Church Life

Air mata Natal

Kehidupan Yesus dimulai dan diakhiri dengan air mata, supaya melalui kebangkitan, hari-hari kita yang penuh air mata akan dihitung.

Christianity Today November 30, 2025
Illustration by Jill DeHaan

Tidak ada yang lebih mewakili mosaik pengalaman manusia sebaik air mata seorang bayi yang baru lahir. Kebingungan dan ketidaknyamanan berpadu dengan kegembiraan dan kemenangan di pipi mungilnya. Segera disertai oleh air mata sang ibu dan ayah, tetes tetes cairan sederhana ini mengandung seluruh keberadaan kita dan segala yang kita harapkan. Tangisan bayi menandai kemenangan semacam itu. Kehidupan baru telah hadir. Harapan ada di sini. Masa depan si kecil penuh dengan janji. Namun masih ada jalan panjang yang harus ditempuh sang ibu untuk pulih, jari-jari kaki yang terantuk dan lutut yang tergores saat si balita belajar berjalan, perkembangan bahasa, bertambahnya pengalaman, serta kekecewaan dan kehilangan yang tak terelakkan di tahun-tahun berikutnya. Cara kehidupan baru yang tiba di pagi Natal menunjukkan kepada kita apa yang Allah rasakan dan maksudkan bagi kita. Kehidupan baru itu membentuk harapan-harapan yang tak terucap di dalam imajinasi kita dan membisikkan rahasia tentang siapa kita sebenarnya.

Air mata seorang bayi mencari ibunya. Ketika Allah mendekat, keinginan pertama-Nya adalah pelukan yang menenangkan dari orang lain. Air mata Yesus mengingatkan kita bahwa Ia datang ke dunia untuk memeluk dan dipeluk oleh dunia. Yerusalem, Yerusalem, ratap-Nya kelak, berkali kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya (Mat. 23:37). Bayi yang menangis untuk dipeluk ibu-Nya itu tumbuh menjadi seorang pria yang menangis untuk memeluk kita juga.

Air mata bayi merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang salah. Tanpa kosa kata, yang bisa dilakukan anak hanyalah menangis. Tuhan dilahirkan dalam solidaritas dengan dunia yang tidak mampu mengekspresikan kedalaman penderitaan yang kita alami. Seolah-olah, ada erangan yang lebih dalam daripada kata-kata. Namun entah bagaimana, air mata seorang bayi dapat menangkap kedalaman itu dengan cukup jelas. Allah tidak tinggal di negeri yang jauh, melainkan datang mendekat untuk menderita seperti kita. Yesus tahu bagaimana rasanya menjadi kita.

Air mata Yesus pada hari Natal merupakan pengingat bahwa janji-janji Allah selalu digenapi. Ini bukanlah air mata yang terbuang dan sia-sia. Ini adalah air mata dari Dia yang datang untuk membawa kita ke suatu tempat di mana air mata kita akan dihapuskan. Ini adalah air mata dari Dia yang akan membuat jalan bagi kita untuk pulang. Natal mengingatkan kita bahwa Allah mengambil alih segala sesuatunya ke dalam tangan-Nya sendiri. Air mata Yesus yang baru lahir membawa kita kepada air mata kesepian-Nya di Getsemani, air mata penderitaan-Nya di kayu salib, dan mungkin bahkan air mata keputusasaan Maria di kubur Yesus. Kehidupan Yesus dimulai dan diakhiri dengan air mata, supaya melalui kebangkitan, hari-hari kita yang penuh air mata akan dihitung.

Inilah sebabnya kita menyanyikan “Hai dunia, gembiralah dan sambut Raja-Mu.” Dia datang seperti seorang ibu yang memeluk dunia yang air matanya tak terlukiskan. Dalam pelukan hangat itu, Dia menggendong kita, menghibur kita, menguatkan kita, dan memulihkan kita. “Ibu, mengapa engkau menangis?” Ia bertanya lembut kepada Maria (dan kepada kita). Sama seperti yang Ia lakukan kepada Maria, Ia akan memanggil setiap kita dengan nama kita (Yoh. 20:15–16). Dalam sekejap, dalam sekedipan mata, air mata penderitaan kita akan digantikan oleh air mata sukacita. Hidup baru telah datang. Harapan telah ada di sini—masa depan kita kini dipenuhi dengan janji. Kini di hari ini, kita membawa seluruh diri kita dan penggenapan penuh diri kita di masa depan. “Hai dunia gembiralah, dan sambut Raja-Mu.”

Jonah Sage adalah melayani sebagai salah satu pendeta di Sojourn Church di New Albany, Indiana. Ia menyelesaikan studi sarjana dalam filsafat di Miami University (Oxford, Ohio) dan memperoleh gelar master divinitasnya dari Southern Baptist Theological Seminary di 2013.

Klik di sini dan unduh renungan Natal kami secara gratis.

Our Latest

Hamba yang Menderita Hanya Dapat Dipahami dalam Konteks Tritunggal

Doktrin Kristen yang historis dapat menolong kita untuk melihat kebaikan Allah dalam peristiwa Jumat Agung

Minyak Narwastu Maria Menuntun Kita kepada Salib

John D. Witvliet

Tindakannya yang luar biasa itu menjadi teladan pengabdian yang sepenuh hati.

News

Wafat: Chuck Norris, Ikon Maskulinitas Amerika yang Kembali kepada Iman

Cody Benjamin

Bintang film laga ini melambangkan citra pertarungan yang jelas antara pihak yang baik dan jahat.

Kehancuran Tidak Memiliki Kata Terakhir

Cory Wilson

Kebangkitan adalah pernyataan bahwa kematian tidak dapat menahan Yesus karena memang kematian tidak mampu menahan-Nya.

Laetare!

Jonathan Pennington

Tema menemukan sukacita sekalipun di tengah dukacita berada di inti dari visi Kristen tentang kehidupan.

Salib di Zaman ‘Kekacauan Spiritual’

J. D. Peabody

Karya teolog abad ke-20, P.T. Forsyth, mengingatkan umat Kristen saat ini untuk menempatkan salib di depan dan dunia di belakang.

Kasih yang Tak Akan Melepaskan

Simon Chan

Maria Magdalena berpegang teguh pada Kristus yang bangkit dan pergi untuk bersaksi.

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube