui email, Facebook, X, Instagram, atau Whatsapp.

Our Latest

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Mencari Kemakmuran dengan Benar selama Perayaan Tahun Baru Imlek

Tidaklah salah untuk merayakan berkat yang kita terima. Namun para teolog dan pendeta Asia memberikan nasihat tentang bagaimana melakukannya dengan cara yang alkitabiah dan berkenan kepada Allah, di tengah tradisi angpao merah dan ucapan-ucapan selamat.

Di Mana Hatimu Berada, Di Situ Juga Kebiasaanmu Berada

Elise Brandon

Kita tidak akan mau berubah sampai kita tahu mengapa kita perlu melakukannya dan apa yang menjadi tujuan kita.

Memberi Berasal dari Allah

Sam Storms

Pelayanan memberi membangkitkan rasa syukur kepada Allah karena sumbernya berakar pada anugerah-Nya.

Rencanakan Pembacaan Alkitab Tahun Ini untuk Mengejar Ketekunan, Bukan Kecepatan

J. L. Gerhardt

Rencana membaca Alkitab selama dua belas bulan dari Kejadian-Wahyu memang populer, tetapi kebanyakan orang Kristen akan bertumbuh lebih dekat dengan Allah dan Firman-Nya jika membaca lebih perlahan.

News

50 Negara Paling Berbahaya bagi Orang Kristen di Tahun 2026

Dari Suriah hingga Sudan, orang-orang percaya di seluruh dunia menghadapi penindasan dan penganiayaan yang semakin meningkat.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube