Church Life

Adven Memanggil Kita Keluar dari Keputusasaan

Duduk dalam kegelapan membantu kita untuk benar-benar menghargai terang.

A baby hand in hay
Christianity Today November 20, 2025
Illustration by Mallory Rentsch Tlapek / Source Images: Getty

Sebagai seorang anak yang tumbuh di Gereja Reformed Episkopal, hari pertama Adven terasa indah tetapi sedikit aneh. Pada kebaktian malam di gereja, kami menyanyikan himne paling menyedihkan, “O datanglah Imanuel / tebus umat-Mu, Israel.” Lagu-lagu di Adven pertama selalu berupa lagu-lagu yang mengeluh tentang dosa dan ketertawanan kita, dan, ya, lagu-lagu himne itu terdengar suram.

Demikian pula dengan Bacaan Alkitab Adven—seperti Bacaan Adven dari Yesaya 30:1, “Celakalah anak-anak pemberontak, demikianlah firman TUHAN, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan dari pada-Ku, yang memasuki suatu persekutuan, yang bukan oleh dorongan Roh-Ku, sehingga dosa mereka bertambah-tambah.” Kala itu saya hanya seorang anak kecil, tetapi saya pikir ini adalah cara yang sangat aneh untuk memulai masa Natal.

Bagaimana mungkin kita menghargai karunia Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dari dosa-dosa kita kecuali pertama-tama—seperti saat ini—kita meluangkan waktu untuk mengingat kita perlu diselamatkan dari apa?

Dapatkan pembaruan harian dalam Bahasa Indonesia langsung di ponsel Anda! Bergabunglah dengan kanal WhatsApp kami.

Allah ingin kita memahami betapa dalam dan luasnya pelanggaran kita terhadap-Nya serta berhadapan langsung dengan keadaan kita yang benar-benar tanpa harapan. Dia ingin kita mengakui situasi kita yang menyedihkan dan patut disesali ini, memahami bahwa dosa kita menyinggung Dia dan bahwa murka-Nya ada atas kita. Bahwa tanpa Yesus, kita ditawan oleh sang Musuh.

Saya tahu bagaimana rasanya ditawan oleh situasi yang menyedihkan dan patut disesali. Puluhan tahun yang lalu, ketika penyelaman yang sembrono membuat saya lumpuh pada usia 17 tahun, dunia saya menjadi gelap. Keputusasaan saya terasa seperti jurang tanpa dasar. Saya kehilangan kehidupan yang saya kenal sebelumnya—berkuda, berolahraga, dan mendaki gunung menyaksikan keindahan ciptaan Allah. Namun, sekarang? Saya merasa diperbudak oleh hukuman seumur hidup quadriplegia.

Berbaring di rumah sakit rehabilitasi setelah kecelakaan itu, saya ingin mengakhiri hidup. Karena tidak mampu melakukannya, saya memutuskan untuk mengakhiri hidup saya secara rohani. Saya menyuruh ibu saya menutup pintu dan tirai. Saya ingin menutup cahaya—menutup seluruh dunia. Saya merasa terhilang.

Hanya ketika kita menghargai fakta bahwa kita terhilang, barulah kita dapat sepenuhnya merayakan bahwa kita telah ditemukan. Mungkin itulah mengapa Yakobus berkata, “Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah” atas dosa-dosamu, dan Allah “akan meninggikan kamu” (4:9,10). Hanya ketika kita menghadapi keterhilangan kita, barulah kita dapat berkata,

Hai dunia, gembiralah dan sambut Rajamu!

Di hatimu terimalah!

Bersama bersyukur,

Bersama bersyukur,

Bersama-sama bersyukur!

Ada suatu metode di balik misteri Adven. Seiring berjalannya setiap minggu Adven, Kitab Suci—dan nyanyian pujian—berubah dari suram menjadi gembira. Puji-pujian itu menjadi lebih ringan, lebih bahagia, dan penuh harapan. Bahkan nada Kitab Suci berubah menjadi panggilan yang penuh harapan dalam Yesaya 40:3: “Ada suara yang berseru-seru: ‘Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!’” Dan dalam Yesaya 41:10, Allah berkata kepada para tawanan, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

Perjalanan melalui Adven mengajarkan bahwa kita membutuhkan Yesus. Sang Terang Dunia akan datang untuk membebaskan para tawanan.

Seiring mendekatnya tanggal 25 Desember, kini saatnya untuk merenungkan cara kita menantikan Kristus dalam kegelapan penawanan kita dan berespons terhadap terang-Nya yang kekal.

Kita semua memiliki respons yang berbeda terhadap inkarnasi Anak Allah. Apakah Anda sedang mencari? Ingin mendekat? Atau apakah Anda acuh tak acuh—hampir tidak peduli bahwa Natal telah tiba lagi?

Orang-orang mungkin menanggapi kedatangan Yesus dengan cara yang sama. Renungkan jawaban yang diberikan orang-orang ketika mereka mendengar tentang apa yang terjadi di Betlehem. Ada banyak orang, seperti pemilik penginapan, yang tidak peduli sama sekali. Dia punya pekerjaan yang harus dilakukan, panci yang harus dicuci, seprai yang harus diganti, barang yang harus diambil di pasar.

Yang lain kejam dan bahkan jahat, seperti Herodes. Dia melakukan segala upaya untuk menghentikan perayaan tersebut, memburu Raja yang disebut-sebut itu, dan mengakhiri peristiwa yang telah Allah atur.

Namun ada pula yang ketakutan—seperti para gembala. Baru setelah para malaikat berusaha keras menjelaskan apa yang sedang terjadi, ketakutan mereka mereda.

Ada yang penasaran, seperti orang majus—tipe orang-orang yang mencari tahu. Mereka dengan tulus ingin tahu apa yang sedang terjadi. Mereka merasa ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang penting, telah terjadi. Dan mereka tahu, bahkan tanpa Alkitab untuk membimbing mereka, bahwa hal itu akan membawa perubahan besar bagi dunia.

Beberapa orang menantikan, seperti Simeon di Bait Allah. Ada pula berharap, seperti Hana, sang nabi perempuan. Namun yang lainnya, seperti Maria dan Yusuf, tahu jawaban atas “Anak siapakah ini?” dan menyembah Sang Bayi kecil yang tertidur di pelukan ibu-Nya.

Apakah Anda, seperti pemilik penginapan, terlalu sibuk untuk meluangkan waktu merayakan kelahiran Kristus dengan sungguh-sungguh? Atau seperti Maria dan Yusuf, apakah Anda meluangkan waktu untuk menatap keluar dari kesuraman pergumulan sehari-hari Anda untuk merenungkan keagungan terang Allah yang sempurna?

Keajaiban yang telah menerangi sejarah manusia juga menerangi hati kita yang letih. Allah yang melimpahi alam semesta telah mencurahkan diri-Nya ke dalam daging seorang bayi. Yang Mahatinggi dan Mahakudus yang menyelimuti diri-Nya dalam terang-Nya yang memukau, yang kereta perang-Nya adalah angin dan api, yang melintasi langit di atas badai dan kilat, yang mengguncang dasar bumi—Dia kini telah masuk ke dalam sejarah manusia. Yesus telah mendarat di planet yang kacau, rapuh, dan bising ini. Anda dapat mendengar jejak kaki Natal-Nya jika Anda berhenti, melihat, mendengarkan, dan berdiam diri.

Malam ini, kenakanlah pakaian hangat Anda dan pergilah ke luar. Pandanglah bintang-bintang dan renungkan: Langit malam yang sama di atas kepala Anda, menatap ke bawah pada keajaiban Natal itu, lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Kemudian, jika Anda bisa, nyanyikanlah, “Malam kudus, sunyi senyap,” dari lubuk hati Anda.

Karena malam itu di Betlehem, Roh Tuhan telah menyerbu hati Anda dan tinggal di dalam jiwa Anda. Dia dengan berani masuk ke dalam dosa Anda, menyebut dosa itu apa adanya, dan menantang Anda untuk meninggalkannya.

Maka datanglah, ya, datanglah, Imanuel! Di masa Adven yang mulia ini, kiranya kami menyadari kembali betapa kami membutuhkan Engkau, Juru Selamat kami, dan kiranya kami mengakui kondisi kami yang putus asa. Hanya dengan demikian, maka kami dapat benar-benar memiliki Natal yang sangat membahagiakan.

Joni Eareckson Tada adalah pendiri dan CEO Joni and Friends, sebuah organisasi Kristen nirlaba yang berkomitmen menjangkau dan melayani orang-orang disabilitas dengan pertolongan praktis dan kasih Yesus yang menyelamatkan.

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui email, Facebook, X, Instagram, atau Whatsapp.

Our Latest

Memberi Berasal dari Allah

Sam Storms

Pelayanan memberi membangkitkan rasa syukur kepada Allah karena sumbernya berakar pada anugerah-Nya.

Ringkasan Penelitian: 6 Poin Penting tentang Manfaat Bersyukur

Stefani McDade

Semakin banyak akademisi yang mempelajari praktik mengucap syukur. Inilah yang mereka sampaikan.

Bersyukur Mengubah Keinginan Kita

Kent Dunnington dan Ben Wayman

Orang Kristen menyembah Pemberi yang aneh, yang mengaruniakan pemberian-pemberian yang aneh dengan cara yang aneh.

Air mata Natal

Jonah Sage

Kehidupan Yesus dimulai dan diakhiri dengan air mata, supaya melalui kebangkitan, hari-hari kita yang penuh air mata akan dihitung.

Tak peduli betapa pun gelapnya

Russ Ramsey

Betapa pun gelapnya dunia ini, kita dikenal dan diperhatikan oleh Allah yang menciptakan kita dengan begitu ajaib dan mengetahui kebutuhan kita yang terdalam.

Undangan untuk percaya

Barnabas Piper

Ketika seorang peragu yang sedang bergumul lalu membawa keraguannya kepada Yesus dan meminta pertolongan, Yesus tidak menolak atau menghakimi dia atas pergumulannya.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube