Khotbah-khotbah Jumat Agung tidak mudah untuk dipahami. Bahkan khotbah-khotbah itu lebih sulit lagi untuk disampaikan. Belum pernah saya merasa begitu terharu atau sangat gelisah di kursi gereja selain di Jumat Agung. Mungkin itu karena khotbah Jumat Agung mengajak kita untuk meresapi ayat-ayat Alkitab mengenai malam terakhir Yesus, yang dipenuhi dengan penderitaan, kematian dan kehendak Allah. Bagi banyak dari kita, membaca teks-teks Alkitab terkait Jumat Agung sambil tetap melihat Allah itu baik sungguh suatu pergumulan.
Namun bolehkah saya mengusulkan bahwa doktrin Kristen historis yang cermat dapat menolong kita untuk memahaminya?
Ambil contoh nubuatan terselubung dalam Yesaya 53 tentang Hamba yang Menderita. Dalam konteks perikop ini, misterinya yang pekat menyelimuti sosok Hamba tersebut. Gambaran yang sangat meresahkan tentang derita dan sengsara Sang Hamba sungguh membuat heran dan membingungkan, tetapi juga menakjubkan. Dalam Nyanyian Sang Hamba pada ayat-ayat sebelumnya di kitab Yesaya (cth. Yes. 42:1–4; 49:1–6), ia jelas merupakan figur komunal bagi bangsa Israel yang berada dalam pembuangan. Namun pada pasal ini, figur komunal itu berubah menjadi individu yang nyata—seseorang yang penuh teka-teki dan tragis. Ia dibenci dan ditolak manusia, ditindas dan dibawa menuju kematian oleh para musuhnya, membuatnya menjadi manusia yang sepantasnya paling dikasihani.
Namun nasibnya yang paling buruk bukan terletak pada perlakuan kejam para musuhnya, atau bahkan penolakan dari para sahabatnya—melainkan perlakuan Allah pada dirinyalah yang paling menakutkan. Meski hamba itu tidak bersalah dan tak ada “tipuan dalam mulut-Nya,” tetapi sepertinya “Tuhan berkehendak meremukkan dia” agar “ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah” dan membawa keselamatan bagi banyak orang (Yes. 53:10).
Namun, bagaimana mungkin melihat orang benar dihancurkan dapat sesuai dengan tujuan Allah Israel? Apa yang hal ini ungkapkan bagi kita tentang cara Allah memperlakukan para hamba-Nya, yang telah Ia pilih? Hal-hal ini sungguh sangat gelap. Meski demikian, secercah cahaya mulai bersinar, bukan hanya ketika kita mengenali pemenuhannya dalam Yesus, Sang Mesias yang menjadi manusia, melainkan juga saat kita mengenali Dia sebagai Anak Allah, pribadi kedua dari Allah Tritunggal.
Yesus sendiri menguraikan arti Yesaya 53 untuk menjelaskan misi-Nya kepada para murid-Nya: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:45). Pada ayat ini, Yesus menegaskan bahwa Dia memang Hamba misterius yang dinubuatkan, yang datang untuk menyerahkan diri-Nya dalam kematian sebagai pengganti yang mewakili—sebagai korban penebus dosa yang penuh ketaatan bagi umat manusia yang berdosa.
Akan tetapi hanya melalui doktrin inkarnasilah kita dapat memahami bahwa Pribadi yang dikehendaki Allah untuk diremukkan itu bukan sekadar pengganti yang tak berdaya dan tak berdosa, melainkan Allah Israel itu sendiri. Anak Allah yang kudus dan kekal itu mengambil rupa sebagai Hamba demi kita dan bagi keselamatan kita. Tuhan memilih diri-Nya sendiri untuk menanggung kesalahan kita. Tuhan mengutus diri-Nya sendiri untuk mati bagi kita.
Terang itu semakin bercahaya ketika kita merenungkan perkataan Yesus di Yohanes 10:17-18, “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri.” Mudah bagi kita untuk beranggapan bahwa Allah adalah Bapa yang pemarah dan ingin meremukkan seorang korban yang tidak bersalah, dan karena itu Yesus yang penuh kasih datang untuk menyelamatkan kita dari Allah Bapa. Namun pemahaman doktrin Tritunggal yang historis mengingatkan kita bahwa pemahaman seperti itu bukanlah yang tercatat di Alkitab maupun yang diajarkan gereja.
Sebaliknya, para teolog seperti Agustinus mengajarkan bahwa karena Allah adalah Esa dan tidak terbagi-bagi, maka karya Tritunggal juga tidak dapat dipisahkan dalam sejarah—apa pun yang dikerjakan Anak, maka Bapa dan Roh Kudus juga mengerjakannya bersama Dia. Dalam Yohanes 10 kita mendapatkan gambaran sekilas mengenai hal ini, ketika Yesus mengajarkan bahwa kehendak Anak dan Bapa adalah satu dan sama. Sang Anak dengan sukarela datang dalam rupa manusia untuk menyerahkan nyawa-Nya dan mengambilnya lagi untuk keselamatan kita, dan Bapa mengasihi Yesus karena hal itu. Seperti yang pernah disampaikan Calvin, “Ini adalah bentuk penghargaan yang indah atas kebaikan Allah bagi kita,” karena hal ini menunjukkan bahwa “keselamatan kita lebih berharga bagi Dia daripada nyawa-Nya sendiri.”
Saat ini, ada yang menganggap bahwa doktrin Kristen yang historis merupakan penghalang dalam memberitakan dan mengajarkan teks-teks misterius di Alkitab. Ini tidaklah benar. Doktrin menerangi Kitab Suci. Hanya dengan cahayanya kita dapat melihat kebaikan dari Allah yang Esa dalam Derita Sang Hamba di Yesaya 53. Karena kasih-Nya yang besar, Anak Allah hadir dalam kuasa Roh Kudus, oleh kehendak Bapa, sebagai Hamba yang menanggung dosa-dosa kita melalui pengorbanan diri-Nya. Inilah kebaikan Allah dalam kabar baik dari Jumat Agung: bahwa Allah mengorbankan diri-Nya bagi kita.
Derek Rishmawy adalah kandidat doktor di Trinity Evangelical Divinity School.