Ideas

Ketika Belas Kasihan Allah Terdengar Seperti Kabar Buruk

Columnist

Kesabaran Tuhan bisa menjadi beban yang berat.

Christianity Today January 27, 2026
Forgiven Photography / Lightstock

Musa sangat mengenal kesabaran Allah. Ia memohon belas kasihan dari Allah bagi Israel ketika mereka mengkhianati Tuhan dengan membuat anak lembu emas. Selama bertahun-tahun ia menghadapi orang Israel di padang gurun, segala keluhan dan kedegilan hati mereka. Mereka “menyakiti hati Yang Kudus dari Israel” (Mzm. 78:41), namun Allah tetap menanggungnya, menahan amarah-Nya dan menolak untuk melenyapkan mereka (Yes. 48:9). Kesabaran Allah adalah ciri utama yang mendasar dari karakter-Nya.

Namun, kesabaran ini tidak selalu menjadi penghiburan bagi Musa. Alih-alih dibiarkan menghadapi keluhan dan dosa umat-Nya, Musa meminta Allah untuk membunuhnya saja (Bil. 11:15).

Musa tidak sendirian dalam keputusasaan ini. Terguncang oleh keberhasilan para pelanggar hukum, pencuri, dan penyembah berhala, sang pemazmur bertanya, “Berapa lama lagi orang-orang fasik beria-ria?” (Mzm. 94:3). Daud menyuarakan ratapan serupa di hadapan ejekan musuh-musuhnya (Mzm. 13:1). Dihimpit oleh perlawanan, ia bertanya-tanya apakah Allah akan membelanya. Dalam Alkitab, umat Allah sering kali terkejut dan merasa terganggu oleh kesabaran Allah, sama seringnya dengan mereka dihibur oleh hal itu.

Dapatkan pembaruan harian dalam Bahasa Indonesia langsung di ponsel Anda! Bergabunglah dengan kanal WhatsApp kami.

Ketidaksabaran saya terhadap kesabaran Allah mungkin merupakan salah satu ciri khas dalam hidup saya. Saya menjadi khawatir dan cemas ketika melihat ajaran-ajaran sesat di gereja, mulai dari Injil kemakmuran hingga kesesatan gnostik modern. Saya merenungkan perselisihan di tengah kita, pergumulan kita terus-menerus untuk rekonsiliasi rasial dan keutuhan. Mengapa, saya bertanya, Allah membiarkan kekacauan ini terus berlangsung?

Hikmat Allah dalam salib sering kali tampak bagi kita sebagai kebodohan (1Kor. 1:18). Pada intinya, salib adalah tanda kesabaran Allah. Ia telah mengampuni dosa-dosa kita, alih-alih menghukum kita sebagaimana yang pantas kita terima (Rm. 3:25).

Sesungguhnya, secara linguistik dan konseptual, kesabaran berkaitan erat dengan penderitaan (passio). Dalam kesengsaraan Yesus Kristus di kayu salib, kita melihat kesabaran Allah Tritunggal yang nyata, yang berinkarnasi dalam sejarah.

Ketika jemaat-jemaat lokal tergoda untuk hidup sembrono karena para pengajar palsu yang mengajarkan bahwa Kristus tidak akan datang kembali, Petrus mengingatkan mereka:

“Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar  terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2Ptr. 3:8–9).

Allah mungkin sabar, tetapi Ia tidak menunda. Sebagai Tuhan yang transenden atas segala waktu, Ia telah memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana(Yes. 46:10). Hanya mata-Nya yang melihat seluruh permadani sejarah. Kita, sebagai makhluk yang terikat oleh waktu, hanya mengalaminya sebagai benang-benang yang terurai. Namun waktu-Nya sempurna.

Karena Allah penuh belas kasihan, Ia menunggu. Ia tidak akan mendatangkan penghakiman pada hari-hari terakhir sampai Injil diberitakan kepada semua bangsa (Mat. 24:14). Dan karena itu, seperti yang dikatakan Hermann Cremer, “Sejarah dunia bergerak maju di bawah kesabaran Allah” yang dibuktikan dalam kesengsaraan Yesus Kristus.

Namun Kristus sabar menanggung salib bukan hanya untuk membawa umat manusia masuk ke dalam gereja. Ia juga bermaksud menguduskan gereja di tengah dunia (1Ptr. 2:24). Pada waktu-Nya sendiri, Kristus akan menepati janji-Nya untuk menjadikan gereja-Nya tak bercela dan cemerlang, terlepas dari segala penampakan lahiriah (Ef. 5:25–27).

Mungkin inilah sebabnya Paulus mampu bertahan demi gereja, tidak menyerah dalam menghadapi fitnah, penolakan, dan dosa yang terang-terangan di berbagai jemaat. Pada waktu-waktu tertentu ia bahkan putus asa sampai merasa hidupnya terancam (2Kor. 1:8). Namun Paulus memahami bahwa tugasnya adalah menyiram dan menanam. Hanya Allah yang memberi pertumbuhan (1Kor. 3:9).

Dalam terang Kebangkitan, Paulus mendorong jemaat untuk “berdiri teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1Kor. 15:58). Perintah ini bukanlah pernyataan yang aneh atau tidak relevan, melainkan penerapan praktis dari segala sesuatu yang telah disampaikan sebelumnya: Kebangkitan akan datang, maka janganlah menyerah!

Iman kepada Kebangkitan menanamkan kepercayaan bahwa Allah kita yang sabar—Pribadi yang menunggu tiga hari di dalam kubur—berkuasa mendatangkan panen kehidupan, bahkan ketika yang kita lihat hanyalah ladang yang ditaburi kematian (1Kor. 15:42–43).

Derek Rishmawy adalah mahasiswa doktoral dalam bidang teologi sistematika di Trinity Evangelical Divinity School. Ia menulis secara daring di derekzrishmawy.com.

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui email, Facebook, Twitter, Instagram, atau Whatsapp.

Our Latest

Di Mana Hatimu Berada, Di Situ Juga Kebiasaanmu Berada

Elise Brandon

Kita tidak akan mau berubah sampai kita tahu mengapa kita perlu melakukannya dan apa yang menjadi tujuan kita.

Memberi Berasal dari Allah

Sam Storms

Pelayanan memberi membangkitkan rasa syukur kepada Allah karena sumbernya berakar pada anugerah-Nya.

Rencanakan Pembacaan Alkitab Tahun Ini untuk Mengejar Ketekunan, Bukan Kecepatan

J. L. Gerhardt

Rencana membaca Alkitab selama dua belas bulan dari Kejadian-Wahyu memang populer, tetapi kebanyakan orang Kristen akan bertumbuh lebih dekat dengan Allah dan Firman-Nya jika membaca lebih perlahan.

News

50 Negara Paling Berbahaya bagi Orang Kristen di Tahun 2026

Dari Suriah hingga Sudan, orang-orang percaya di seluruh dunia menghadapi penindasan dan penganiayaan yang semakin meningkat.

News

Philip Yancey Mengaku Selingkuh, Mundur dari Pelayanan

Philip Yancey mengatakan bahwa ia akan pensiun dari pelayanan sebagai pembicara dan menulis serta berdukacita atas “kehancuran yang telah saya sebabkan.”

Ringkasan Penelitian: 6 Poin Penting tentang Manfaat Bersyukur

Stefani McDade

Semakin banyak akademisi yang mempelajari praktik mengucap syukur. Inilah yang mereka sampaikan.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube