Jennifer Lyell adalah seorang editor dan penulis dengan karier menjanjikan di dunia penerbitan Kristen. Namun kariernya harus terhenti setelah dia menuduh seorang mantan pemimpin Gereja Baptis Selatan melakukan pelecehan. Sabtu lalu, 7 Juni 2025, Jennifer wafat. Ia berusia 47 tahun.
“Jennifer meninggal dengan tenang dalam pelukan Penebusnya, dikelilingi oleh orang-orang terkasih,” kata temannya, Rachael Denhollander, yang mengatakan Lyell mengalami “serangkaian strok parah, yang menyebabkan dia pingsan pada Senin sore. Dia ditemukan pada Kamis malam setelah melewatkan janji temu dengan dokternya.”
Selama sebagian besar hidupnya di usia dewasa, Lyell telah menjadi sebuah kisah sukses denominasi Baptis Selatan. Dia bertobat di usia 20 tahun dalam KKR penginjilan Billy Graham, kuliah di seminari, bercita-cita menjadi misionaris, mengajar Alkitab kepada para pemudi dan anak-anak, dan menjadi wakil presiden di Lifeway, divisi penerbitan Konvensi Baptis Selatan (SBC). Di sana dia mengerjakan sekitar selusin buku terlaris New York Times, menurut biografi dari kariernya di Lifeway.
Pada tahun 2019, dia menjadi salah satu pemimpin wanita dengan posisi tertinggi di denominasi Protestan terbesar di Amerika itu. Lyell awalnya enggan terjun ke dunia penerbitan, setelah keinginannya menjadi misionaris tidak terpenuhi.
“Akhirnya, saya selalu diingatkan akan kenyataan bahwa hidup saya bukanlah milik saya sendiri. “Hidup saya dibeli dengan harga yang tak terbayangkan mahalnya,” katanya dalam profil yang diterbitkan oleh Southern Baptist Theological Seminary pada 2009, tempat Lyell meraih gelar magister teologi.
Saat masih di seminari tahun 2004, Lyell yang berusia 26 tahun bertemu dengan David Sills, seorang profesor berusia 40-an akhir yang menjadi mentor dan figur ayah pengganti baginya, yang juga menyambut Lyell ke dalam keluarganya. Sills juga menjabat sebagai presiden Reaching & Teaching International Ministries, sebuah lembaga pelayanan misi nirlaba.
Pada tahun 2018, Lyell memberi tahu para atasannya bahwa Sills diduga menggunakan kekerasan dan pengaruh spiritualnya untuk memaksa Lyell melakukan tindakan seksual tanpa persetujuan selama 12 tahun. Sills mengakui kesalahannya dan mengundurkan diri dari jabatannya di seminari dan sebagai presiden lembaga nirlaba tersebut, tetapi rincian kasus itu tidak diungkapkan ke publik.
Namun ketika Sills mendapat pekerjaan baru di sebuah pelayanan Kristen lain pada tahun berikutnya, Lyell membeberkan tuduhannya tentang pelecehan yang dialaminya, dengan menceritakan kisahnya kepada Baptist Press, sebuah media berita SBC. Alih-alih menggambarkan klaim Lyell sebagai pelecehan, artikel Baptist Press menyebut Lyell telah memiliki “hubungan yang tidak pantas secara moral” dengan seorang profesor seminari. Artikel tersebut kemudian ditarik dari peredaran dan Baptist Press pun meminta maaf.
Namun, kerusakannya tidak dapat ditarik. Lyell dicap sebagai wanita penggoda dan pezina yang menyesatkan seorang pemimpin Kristen. Dia dihujani kebencian, para pendeta dan gereja-gereja juga menyerukan agar dia dipecat. Seorang jurnalis aktivis terkemuka menerbitkan laporan yang menuduh bahwa Lyell kurang jujur dan berpendapat bahwa Sills telah kehilangan kesempatan untuk kembali ke pelayanan. Lyell akhirnya meninggalkan pekerjaannya di Lifeway di tengah kekacauan tersebut.
“Kami sedih mendengar kabar wafatnya Jennifer Lyell. Lifeway menyampaikan doa dan simpati terdalam kami kepada keluarga dan teman-teman Jennifer,” kata juru bicara Lifeway, Carol Pipes, dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu.
“Butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih dari trauma, dan tidak seorang pun yang seharusnya berada dalam posisi harus menjelaskan hal itu kepada publik sementara mereka masih berusaha pulih,” katanya kepada Religion News Service dalam sebuah wawancara di tahun 2021, di mana ia mengaku menyesal telah menceritakan kisahnya.
Kontroversi seputar artikel Baptist Press, serta tuduhan lain bahwa para pemimpin SBC telah menangani kasus pelecehan dengan buruk, mendorong denominasi tersebut untuk memerintahkan penyelidikan besar-besaran terhadap penanganan kasus pelecehan oleh Komite Eksekutif Konvensi Baptis Selatan. Laporan tahun 2022 yang diterbitkan oleh firma investigasi Guidepost Solutions menemukan bahwa para pemimpin SBC telah memperlakukan korban dengan buruk dan telah lama berusaha meremehkan masalah pelecehan dalam denominasi tersebut, yang menyebabkan dilakukannya serangkaian reformasi dalam SBC.
Namun, laporan itu membawa lebih banyak masalah baru bagi Lyell. Sills menggugat SBC dan para pemimpinnya setelah laporan Guidepost muncul, dengan mengatakan bahwa mereka telah bersekongkol untuk menjadikannya kambing hitam dan bahwa dia “bertobat dan taat.” Dia juga menggugat Lyell.
Lyell tidak pernah menarik kembali ceritanya. Awal tahun ini, dalam sebuah deposisi, dia merinci dugaan pelecehan tersebut dan bagaimana Alkitab telah digunakan untuk membungkamnya selama bertahun-tahun.
“Saya tidak perlu disumpah untuk mengatakan kebenaran—dan tidak ada kebohongan yang akan menggoyahkan keyakinan saya terhadap apa yang benar,” katanya dalam sebuah postingan di media sosial saat gugatan diajukan.
Lyell telah membangun kembali hidupnya setelah meninggalkan penerbitan Kristen, masuk sekolah hukum dan menemukan karier baru. Namun, seperti banyak wanita dewasa yang menuduh pemimpin spiritual pria melakukan pelecehan, dia terus dipandang dengan curiga. Kematiannya terjadi saat melambatnya reformasi protokol SBC mengenai pelecehan dan salah satu reformasi utama yang direncanakan, basis data untuk melacak para pemimpin pelaku kekerasan,tampaknya terhenti secara permanen.
Meski begitu, Lyell tidak pernah menyerah, kata Tiffany Thigpen, sesama penyintas. “Dia menginspirasi saya. Dia menyemangati saya. Dia membuat diri saya merasa lebih baik daripada yang saya kira pantas saya dapatkan. Dan saat saya mencoba menangkis kata-katanya, dia akan menghentikan saya dan berkata, ‘Tidak, berhenti. Saya ingin kamu mendengarkan saya,’” kata Thigpen melalui email.
Megan Lively, penyintas pelecehan lainnya, mengatakan bahwa temannya itu “lebih dari sekadar hal-hal buruk yang menimpa dirinya.” Dalam sebuah pesan teks kepada RNS, Lively menulis bahwa Lyell, yang menyukai musik Rich Mullins dan acara televisi West Wing, adalah seorang guru sekolah Minggu dan penulis The Promises of God Storybook Bible untuk anak-anak.
“Dia adalah salah satu orang paling cerdas dan dermawan yang pernah saya kenal. Dia mencintai Juru Selamatnya dan sekarang berada dalam damai,” kata Lively dalam sebuah pesan teks.
Lyell merupakan penyintas pelecehan SBC terkemuka kedua yang meninggal dalam beberapa bulan terakhir. Pada bulan Mei, Gareld Duane Rollins, yang tuduhan pelecehannya terhadap hakim Texas dan pemimpin Baptis Selatan Paul Pressler membantu memicu pembenahan terhadap pelecehan di denominasi Protestan terbesar di Amerika itu, meninggal setelah bertahun-tahun sakit.
Lyell tetap menjadi orang yang memiliki iman yang mendalam. Sebuah kutipan dari buku C.S. Lewis, The Lion, the Witch and the Wardrobe, menghiasi sepasang batu paving di halaman depan rumahnya. Kutipan tersebut menjelaskan bagaimana Aslan sang singa, yang menjadi gambaran dari figur Yesus dalam buku tersebut, telah bangkit dari kematian—dalam sebuah cerita yang paralel dengan Paskah.
“Ketika seorang korban yang rela, yang tidak pernah melakukan pengkhianatan, dibunuh sebagai pengganti seorang pengkhianat … Meja itu akan retak dan kematian itu sendiri akan mulai berbalik.”
Diterjemahkan oleh Denny Pranolo.