Terang yang Menakutkan dan Membebaskan

Renungan Adven, 14 Desember 2022.

Kumpulan Renungan Adven 2022.

Kumpulan Renungan Adven 2022.

Christianity Today December 14, 2022
Stephen Crotts

Minggu 3: Terang Dunia


Kitab Suci memakai tema gelap dan terang untuk menggambarkan Sang Pribadi yang Dijanjikan—dan Yesus mengidentifikasi diri-Nya sebagai terang yang dinubuatkan ini. Di dalam Dia, kita mengalami keselamatan dan iluminasi rohani. Namun Yesus bukan hanya terang bagi kita sebagai individu—Ia adalah terang bagi segala bangsa. Yesus adalah Terang Dunia.

Baca Yohanes 3:16–21

Barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah. Yohanes 3:21

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia …

Kemungkinan besar Anda dapat menyelesaikan kalimat tersebut tanpa berpikir dua kali. Yohanes 3:16 bisa dibilang merupakan ayat yang paling terkenal dalam Alkitab—tetapi ayat ini tidak berdiri sendiri. Meskipun ayat-ayat lain dari Yohanes 3 ini kurang terkenal, namun ayat-ayat tersebut memberi kita suatu kebenaran yang menenangkan dan penuh harapan:

Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang…. Tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah. (ay. 19, 21)

Pengalaman manusia adalah percampuran paradoks dari cinta akan kegelapan dan kebutuhan akan terang. Dan realitas ini bukan hanya benar di luar sana, di antara manusia yang berdosa. Realitas ini juga benar di sini—di hati, pikiran, dan jiwa saya, dan Anda. Rasul Paulus dengan tepat menggambarkan ketegangan yang meluas dan universal ini, “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (Rm. 7:15). Kita semua pernah mengalami hal ini. Bahkan kita masih mengalaminya.

Terang dapat menyingkapkan dan menerangi, membuatnya menjadi menakutkan dan membebaskan secara simultan. Fisikawan Amerika Richard Feynman berkata, “Prinsip pertama adalah Anda tidak boleh membodohi diri sendiri—dan Anda adalah orang yang paling mudah untuk dibodohi.” Jika pernyataan dia benar—dan saya yakin dia benar—maka terang yang menakutkan dan membebaskan inilah yang kita butuhkan. Terang ini menyingkapkan kesombongan kita dan menerangi rasa malu kita, yang telah melanda kita sejak awal kisah manusia.

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui email, Facebook, Twitter, atau Telegram.

Dalam narasi penciptaan di kitab Kejadian, Tuhan menciptakan dunia yang baik dan menempatkan Adam serta Hawa sebagai pusat ciptaan, sebagai pembawa citra-Nya, yang dipanggil untuk menghasilkan potensi terbaik bumi. Akan tetapi ketika manusia pertama ini berdosa terhadap Tuhan, hal itu disebabkan karena mereka percaya kebohongan bahwa mereka bisa menjadi “seperti Tuhan” (Kej. 3:5). Inilah kesombongan. Dan kesombongan itu pasti mengarah ke mana? Langsung menuju rasa malu. “Aku menjadi takut karena aku telanjang. Sebab itu aku bersembunyi,” kata Adam (3:10).

Yesus, Sang Terang, telah datang untuk membebaskan kita dari gelapnya kesombongan dan rasa malu. Terang telah datang untuk memberi tahu kita kebenaran—bahwa kita diampuni, diterima, dikasihi. Sang Terang telah datang untuk membatalkan malapetaka akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa dan untuk memberlakukan dunia baru yang baik dari Tuhan, di mana kita semua bisa tinggal di dalamnya.

Jay Y. Kim melayani sebagai gembala jemaat di WestGate Church. Dia adalah penulis Analog Church dan Analog Christian serta tinggal di Silicon Valley bersama keluarganya.

Renungkan Yohanes 3:16–21.


Seberapa menakutkannya terang Tuhan? Bagaimana terang itu dapat membebaskan? Bagaimana konteks jauh dari ayat 16 memperdalam pemahaman Anda tentang identitas dan tujuan Yesus?

Diterjemahkan oleh Joseph Lebani.

Our Latest

Laetare!

Jonathan Pennington

Tema menemukan sukacita sekalipun di tengah dukacita berada di inti dari visi Kristen tentang kehidupan.

Salib di Zaman ‘Kekacauan Spiritual’

J. D. Peabody

Karya teolog abad ke-20, P.T. Forsyth, mengingatkan umat Kristen saat ini untuk menempatkan salib di depan dan dunia di belakang.

Kasih yang Tak Akan Melepaskan

Simon Chan

Maria Magdalena berpegang teguh pada Kristus yang bangkit dan pergi untuk bersaksi.

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Mencari Kemakmuran dengan Benar selama Perayaan Tahun Baru Imlek

Tidaklah salah untuk merayakan berkat yang kita terima. Namun para teolog dan pendeta Asia memberikan nasihat tentang bagaimana melakukannya dengan cara yang alkitabiah dan berkenan kepada Allah, di tengah tradisi angpao merah dan ucapan-ucapan selamat.

Di Mana Hatimu Berada, Di Situ Juga Kebiasaanmu Berada

Elise Brandon

Kita tidak akan mau berubah sampai kita tahu mengapa kita perlu melakukannya dan apa yang menjadi tujuan kita.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube