Seorang teman masa kecil meninggal karena penyakit kanker di usia 40-an, meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Seorang remaja menembak dan membunuh seseorang berusia 18 tahun di sebuah perpustakaan lokal. Seorang bayi yang baru lahir masih dirawat di rumah sakit, setiap harinya berjuang untuk hidup dan masih belum bisa pulang. Seorang rekan pendeta mengeluhkan beban para pemimpin di gerejanya yang bertindak sebagai penanggap pertama terhadap kekerasan geng remaja di kotanya yang kecil akibat kekurangan sumber daya polisi. Seorang teman lama dan penerjemah Alkitab di Afrika Barat berduka atas keponakannya yang diculik dan ditembak oleh kelompok jihad. Semua ini terjadi dalam kurun waktu beberapa minggu saja.
Anda pun memiliki kisah Anda sendiri. Keputusasaan terus-menerus menghampiri kita. Hilang harapan adalah sikap yang paling mudah dan masuk akal. Beban untuk sekadar bertahan hidup, apalagi berkembang, di dunia di mana tidak ada wilayah yang luput dari kemerosotan dan bau busuk kejatuhan manusia dalam dosa, sungguh sangat menyesakkan. Apa yang harus kita lakukan?
Ada dua respons yang paling umum terhadap realitas pengalaman manusia ini. Entah kita tertindas oleh beban dosa dan keterpurukan di dalam dunia, atau menepis keputusasaan dengan mengisolasi dan mengabaikannya karena takut hancur. Namun tak satupun dari dua pendekatan ini yang mengarah pada kesejahteraan.
Alkitab menunjukkan kita jalur yang berbeda.
Jalur ini tidak lari dari kehancuran, melainkan menyebutkan sesuai namanya. Sebagai orang Kristen, kita tahu apa yang terjadi dalam Kejadian 1-2. Teologi kita memberikan kedalaman untuk meratapi yang tidak tersedia di luar wawasan dunia Kristen. Kita tahu apa yang hilang karena dosa dan pemberontakan manusia. Kita tahu apa yang seharusnya terjadi. Hati kita merindukannya. Menjadi orang Kristen berarti menyebutkan dampak yang menghancurkan dari kejatuhan manusia dalam dosa. Kita tidak menyebut ”baik” terhadap hal yang Tuhan sebut ”jahat.” Kematian adalah kejahatan. Distorsi setiap aspek dari penciptaan adalah pengingat konstan akan realitas dosa dan pemberontakan leluhur kita serta kesediaan kita untuk mengikuti jejak mereka. Mengabaikan kebenaran ini berarti menutupi kisah Alkitab dengan selubung.
Namun kita tidak meratap seperti orang-orang yang tanpa harapan. Kita menelusuri kehancuran hidup dan dunia kita dengan pengetahuan tentang salib dan kubur kosong 2.000 tahun yang lalu. Kristus dihancurkan agar kita tidak dihancurkan. Ini adalah bukti bahwa Allah tidak menutup mata terhadap ketidakadilan, baik yang menimpa kita maupun orang lain. Kebangkitan adalah pernyataan bahwa kematian tidak dapat menahan Yesus karena kematian memang tidak mampu menahan-Nya. Ini adalah pembalikan dari dampak kejatuhan manusia dalam dosa—janji tentang apa yang mungkin terjadi dan suatu hari nanti akan terjadi pada ciptaan Allah.
Kebangkitan Kristus adalah jaminan kebangkitan kita sendiri di masa mendatang. Inilah argumen yang Paulus kemukakan dalam 1 Korintus 15. Kebangkitan Yesus adalah jaminan bahwa apa pun babak keputusasaan yang mungkin kita alami hari ini, hal itu bukanlah akhir dari segalanya.
Paulus mengakhiri pasal yang indah ini dengan kata-kata berikut: “… berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (ay. 58).
Apa yang akan saya katakan kepada anak-anak saya tentang hal yang Paulus katakan? Jangan takut akan air mata. Air mata adalah bukti bahwa kita tahu dunia tidak seperti seharusnya dan harapan akan seperti apa dunia di masa depan. Kebangkitan Yesus menjanjikan hal ini.
Cory Wilson (PhD) adalah presiden dari Emmaus Theological Seminary dan lektor kepala bidang kekristenan global dan studi interkultural.