Mengurai Pancasila: Bagaimana Umat Islam dan Kristen di Indonesia Mengusahakan Persatuan?

Tiga pemimpin Islam dan tiga pemimpin Kristen secara terbuka membahas syariah, ekstremisme, dan identitas nasional di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Christianity Today December 22, 2023

In this series

Indonesia memiliki populasi umat muslim terbesar di dunia. Namun Islam bukanlah agama negara.

Sebaliknya, negara kepulauan yang berpenduduk lebih dari 273 juta jiwa ini didasarkan pada Pancasila, sebuah teori filosofis Indonesia yang terdiri dari lima prinsip: Ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan nasional, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan 87 persen populasi umat Islam Sunni dan 10 persen penduduk Kristen, Indonesia terkadang kesulitan menentukan bagaimana keharmonisan umat beragama bisa terwujud.

Dalam beberapa tahun terakhir, umat Kristen menjadi sasaran serangan teroris yang tersebar di berbagai wilayah, dilarang membangun gereja, dan didakwa dengan undang-undang penodaan agama. Open Doors menempatkan Indonesia pada peringkat ke-33 negara paling berbahaya bagi umat Kristen pada tahun lalu.

Pada saat yang sama, Presiden Joko Widodo telah berupaya untuk mendorong toleransi beragama dan meminta para kepala provinsi dan kabupaten untuk memastikan semua agama dapat beribadah dengan bebas. Tahun depan, pemerintah akan mengubah nama Yesus dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia untuk penyebutan hari raya umat Kristen.

Bagi banyak orang, Islam dan identitas nasional saling terkait erat: Survei Pew Research Center baru-baru ini mendapati 81 persen masyarakat Indonesia mengatakan bahwa menjadi muslim sangat penting untuk benar-benar menjadi orang Indonesia. Sebanyak 64 persen lainnya percaya bahwa syariah, atau hukum Islam, harus diterapkan sebagai hukum nasional.

Pada sisi lain, para peneliti Pew juga menemukan 60 persen masyarakat Indonesia menganggap agama Kristen sesuai dengan budaya dan nilai-nilai lokal. Masyarakat muslim Indonesia juga lebih khawatir terhadap pertumbuhan ekstremisme Islam (54%) dibandingkan pertumbuhan agama Kristen (35%).

Apakah perbedaan-perbedaan ini menunjukkan adanya pandangan terbuka terhadap pluralisme agama di kalangan umat Islam di Indonesia? Meskipun negara kepulauan ini memiliki kompleksitas dan tantangan yang semakin besar, seberapa dalam dialog antaragama dan kerja sama yang tulus dapat meningkatkan dan melestarikan kesepahaman di antara umat Kristen dan Muslim?

CT mewawancarai tiga pemimpin Islam moderat dan tiga pemimpin Kristen (biodata tercantum di bawah) mengenai berbagai topik termasuk peran syariah dalam masyarakat, hubungan antara agama dan identitas nasional, dan bagaimana umat Kristen dan Islam dapat bekerja sama demi kebaikan Indonesia.

Tanggapan mereka, yang telah diedit dan dipersingkat agar lebih jelas, dapat ditemukan dalam enam artikel seri khusus ini, tercantum di sebelah kanan layar komputer dan di bawah pada perangkat seluler.

Catatan Editor: Para pemimpin Islam yang termasuk dalam seri ini pernah berpartisipasi dalam dialog antar agama yang diadakan oleh Institut Leimena, sebuah wadah pemikir Kristen di Jakarta. Di Indonesia, Islam moderat membedakan dirinya dari Islam konservatif yang dalam hal ini berfokus pada kasih sayang untuk semua makhluk (

rahamatan lil ’alamin

) seraya menolak gagasan seperti khilafah (otoritas tunggal atas seluruh umat Islam di seluruh dunia) dan

kafir

(kafir). Hal ini juga berbeda dengan Islam liberal yang lebih mengedepankan nalar di atas wahyu dan semangat etika keagamaan Islam di atas makna harfiahnya. Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, menganut Islam moderat.

Responden Muslim:

KH Halim Mahfudz Pimpinan Pondok Pesantren Seblak Jombang dan Ketua Pengurus Wakaf Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur.

Inayah Rohmaniyah Dekan Fakultas Ilmu Islam dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga di Yogyakarta, Jawa Tengah.

Amin Abdullah Anggota Dewan Pertimbangan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Jakarta.

Responden Kristen:

Tantono Subagyo Pendeta sekaligus ketua Yayasan Suluh Insan Lestari (program literasi bahasa ibu) dan Yayasan Wijaya Kusuma Pratama (yang menaungi sekolah swasta) di Tangerang Selatan, Banten.

Ferry Mamahit Dosen Seminari Alkitab Asia Tenggara di Malang, Jawa Timur, dan direktur eksekutif Pusat Kajian Interdisipliner Agama dan Kebudayaan di Semarang, Jawa Tengah.

Farsijana Adeney-Risakotta Misionaris Gereja Presbiterian (AS), dosen Universitas Kristen Duta Wacana, dan pendiri Yayasan Griya Jati Rasa (koperasi dagang) di Yogyakarta.

Dengan bantuan pelaporan oleh Maria Fennita.

Diterjemahkan oleh Mellie Cynthia.

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui email, Facebook, Twitter, atau Instagram.

Also in this series

Our Latest

Ketika Identitas menjadi Pemberhalaan

Justin Giboney

Teologi-teologi yang memanjakan dan mengutamakan identitas kelompok tertentu bukanlah teologi yang benar. Teologi-teologi semacam itu menggeser Kristus dan merendahkan sesama kita.

 

Kelalaian Besar dalam Menjalankan Amanat Agung

Dengan jadwal yang padat, kelompok kecil yang penuh obrolan, dan saat teduh yang dipersonalisasi, kita telah mengabaikan kedisiplinan dalam mempelajari Alkitab.

Keteguhan Hati Kristus

Darrell L. Bock

Hal yang dapat kita pelajari dari penangkapan dan pengadilan Yesus tentang menghadapi penolakan.

Hamba yang Menderita Hanya Dapat Dipahami dalam Konteks Tritunggal

Doktrin Kristen yang historis dapat menolong kita untuk melihat kebaikan Allah dalam peristiwa Jumat Agung

Minyak Narwastu Maria Menuntun Kita kepada Salib

John D. Witvliet

Tindakannya yang luar biasa itu menjadi teladan pengabdian yang sepenuh hati.

News

Wafat: Chuck Norris, Ikon Maskulinitas Amerika yang Kembali kepada Iman

Cody Benjamin

Bintang film laga ini melambangkan citra pertarungan yang jelas antara pihak yang baik dan jahat.

Kehancuran Tidak Memiliki Kata Terakhir

Cory Wilson

Kebangkitan adalah pernyataan bahwa kematian tidak dapat menahan Yesus karena memang kematian tidak mampu menahan-Nya.

Laetare!

Jonathan Pennington

Tema menemukan sukacita sekalipun di tengah dukacita berada di inti dari visi Kristen tentang kehidupan.

addApple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseellipseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squarefolderGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintremoveRSSRSSSaveSavesaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube