Selama bertahun-tahun saya menyembunyikan keraguan dan kemunafikan di balik pengetahuan teologis dan argumen-argumen yang terstruktur dengan baik. Saya memberi kesan percaya diri dalam Kristus, padahal sebenarnya saya sedang berusaha percaya pada diri saya sendiri. Dan kemudian semuanya hancur berantakan. Saya dipecat dari pekerjaan karena ketidakjujuran dan pencurian. Dosa saya terbongkar, dan kerusakan yang ditimbulkannya sangat dalam. Namun yang terburuk dari semuanya, saya dipaksa untuk menghadapi pertanyaan “Apa yang sebenarnya engkau percayai?” Bukan “Apa yang engkau akui?” atau “Apa yang engkau setujui?” melainkan “Apa yang engkau pertaruhkan dengan hidupmu?”
Dan saya tidak dapat menjawabnya dengan baik. Semua pernyataan iman saya sebelumnya telah membawa saya ke dalam kondisi saat ini. Saya berada di tepi jurang ketidakpercayaan, di ambang kehancuran total, dan menyadari bahwa saya tidak tahu bagaimana cara percaya atau kepada siapa saya harus percaya.
Di tengah krisis ini, seorang penatua di gereja saya yang dengan sabar merawat dan membimbing saya selama ini, menyarankan dengan penuh kesungguhan, “Kembalilah dan bacalah Injil, serta carilah Yesus. Cobalah untuk melupakan semua pemahaman lamamu.” Itu bukan hal mudah bagi seorang anak pendeta, murid Sekolah Minggu, juara kuis Alkitab, penghafal ayat Alkitab terbaik, ahli teka-teki Alkitab, dan penggemar cerita Alkitab dengan alat peraga flanel. Pemahaman-pemahaman lama itu, dalam banyak hal, yang hanya saya miliki saat itu.
Akan tetapi saya berusaha sebaik mungkin. Dimulai dari Matius 1, saya membaca kisah-kisah dan perikop-perikop yang pernah saya baca ratusan kali. Saya membaca ajaran Yesus dan berbagai mukjizat-Nya. Saya tertatih-tatih dan susah payah merangkak masuk ke kitab Markus. Lalu saya sampai pada Markus 9 dan kisah seorang ayah yang putus asa yang membawa putranya yang dirasuki setan kepada Yesus untuk disembuhkan. Saya tahu cerita ini. Kisah ini terasa tidak penting pada saat itu, kecuali untuk satu bagian percakapan ini:
“Dan sering kali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk. 9:22-24)
Hal ini menarik perhatian saya. Ketika seorang peragu yang sedang bergumul lalu membawa keraguannya kepada Yesus dan meminta pertolongan, Yesus tidak menolak atau menghakimi dia atas pergumulannya. Orang itu dapat menatap wajah Yesus dan berkata, “Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” dan Yesus akan melakukannya. Ini menawarkan paradigma iman yang sejati: kepercayaan dalam pergumulan, kepercayaan dalam kebergantungan.
Kata-kata yang sering saya lewatkan ini mulai terwujud dalam pribadi Yesus yang hidup dan nyata. Jika sebelumnya saya tidak tergerak oleh pembacaan tentang kisah kelahiran Yesus, kini saya menemukan jenis kedatangan yang lain— ketika Yesus hidup dalam jiwa seseorang. Penemuan-penemuan ini tidak terjadi secara langsung. Namun membaca ayat-ayat tersebut di hari itu telah menimbulkan percikan api dalam hati saya. Selama bulan bulan berikutnya, api itu mulai menyala, lalu menyebar, lalu berkobar menjadi panas dan terang di hati saya. Yesus mengundang saya untuk percaya dan menunjukkan bahwa Dia memang adalah hidup yang menjadi terang bagi hati manusia (Yoh. 1:4).
Barnabas Piper adalah adalah pendeta di Immanuel Church di Nashville, Tennessee. Ia penulis beberapa buku, termasuk Help My Unbelief and Belong. Ia menikah dengan Lauren dan memiliki tiga anak.