Ideas

Kelalaian Besar dalam Menjalankan Amanat Agung

Columnist

Dengan jadwal yang padat, kelompok kecil yang penuh obrolan, dan saat teduh yang dipersonalisasi, kita telah mengabaikan kedisiplinan dalam mempelajari Alkitab.

A large branch of flowers growing out of an open book; the book also serves as a space where people gather, talk, and read.
Christianity Today April 12, 2026
Illustration by Valero Doval

Jika saya bertanya, bisakah Anda merangkum seluruh kisah Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu dalam lima menit atau kurang?

Bisakah Anda menyebutkan apa yang Allah ciptakan pada masing-masing dari enam hari penciptaan? Menyebutkan Sepuluh Perintah Allah secara berurutan atau nama-nama 12 anak Yakub? Menentukan di mana posisi Debora di antara 12 hakim dalam kitab Hakim-Hakim?

Siapakah yang menjadi raja ketika kerajaan Israel terpecah? Apa saja janji dalam setiap perjanjian Allah dengan manusia? Di antara mukjizat-mukjizat Yesus, mana yang dicatat di keempat Injil? Di mana Anda dapat menemukan Khotbah di Bukit?

Dapatkan pembaruan harian dalam Bahasa Indonesia langsung di ponsel Anda! Bergabunglah dengan kanal WhatsApp kami.

Jika pertanyaan-pertanyaan ini membuat Anda ingin mengambil ponsel dan mencari jawabannya di Google, Anda tidak sendirian. Krisis literasi Alkitab telah melanda gereja-gereja lokal dan membuat banyak orang Kristen tidak mampu mengingat informasi dasar yang terdapat dalam Alkitab. Sebagian orang mungkin tidak menganggap pengetahuan ini penting untuk dipelajari oleh orang Kristen, tetapi kesetiaan pada Amanat Agung menuntut perhatian kita.

Selama lebih dari 25 tahun mengajar literasi Alkitab di gereja lokal, saya sering mendengar jemaat dan peserta studi Alkitab mengaku, “Saya sudah seumur hidup di gereja, tetapi tidak seorang pun pernah mengajarkan saya hal ini.”

Kurangnya literasi Alkitab kita berkembang menjadi ketidaktahuan teologis. Ketika kita tidak mengenal Alkitab, maka kita juga akan kehilangan landasan teologis kita. Laporan State of Theology tahun lalu oleh Ligonier Ministries dan Lifeway Research memberikan gambaran yang mengkhawatirkan tentang pemuridan di gereja lokal. Dalam survei terhadap kaum Injili tentang keyakinan dasar Kristen, mereka menemukan bahwa:

  • Menanggapi pernyataan “Allah menerima penyembahan dari semua agama, termasuk Kristen, Yahudi, dan Islam,” 47% kaum Injili setuju.
  • Menanggapi pernyataan “Setiap orang dilahirkan dalam keadaan tidak bersalah di hadapan Allah,” 64% kaum Injili setuju.
  • Menanggapi pernyataan “Yesus adalah guru yang hebat, tetapi Dia bukan Allah,” 28% kaum Injili setuju.

Ada sesuatu yang salah. Setiap pernyataan tersebut sebenarnya dapat dengan mudah dibantah hanya dengan sedikit pengetahuan Alkitab. Bagaimana mungkin gereja-gereja kita dipenuhi oleh orang-orang yang aktif dan terlibat, tetapi memiliki dasar Alkitab yang begitu minim? Saya percaya hal ini terjadi karena kita telah melupakan beberapa kebenaran sederhana yang dulu dipahami oleh generasi orang percaya sebelumnya.

Pertama-tama, kita telah melupakan bahwa pemuridan membutuhkan proses belajar. Kita telah mereduksinya menjadi sekadar kehadiran, pelayanan, memberi, membangun relasi, dan diskusi yang didominasi oleh sesama jemaat di level perasaan. Padahal pada dasarnya, pemuridan adalah proses pembelajaran—proses memperbarui pikiran kita agar tidak lagi serupa dengan dunia.

Kita sering kali cenderung melihat Amanat Agung sebagai panggilan untuk membuat orang bertobat, padahal sebenarnya itu adalah panggilan untuk memuridkan—para pembelajar. Amanat itu secara jelas mensyaratkan agar mereka yang bertobat diajar untuk menjadi murid yang menaati segala sesuatu yang telah diperintahkan. Menurut Yesus, kita harus melakukan replikasi dengan meneruskan warisan iman yang berharga yang telah diteruskan kepada kita sebelumnya.

Pertobatan terjadi dalam sekejap. Namun pemuridan adalah pekerjaan seumur hidup. Ini melibatkan pewarisan iman turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Akan tetapi dalam banyak hal, kita gagal meneruskannya. Bahkan, 28% dari kita tidak percaya pada keilahian Kristus. Bagaimana kita bisa mengajarkan kepada orang lain apa yang kita sendiri belum pelajari?

Kita yang berada dalam kepemimpinan gereja terlalu sering menerapkan strategi pemuridan dengan menurunkan standar pembelajaran, karena menganggap orang terlalu sibuk untuk berkomitmen pada sesuatu yang membutuhkan usaha. Kita bahkan memohon dengan nada meminta maaf agar mereka mau mengikuti studi Alkitab enam minggu, dengan menjanjikan bahwa tidak akan ada pekerjaan rumah.

Padahal, orang-orang sebenarnya ingin melakukan hal-hal yang menantang. Mereka secara intuitif memahami bahwa sesuatu yang bernilai jangka panjang membutuhkan usaha. Mereka memberitakan “injil” CrossFit dan memuridkan orang lain dalam program Whole30. Mereka belajar bahasa asing dan alat musik. Mereka berlari maraton. Jutaan orang mengikuti tantangan 75 Hard, sebuah program kebugaran yang dirancang untuk membangun ketahanan dan kekuatan mental—yang secara terang-terangan menjanjikan kesulitan secara harfiah dalam namanya.

Disiplin tidak mati, melainkan hanya mengikuti pesan yang paling memikat. Kapan terakhir kali Anda melihat program pemuridan yang menjanjikan tantangan? Semua upaya kita untuk menurunkan standar dan meminta maaf justru gagal menyampaikan panggilan yang kuat. Sebaliknya, hal itu memberi kesan bahwa mempelajari Alkitab seharusnya mudah.

Berikut ini kuis singkat lainnya: Berapa kali Anda mempelajari atau mendengar seri khotbah tentang surat Efesus? Bagaimana dengan kitab 1 dan 2 Tawarikh?

Ada alasan di balik jawaban Anda: Surat Efesus itu singkat. Kitab-kitab di Alkitab yang pendek, terutama yang di Perjanjian Baru, sering dikhotbahkan atau diajarkan berulang kali, sementara kitab-kitab lain dibiarkan tidak tersentuh. Bahan Pemahaman Alkitab (PA) yang singkat lebih diminati karena lebih mudah “dijual”—terutama yang pendek, tematik, dan berfokus pada aplikasi praktis.

Ketika saya pertama kali diminta mempertimbangkan untuk menerbitkan salah satu bahan PA saya, saya diberi tahu bahwa para wanita tidak akan mau mengikuti PA lebih dari enam minggu. Bisakah saya mempersingkat bahan PA kitab Kejadian selama 22 minggu yang mencakup 50 pasal menjadi hanya 6 minggu dengan pengajaran 10 menit? Jawabannya adalah tidak.

Saya tahu para wanita akan bersedia mengikuti PA yang lebih panjang karena saya melihatnya sendiri setiap minggu di gereja saya. Namun, penerbit terdorong untuk menerbitkan apa yang laku dijual, dan seri khotbah sering dipilih berdasarkan apa yang cocok dengan kalender khotbah.

Sementara itu, kita telah terjebak dalam pembentukan yang keliru dari “budaya saat teduh.” Memiliki saat teduh memang bisa bermanfaat, tetapi sering kali hal itu membentuk orang menjadi pembaca Alkitab dengan gaya devosional. Buku-buku renungan sangat laris, dan ada alasannya. Buku-buku itu menggabungkan potongan kecil ayat Alkitab dengan wawasan singkat, meninggalkan pembaca dengan perasaan positif untuk memulai hari mereka: penghiburan, kepastian, harapan, dan inspirasi. Buku-buku mengenai kehidupan Kristen dan devosional menyumbang 41% dari penjualan buku Kristen, sementara buku-buku PA hanya 8,5%. Salah satu buku Kristen terlaris sepanjang masa adalah sebuah buku devosional yang telah terjual lebih dari 45 juta eksemplar.

Perenungan Alkitab yang bersifat devosional membatasi bagian-bagian Alkitab mana yang lebih banyak kita pelajari. Ada alasan mengapa tidak ada yang menulis buku renungan tentang kitab Imamat. Padahal seluruh Alkitab bermanfaat.

Budaya saat teduh juga menawarkan kepuasan instan jangka pendek. Budaya tersebut meninggikan interaksi pribadi dengan Alkitab sehingga kita menganggap waktu paling berharga dalam Firman Tuhan adalah secara pribadi, bukan bersama-sama. Jika Anda pernah terjebak dalam lingkaran diskusi kelompok kecil dengan pola “apa arti ayat ini bagi saya…,” Anda telah melihat dinamika ini terjadi.

Namun, bukankah menghadiri khotbah setiap minggu akan membangun pemahaman Alkitab kita? Ketika Lifeway bertanya kepada para pendeta tentang pendekatan yang digunakan gereja mereka untuk memuridkan orang dewasa, sebanyak 89% menjawab “khotbah”—20 poin lebih tinggi daripada jawaban berikutnya, yaitu “Sekolah Minggu.” Namun, 95% juga mengatakan bahwa pemuridan tidak diselesaikan dalam sebuah program, melainkan dalam relasi, dengan 69% percaya bahwa pemuridan paling efektif dilakukan dalam kelompok kecil yang beranggotakan tidak lebih dari lima orang percaya.

Mari saya jelaskan: Saya menyukai khotbah. Khotbah sangat penting bagi pembentukan rohani. Kita diberi makanan rohani melalui khotbah. Namun, jika Anda merasa kesulitan menjawab pertanyaan di awal artikel ini, kemungkinan besar khotbah saja tidak cukup untuk membangun literasi Alkitab.

Sebagian besar jemaat datang ke gereja pada hari Minggu dengan siap duduk dan mendengarkan khotbah mengenai suatu teks Alkitab yang belum mereka pelajari sendiri. Mereka duduk sebagai orang awam, yang bergantung pada sang pakar di mimbar untuk menerangi pemahaman mereka. Alih-alih melihat pengetahuan si pengkhotbah sebagai sesuatu yang bisa mereka pelajari juga, mereka menempatkannya sebagai pakar dan mereka tetap menjadi penerima pasif dari pengajarannya. Dia yang lulusan seminari, bukan saya. Saya tidak akan pernah bisa seperti itu.

Kesenjangan antara pakar dan awam ini juga dapat terjadi di kelas Sekolah Minggu dan PA—di mana pun orang-orang tidak terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Akhirnya, kita telah menaruh beban terlalu besar pada kelompok komunitas. Kelompok wilayah rumah, kelompok kecil di komisi, dll—apa pun sebutannya di gereja Anda—sangat baik dalam membangun komunitas, tetapi sangat lemah dalam membangun literasi Alkitab.

Sekitar 15 tahun yang lalu, model pelayanan kelompok ini mulai populer sebagai solusi atas kesibukan dan kurangnya kebersamaan di komunitas gereja. Namun, banyak gereja kemudian mengadopsinya sebagai alat praktis untuk pemuridan, bahkan menghapus lingkungan pembelajaran seperti Sekolah Minggu maupun PA..

Pada dasarnya, kelompok komunitas hanya mampu menjalankan diskusi yang dipimpin sesama anggota dan berfokus pada aplikasi praktis, dan kontrol kualitas dari model pelayanan yang organik ini sering kali tidak konsisten. Komunitas memang penting, tetapi tidak jika hal itu diperoleh dengan mengorbankan pembelajaran.

Semua ini terdengar cukup suram. Namun, solusi untuk tantangan-tantangan ini sebenarnya tidak sulit untuk dikenali. Di tengah berbagai eksperimen strategi pemuridan, gereja perlu kembali kepada dasar-dasar praktik pendidikan yang sehat.

Gereja harus mengingat bahwa gereja lebih dari sekadar tempat untuk penginjilan, misi, ibadah, dan pelayanan. Gereja adalah, dan selalu menjadi, tempat belajar, yang memastikan bahwa “Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu” (Mzm. 145:4). Kita tidak dapat meneruskan warisan iman yang baik jika kita sendiri belum menerimanya.

Dua ribu tahun pengajaran dan pewarisan iman yang setia adalah alasan mengapa siapa pun yang membaca ini bisa menjadi orang Kristen hari ini. Janganlah kita puas hanya dengan orang-orang yang baru percaya, tetapi tidak bertumbuh menuju kedewasaan rohani. Marilah kita menjawab panggilan untuk memuridkan, mengajar mereka dengan baik, dan mengambil bagian kita dalam kisah ini dengan tekun dan penuh perhatian. Tidak ada objek pembelajaran yang lebih indah atau materi yang lebih berharga. Tidak ada tugas yang lebih penuh sukacita. Biarlah generasi ini didapati setia.

Berikut lima saran bagi para pemimpin untuk memulihkan pembelajaran di gereja lokal:

1. Fokus pada Gereja Anda

Sadari bahwa masalahnya ada di jemaat Anda, bukan hanya di gereja lain. Mintalah jemaat Anda mengikuti kuis Alkitab sederhana untuk menguji pengetahuan mereka dan menilai kondisi literasi Alkitab di gereja Anda. Jangan seperti orang yang enggan pergi ke dokter karena takut mendengar kabar buruk. Lakukan pemeriksaan. Bagikan hasilnya kepada jemaat Anda. Lalu yakinkan mereka bahwa karena masalah ini bersifat umum, kita bisa maju bersama-sama. Ketegangan atau ketidaksesuaian inilah yang mendorong perubahan. Gunakan hal ini untuk membangun ekosistem pemuridan yang baru, di mana pembelajaran aktif benar-benar diupayakan.

2. Perjelas Istilah

Pahami perbedaan antara renungan, studi topikal, diskusi buku, dan Pemahaman Alkitab—lalu komunikasikan dengan jelas kepada peserta. Ketika semua jenis ini disebut sebagai “studi Alkitab,” peserta merasa sudah memenuhi kewajiban, padahal belum tentu mereka bertumbuh dalam literasi dan pengetahuan Alkitab mereka. Kejelasan adalah bentuk kepedulian. Bantulah jemaat mengenali kondisi mereka sendiri dengan menjelaskan perbedaan antara jenis-jenis kegiatan ini, kelebihan dan kekurangannya, serta hasil pembelajaran yang diharapkan.

3. Ajukan Pertanyaan yang Berbeda

Alih-alih bertanya “Apa yang diinginkan jemaat kita?”, tanyakan, “Bagaimana murid-murid dibentuk?” Apa yang penting untuk mereka ketahui? Dalam urutan apa mereka harus mempelajarinya? Apa sarana-sarana yang diperlukan untuk mengajarkannya dengan baik? Bayangkan jika Anda mengantar anak kelas dua SD ke sekolah, lalu diberi tahu bahwa anak-anak akan belajar matematika, membaca, dan sains dalam urutan dan kedalaman sesuai keinginan mereka sendiri, dengan sebagian besar waktu belajar berlangsung dalam kelompok kecil yang dipimpin oleh teman sebayanya. Anda pasti akan khawatir. Jalur pemuridan kita akan lebih efektif jika menggunakan kurikulum yang dirancang dengan gambaran besar pembelajaran yang jelas.

4. Hidupkan Kembali Lingkungan Pembelajaran Aktif

Ciptakan kesempatan belajar seperti di kelas, di mana para peserta terlibat aktif dalam proses pembelajaran melalui persiapan sebelumnya, diskusi kelompok yang mendalam, dan pengajaran yang dialogis. Meskipun ruang-ruang ini pasti akan membangun komunitas, jadikanlah pembelajaran sebagai tujuan utama. Dorong para pengajar untuk mengurangi kesenjangan antara yang ahli dan pemula dengan mengajarkan bagaimana mempelajari Alkitab—memberikan alat, bukan hanya informasi. Latih mereka agar melakukannya dengan baik. Ingatkan bahwa antusiasme mereka terhadap pembelajaran akan menular kepada para peserta. Ringankan beban khotbah yang selama ini ditanggung sepenuhnya oleh pendeta, dengan melatih dan memberdayakan imamat semua orang percaya.

5. Tingkatkan Standar

Bingkai ulang pemahaman tentang pemuridan sebagai sesuatu yang sulit tetapi berharga. Pulihkan kembali kehidupan intelektual jemaat dalam proses transformasi. Kita tidak dapat menyembah Allah yang tidak kita kenal. Kita tidak dapat menaati perintah yang belum kita dengar. Kita tidak dapat mengajarkan apa yang belum kita pelajari. Harapkan hal yang lebih tinggi dari jemaat, percayalah bahwa mereka mampu, dan panggil mereka menuju visi yang indah. Visi indah itu tidak lain adalah Amanat Agung itu sendiri.

Bantulah jemaat di gereja Anda untuk memahami peran mereka yang kecil namun penting dalam kesetiaan terhadap Amanat Agung. Karena ada orang-orang sebelum mereka yang setia menjalankan tugas pemuridan dengan sukacita, maka mereka dapat mendengar Injil. Di zaman dekonstruksi, kekecewaan, dan distraksi ini, ajaklah mereka masuk ke dalam iman yang bersejarah dan telah teruji oleh waktu. Itu adalah warisan mereka untuk diterima dengan sukacita, dan itu juga warisan yang harus mereka teruskan dengan tekun.

Jen Wilkin adalah seorang penulis, pengajar Alkitab, dan salah satu pembawa acara siniar Knowing Faith.

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui email, Facebook, X, Instagram, atau Whatsapp.

Our Latest

Keteguhan Hati Kristus

Darrell L. Bock

Hal yang dapat kita pelajari dari penangkapan dan pengadilan Yesus tentang menghadapi penolakan.

Hamba yang Menderita Hanya Dapat Dipahami dalam Konteks Tritunggal

Doktrin Kristen yang historis dapat menolong kita untuk melihat kebaikan Allah dalam peristiwa Jumat Agung

Minyak Narwastu Maria Menuntun Kita kepada Salib

John D. Witvliet

Tindakannya yang luar biasa itu menjadi teladan pengabdian yang sepenuh hati.

News

Wafat: Chuck Norris, Ikon Maskulinitas Amerika yang Kembali kepada Iman

Cody Benjamin

Bintang film laga ini melambangkan citra pertarungan yang jelas antara pihak yang baik dan jahat.

Kehancuran Tidak Memiliki Kata Terakhir

Cory Wilson

Kebangkitan adalah pernyataan bahwa kematian tidak dapat menahan Yesus karena memang kematian tidak mampu menahan-Nya.

Laetare!

Jonathan Pennington

Tema menemukan sukacita sekalipun di tengah dukacita berada di inti dari visi Kristen tentang kehidupan.

Salib di Zaman ‘Kekacauan Spiritual’

J. D. Peabody

Karya teolog abad ke-20, P.T. Forsyth, mengingatkan umat Kristen saat ini untuk menempatkan salib di depan dan dunia di belakang.

Kasih yang Tak Akan Melepaskan

Simon Chan

Maria Magdalena berpegang teguh pada Kristus yang bangkit dan pergi untuk bersaksi.

addApple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseellipseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squarefolderGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintremoveRSSRSSSaveSavesaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube