Misi Sang Mesias

Renungan Adven, 16 Desember 2021.

Christianity Today December 16, 2021

Untuk mengunduh kumpulan renungan “Berita Injil di Masa Adven,” klik di sini.

Minggu Adven 3: Pengorbanan & Keselamatan


Tuhan berbicara melalui para nabi di Perjanjian Lama, menggunakan kata-kata puitis dan penggambaran, untuk mengutarakan pengharapan akan keselamatan. Minggu ini, kita merenungkan nubuatan-nubuatan yang menunjuk kepada Mesias—sang Hamba, Terang, Pribadi yang dijanjikan Allah dan yang dirindukan oleh umat-Nya.

Baca Yesaya 61:1-4, 8-11

Berbagai perdebatan sering muncul tentang misi gereja. Apakah kita seharusnya menginjili atau memperjuangkan keadilan? Perlukah orang Kristen memprioritaskan pengampunan dosa atau merawat orang sakit? Perdebatan-perdebatan ini memiliki akar yang mendalam pada perpecahan masa lalu tentang teologi dan misi. Secara umum, satu kelompok sangat gigih memperjuangkan tentang memberi makan orang yang kelaparan, namun tidak peduli pada persoalan kelahiran Yesus dari perawan Maria. Kelompok yang lain malah sebaliknya.

Kelompok yang satu memberi diri mereka untuk memperbaiki dunia, dan yang lain memilih mengutamakan janji surgawi di akhirat.

Kedua belah pihak yang berpecah ini telah ditegur oleh Yesus. Ketika Ia pergi ke sinagoga dan membaca Yesaya 61, Ia mengumumkan misi-Nya. Roh Tuhan telah mengurapi-Nya untuk menyampaikan “kabar baik kepada orang-orang miskin;…memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang’” (Luk. 4:18–19). Yesus menunjukkan bagaimana kerajaan Allah itu membawa pengampunan dan pembebasan, penyembuhan dan pengharapan—semua tanda dari pembaruan ciptaan yang akan datang.

Yesaya sendiri memandang ke depan, kepada hari ketika Allah menjadikan langit baru dan bumi baru di mana “seluruh umat manusia” akan datang dan menyembah (Yes. 66:22-23).

Meski Yesaya dan umat Israel yang bersamanya membayangkan hal itu terjadi dalam satu peristiwa, namun Allah di dalam Kristus—Pribadi yang Diurapi!—sedang memulai sebuah pemerintahan yang puncaknya kelak akan terjadi pada waktu penciptaan dunia kembali.

Dan Ia akan memulai dengan kita—melalui hubungan antara Allah dengan manusia yang merupakan inti dari penciptaan. Ia akan bekerja melalui orang-orang yang dibenarkan untuk membawa keadilan. Orang-orang yang “ditetapkan benar” bergabung bersama Tuhan dalam karya-Nya untuk menata dunia dengan benar.

Namun dalam menyampaikan penggenapan dari nubuat Yesaya, Yesus juga menunjuk kepada diri-Nya sendiri sebagai pembawa kerajaan tersebut. Ini bukan sekadar proyek perbaikan sosial. Perombakan total dari dunia dan sistemnya akan dimulai dari benih yang jatuh ke tanah dan mati (Yoh. 12:24). Hanya Mesias saja yang meresmikan kerajaan itu.

Misi sang Mesias, Pribadi yang Diurapi Roh, dilanjutkan oleh umat-Nya, umat yang diurapi-Nya. Lukas menyejajarkan kisah ini dalam kitabnya yang kedua ketika berbicara tentang Roh yang mengurapi para pengikut Yesus di ruang atas. Dalam arti yang sebenarnya, misi gereja sesungguhnya bukanlah misi gereja semata, melainkan misi sang Mesias. Yesuslah yang memulainya; Yesus, yang oleh Roh telah memampukan kita untuk berpartisipasi di dalam misi tersebut; dan Yesus yang akan datang kembali dalam kemuliaan untuk membawa pemerintahan-Nya sampai pada puncaknya.

Glenn Packiam adalah seorang pendeta senior di New Life Church, Colorado Springs. Buku-buku dia di antaranya Worship and the World to Come dan The Resilient Pastor (Februari 2022).

Baca Yesaya 61:1–4, 8–11. (Opsi: Baca juga Lukas 4:14–21)


Pertimbangkan para pendengar zaman Yesaya: Harapan apa yang diberikan dari janji ini?
Apa yang ditekankan dari janji ini tentang karakter dan rencana Allah?
Apa yang berkesan bagi Anda hari ini ketika Anda membaca janji ini dalam terang Yesus dan Injil?

Diterjemahkan oleh: Budi Martono Winata

Our Latest

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Mencari Kemakmuran dengan Benar selama Perayaan Tahun Baru Imlek

Tidaklah salah untuk merayakan berkat yang kita terima. Namun para teolog dan pendeta Asia memberikan nasihat tentang bagaimana melakukannya dengan cara yang alkitabiah dan berkenan kepada Allah, di tengah tradisi angpao merah dan ucapan-ucapan selamat.

Di Mana Hatimu Berada, Di Situ Juga Kebiasaanmu Berada

Elise Brandon

Kita tidak akan mau berubah sampai kita tahu mengapa kita perlu melakukannya dan apa yang menjadi tujuan kita.

Memberi Berasal dari Allah

Sam Storms

Pelayanan memberi membangkitkan rasa syukur kepada Allah karena sumbernya berakar pada anugerah-Nya.

Rencanakan Pembacaan Alkitab Tahun Ini untuk Mengejar Ketekunan, Bukan Kecepatan

J. L. Gerhardt

Rencana membaca Alkitab selama dua belas bulan dari Kejadian-Wahyu memang populer, tetapi kebanyakan orang Kristen akan bertumbuh lebih dekat dengan Allah dan Firman-Nya jika membaca lebih perlahan.

News

50 Negara Paling Berbahaya bagi Orang Kristen di Tahun 2026

Dari Suriah hingga Sudan, orang-orang percaya di seluruh dunia menghadapi penindasan dan penganiayaan yang semakin meningkat.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube