Kesukaan Besar untuk Segala Bangsa

Renungan Adven, Hari Natal.

Christianity Today December 25, 2021

Untuk mengunduh kumpulan renungan “Berita Injil di Masa Adven,” klik di sini.

Minggu Adven 4: Inkarnasi & Kelahiran


Minggu ini, kita melangkah ke dalam peristiwa Kelahiran Yesus dan merenungkan mukjizat sang Firman yang kekal itu datang ke dunia sebagai seorang anak manusia. Kita mempelajari pelajaran iman dari orang-orang yang Tuhan pilih untuk mengambil bagian dalam peristiwa ini. Dan kita merayakan kabar baik tentang sukacita yang besar bagi semua orang!

Hari Natal

Baca Lukas 2:8–20

Suasana melimpah dari bagian ini adalah sukacita. Tuhan mengutus Anak-Nya ke bumi, dan perayaan surgawi meluap ke dunia dengan pujian dan kemuliaan yang menakjubkan.

Dan ditujukan kepada siapakah kabar menggembirakan itu? Bukan kepada manusia yang paling mulia, melainkan kepada yang normal, biasa, dan bahkan sangat sederhana. Teks ini seakan berbau hewan, dari domba-domba para gembala hingga palungan, tempat bayi Yesus diletakkan. Namun Natal adalah gambaran yang menakjubkan dari Injil: Tuhan tidak meninggalkan ciptaan-Nya, melainkan pergi menempuh jarak yang jauh, membayar harga yang sangat besar, demi menebus ciptaan-Nya secara pribadi.

Lukas mencatat berbagai respons terhadap proklamasi kelahiran Yesus ini. Dapat dipahami, yang dirasakan para gembala adalah ketakutan, karena mereka diperhadapkan pada makhluk yang sangat berbeda dengan mereka. Tetapi ketakutan mereka segera digantikan dengan hasrat yang besar. Bagaimanapun, kedatangan Yesus yang pertama ini tidak seperti yang kedua. Kedatangan Kristus yang kedua akan membawa penghakiman bagi semua orang, sedangkan kedatangan-Nya yang pertama ini menawarkan sukacita bagi seluruh bangsa, dan menghasilkan damai sejati dan abadi bagi mereka yang meresponinya (ay. 10, 14).

Ketekunan para gembala untuk mencari tanda itu pun terbayarkan ketika mereka menemukan keluarga Yesus, seperti yang dikatakan malaikat. Tetapi para gembala tidak menyimpan berita itu untuk diri sendiri. Dengan bersemangat mereka melaporkan apa yang dikatakan malaikat itu kepada mereka. Inilah inti proklamasi Injil: mendengarnya sendiri, mengalami bahwa Allah menepati firman-Nya, dan membagikan kabar baik jaminan keselamatan itu kepada orang lain.

Mereka yang mendengar kesaksian para gembala itu pun tercengang (ay. 18). Ini tidak berarti mereka paham sepenuhnya apa yang dikatakan malaikat kepada para gembala tentang bayi itu: Juru Selamat, Mesias, Tuhan. Mungkin bagi sebagian orang, kemuliaan itu terlalu samar karena mereka hanya mendengarnya dari gembala sederhana (dan bukan sejumlah besar malaikat) dan hanya melihat bayi biasa yang baru lahir. Namun Tuhan memanggil kita untuk hidup dengan iman di dalam Dia, bukan dengan melihat.

Tetapi Maria, meresponinya dengan menyimpan semua itu di hatinya, dan merenungkan di pikirannya. Lalu para gembala pun menyudahi perjalanan misi spontan mereka dengan memuji dan memuliakan Tuhan. Kristus Tuhan, Juru Selamat kita, menjadi manusia demi kita dan datang untuk memberi damai bagi kita. Kiranya respons kita hari ini—seperti para gembala—bergema dalam sukacita, pujian, dan kemuliaan!

Rachel Gilson melayani dalam tim kepemimpinan Cru untuk pengembangan teologi dan budaya. Ia adalah penulis buku Born Again This Way: Coming Out, Coming to Faith, and What Comes Next.

Renungkan Lukas 2:8–20.


Renungkan semua yang Anda baca dan pikirkan selama Adven.
Pujian yang bagaimana yang ingin Anda panjatkan kepada Tuhan?
Bagaimana Anda membagikan Kabar Baik ini kepada orang lain?
Berdoalah dan bersukacitalah!

Diterjemahkan oleh: Maria Fennita S.

Our Latest

Hamba yang Menderita Hanya Dapat Dipahami dalam Konteks Tritunggal

Doktrin Kristen yang historis dapat menolong kita untuk melihat kebaikan Allah dalam peristiwa Jumat Agung

Minyak Narwastu Maria Menuntun Kita kepada Salib

John D. Witvliet

Tindakannya yang luar biasa itu menjadi teladan pengabdian yang sepenuh hati.

News

Wafat: Chuck Norris, Ikon Maskulinitas Amerika yang Kembali kepada Iman

Cody Benjamin

Bintang film laga ini melambangkan citra pertarungan yang jelas antara pihak yang baik dan jahat.

Kehancuran Tidak Memiliki Kata Terakhir

Cory Wilson

Kebangkitan adalah pernyataan bahwa kematian tidak dapat menahan Yesus karena memang kematian tidak mampu menahan-Nya.

Laetare!

Jonathan Pennington

Tema menemukan sukacita sekalipun di tengah dukacita berada di inti dari visi Kristen tentang kehidupan.

Salib di Zaman ‘Kekacauan Spiritual’

J. D. Peabody

Karya teolog abad ke-20, P.T. Forsyth, mengingatkan umat Kristen saat ini untuk menempatkan salib di depan dan dunia di belakang.

Kasih yang Tak Akan Melepaskan

Simon Chan

Maria Magdalena berpegang teguh pada Kristus yang bangkit dan pergi untuk bersaksi.

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube