Church Life

Laetare!

Tema menemukan sukacita sekalipun di tengah dukacita berada di inti dari visi Kristen tentang kehidupan.

Lent 2026 - Fourth Sunday
Christianity Today March 10, 2026
Illustration by Jill DeHaan

“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat. 5:11–12).

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” (Yak. 1:2). “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya” (1Ptr. 4:13).

Dapatkan pembaruan harian dalam Bahasa Indonesia langsung di ponsel Anda! Bergabunglah dengan kanal WhatsApp kami.

Perintah untuk bersukacita di tengah kehilangan, kesedihan, dan kesukaran sering kali terasa mustahil untuk dilakukan, bahkan terdengar tidak berperasaan. Namun perintah ini berulang kali muncul di sepanjang Alkitab, termasuk dalam kutipan-kutipan dari Yesus serta dua pengikut-Nya yang terdekat, Yakobus dan Petrus. Seandainya kata-kata ini tersembunyi di suatu tempat yang tidak dikenal dalam Kitab Suci, mungkin kita akan dengan mudah mengabaikannya.

Namun, jauh dari sekadar gagasan yang muncul secara kebetulan, tema menemukan sukacita sekalipun di tengah dukacita dapat dikatakan berada di pusat dari pandangan hidup Kristen. Tema ini bukan hanya mewarnai banyak pengajaran Yesus, Yakobus, dan Petrus; kehidupan serta tulisan Paulus pun terus-menerus menyuarakan tema yang sama. Paulus berbicara tentang bersukacita dalam penderitaan kita (Rm. 5:3; Kol. 1:24) dan dikenal sebagai seorang yang lemah lembut serta penuh sukacita (2Kor. 7:4; 1Tes. 2:7), meskipun hidupnya dipenuhi berbagai kesukaran, kehilangan, dan kecemasan (2Kor. 11:23–28).

Realitas yang paradoks mengenai bersukacita dalam penderitaan ini—sebuah pengalaman yang hanya dapat benar-benar dipahami ketika dialami sendiri—sebenarnya terpusat dalam masa Prapaskah. Masa Prapaskah, yang disebut tradisi Ortodoks Timur sebagai “kesedihan yang bercahaya,” mengajak kita memasuki pengalaman yang tidak terduga dan tampak tidak alami yaitu sukacita di tengah dukacita. Di antara semua hari dalam Prapaskah, paradoks ini paling jelas terlihat pada Minggu keempat, yang secara tradisional disebut Minggu Laetare, berdasarkan seruan yang dinyanyikan: “Bersukacitalah!” Minggu Laetare berada tepat di titik tengah antara Rabu Abu dan Minggu Paskah, dan dengan sengaja menandai masa peringatan penderitaan ini dengan panggilan untuk bersukacita.

Mengapa demikian? Jauh dari sikap yang tidak peka terhadap kesedihan kita, Allah mengetahui dengan tepat apa yang Ia lakukan melalui perintah Prapaskah ini. Ketika kita mendengarnya dan berusaha menaatinya, kita menyelaraskan hati kita dengan kebenaran yang mendalam: Dukacita dan sukacita adalah saudara, bukan musuh. Kehilangan dan kegembiraan dapat hidup berdampingan secara harmonis, dan bahkan, keduanya saling memberi kehidupan dan energi. Sebagaimana dengan tajam dikatakan oleh Francis Weller, untuk hidup dan mengasihi berarti kita juga akan mengalami kesedihan dan kehilangan. “Mengakui kenyataan ini menolong kita menemukan jalan menuju anugerah yang tersembunyi di dalam dukacita. Kita paling benar-benar hidup ketika berada di ambang antara kehilangan dan penyingkapan.”

Yesus menjadi teladan bagi kita tentang kehidupan manusia seutuhnya, yang tidak menolak sukacita dunia maupun dukacitanya. Yesus tertawa, juga menangis. Ajaran-Nya banyak berbicara tentang apa artinya hidup dengan baik dan berkembang; tetapi secara paradoks, hidup berkembang seringkali tampak seperti kehilangan. (Lihat Ucapan Bahagia dalam Matius 5:3–12.)

Inilah undangan dari Minggu Laetare: Terbukalah terhadap kesedihan dan kehilangan yang diingatkan masa Prapaskah kepada kita. Namun pada saat yang sama, condongkanlah hati kepada sukacita pada titik pertengahan Prapaskah ini. Ada anugerah unik yang hanya dapat kita alami ketika kita dengan jujur mengakui kehilangan, kebutuhan, kekecewaan, dan keinginan yang tidak terpenuhi, namun tetap memandang ke atas dan ke depan kepada masa sukacita penuh yang akan datang. Masa Prapaskah yang panjang ini menolong kita memberi perhatian pada dukacita kita. Minggu Laetare mengingatkan bahwa bahkan sekarang pun ada sukacita yang mendalam untuk dialami dan bahwa dukacita ini bukanlah akhir dari kisah kita. Penderitaan Yesus akan membawa kepada kebangkitan-Nya, dan kebangkitan-Nya akan membawa kepada kebangkitan kita juga. “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. … Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulai dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr. 1:6, 8–9).

Jonathan Pennington adalah profesor Perjanjian Baru di Southern Seminary di Louisville, Kentucky. Ia juga melayani sebagai pendeta pengajar dan penatua di Sojourn East Church. Ia telah menulis banyak buku, di antaranya The Sermon on the Mount and Human Flourishing, Come and See: The Journey of Knowing God Through Holy Scripture, dan Jesus the Great Philosopher: Rediscovering the Wisdom Needed for the Good Life.

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui email, Facebook, X, Instagram, atau Whatsapp.

Our Latest

Salib di Zaman ‘Kekacauan Spiritual’

J. D. Peabody

Karya teolog abad ke-20, P.T. Forsyth, mengingatkan umat Kristen saat ini untuk menempatkan salib di depan dan dunia di belakang.

Kasih yang Tak Akan Melepaskan

Simon Chan

Maria Magdalena berpegang teguh pada Kristus yang bangkit dan pergi untuk bersaksi.

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Mencari Kemakmuran dengan Benar selama Perayaan Tahun Baru Imlek

Tidaklah salah untuk merayakan berkat yang kita terima. Namun para teolog dan pendeta Asia memberikan nasihat tentang bagaimana melakukannya dengan cara yang alkitabiah dan berkenan kepada Allah, di tengah tradisi angpao merah dan ucapan-ucapan selamat.

Di Mana Hatimu Berada, Di Situ Juga Kebiasaanmu Berada

Elise Brandon

Kita tidak akan mau berubah sampai kita tahu mengapa kita perlu melakukannya dan apa yang menjadi tujuan kita.

Memberi Berasal dari Allah

Sam Storms

Pelayanan memberi membangkitkan rasa syukur kepada Allah karena sumbernya berakar pada anugerah-Nya.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube