Awal tahun ini, saya meminta seorang teman untuk melakukan perjalanan menembus waktu ke masa lalu. Dan ternyata, kami berdua memilih tempat yang sama sebagai tujuan kami.
Tentu saja, yang saya maksud dengan perjalanan menembus waktu ini bukan sesuatu yang literal, itu hanyalah imajinasi, bagian dari pertanyaan penutup yang saya ajukan kepada seorang teman dan tamu yang sering hadir di podcast saya, Beth Moore. “Kalau kamu bisa masuk ke dalam peristiwa apapun di Alkitab… kecuali kebangkitan,” tanya saya, “kamu mau ada di mana?”
Ketika dia menjawab,“Transfigurasi,” saya langsung berteriak, “Saya juga!” karena tepat jawaban itu pulalah yang ada di pikiran saya.
Pada momen di atas gunung itu, Petrus, Yakobus, dan Yohanes melihat Yesus dinaungi awan, memancarkan cahaya kemuliaan, dan mendengar Dia disapa oleh suara Allah. Momen itu menghubungkan banyak kisah Alkitab lainnya: tiang awan dan tiang api yang memimpin Israel melalui padang gurun, pengajaran Yesus (memanggil mereka ke gunung), penyaliban Yesus, kebangkitan, kenaikan, kemuliaan Yerusalem Baru yang akan datang—semuanya ada di sana.
Namun, bagian dari kisah transfigurasi yang paling sering saya pikirkan akhir-akhir ini adalah kemunculan Musa dan Elia.
Dalam bukunya Lifting the Veil: Imagination and the Kingdom of God, Malcolm Guite merujuk pada puisinya yang berjudul“Transfigurasi,” yang dibuka dengan kalimat “Untuk satu momen itu, ‘di dalam dan di luar waktu,’ / Di atas gunung itu di mana semua momen bertemu.” Guite mengatakan bahwa pemilihan kata-kata tersebut terinspirasi oleh kehadiran Musa dan Elia dalam Transfigurasi, “keduanya, pada waktu dan tempat yang masing-masing berbeda, namun memiliki pengalaman puncak gunung, di mana mereka mengalami perubahan yang bercahaya, keduanya melihat Allah dengan cara yang tak terlukiskan.” Guite melanjutkan,
Saya bertanya-tanya apakah kemunculan mereka di hadapan Kristus di puncak gunung ini bukanlah pengulangan dari pengalaman pertama mereka atau sekadar kunjungan tokoh-tokoh Perjanjian Lama ini kembali ke dunia ini, yang mewakili Hukum Taurat dan para nabi, melainkan bahwa para murid sedang menyaksikan kebenaran bahwa dalam terang surga, dalam waktunya surga, seolah-olah, ketiga momen terpisah itu: Musa di gunungnya pada zamannya, Elia pada zamannya, dan Kristus dalam momen Injil ini, semuanya adalah satu momen! Musa dan Elia melihat wajah Allah dalam misteri, yang sebenarnya itu adalah wajah Kristus.
Dengan kata lain, bagaimana jika Musa dan Elia saat transfigurasi itu tidak melampaui ruang (kembali dari alam baka) melainkan melampaui waktu? Bagaimana jika Petrus, Yakobus, dan Yohanes menyaksikan momen yang tepat sama ketika Musa mengintip kemuliaan Allah di gunungnya dan ketika Elia berada di gunungnya? Bagaimana jika kemuliaan yang dipantulkan Musa ketika dia kembali dari gunung—yang begitu menyilaukan sehingga dia harus menudungi wajahnya—adalah kemuliaan yang memancar dari wajah Kristus yang telah berubah rupa?
Jika saya mengatakan ini di zaman dulu, kedengarannya akan konyol. Namun, ilmu pengetahuan modern telah menunjukkan kepada kita bahwa alam semesta lebih aneh daripada yang kita ketahui. Dalam banyak hal, kita hampir tidak tahu apa-apa tentang cara kerja ruang dan waktu, tetapi kita cukup tahu untuk menyadari bahwa Agustinus benar ketika dia mengatakan bahwa waktu bukanlah sesuatu yang tetap dan linier, melainkan jauh lebih kompleks. Undanglah seorang fisikawan ke kelas SMA dan perhatikan: Di antara sekian banyak pertanyaan, salah satu pertanyaan pertama yang akan ditanyakan adalah “Apa yang ada sebelum Big Bang?” Fisikawan itu akan mencari cara untuk mengatakan—dalam istilah yang dapat dipahami oleh pikiran manusia—bahwa kata “sebelum” adalah istilah yang tidak masuk akal dalam pertanyaan itu.
Sekarang, tidak ada yang tahu persis bagaimana Musa dan Elia hadir di gunung itu. Jika Beth Moore dan saya bisa menjelajahi waktu, mungkin kami akan bertanya. Namun kami, tidak diragukan lagi, pasti akan mendengar jawaban yang sama yang didengar Simon Petrus ketika dia mengajukan pertanyaan pada saat itu, karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Kami akan mendengar,“Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk. 9:7).
Di balik semua spekulasi itu, ada kebenaran yang banyak dari kita perlu dengar. Bagaimanapun juga, kita juga penjelajah waktu. Penyanyi-penulis lagu Rich Mullins menulis begini dalam salah satu baris terakhir lagunya:
Yang benar-benar perlu kutahu
Apakah Engkau yang hidup dalam kekekalan
Mendengar doa-doa kami yang hidup dalam waktu
Kami tidak bisa melihat apa yang ada di depan
Dan kami tidak bisa lepas dari apa yang telah kami tinggalkan
Dalam sebuah surat, C. S. Lewis menanggapi seorang Kristen yang sedang bergumul secara rohani, yang mengatakan bahwa doa tidak ada artinya karena Allah telah “mengetahui selama jutaan tahun persis apa yang akan Anda doakan.” Namun Lewis menjawab, “Bukan seperti itu kenyataannya. Tuhan sedang mendengarkanmu sekarang, sama seperti seorang ibu mendengarkan anaknya.”
Perbedaan yang ditimbulkan oleh kekekalan-Nya adalah bahwa bagi kita “sekarang”adalah sesuatu yang akan hilang begitu kita selesai mengucapkan kata tersebut. Sementara bagi Allah, yang tidak terbatas waktu, “sekarang” adalah abadi (atau tak terbatas). Jadi jika Anda berpikir tentang kekekalan-Nya, jangan membayangkan Dia telah menanti-nanti momen ini selama jutaan tahun: bayangkan bahwa bagi-Nya Anda selalu memanjatkan doa ini, saat ini.
Ketika seorang anak bertanya bagaimana Allah dapat mendengar doa dari Nashville dan Nairobi pada saat yang sama, kita tidak membayangkan Allah, berpindah dari satu kota ke kota lain dengan kecepatan cahaya. Dia Maha Hadir—Dia bisa hadir di Nashville dan Nairobi dan di Neptunus pada saat bersamaan. Sungguh, Dia melampaui batas-batas ruang kosmos itu sendiri (1Raj. 8:27). Hal yang sama berlaku juga untuk waktu.
Ketika Anda mengingat kembali trauma masa lalu, Anda bisa tahu bahwa Allah tidak hanya sekadar menyertai Anda. Dia ada di sana bersama Anda. Demikian pula, Anda bisa tahu bahwa Allah akan menyertai Anda di masa depan yang Anda khawatirkan sekarang. Dia ada bersama Anda di sana. Sama seperti tiang awan dan tiang api yang secara protektif melingkupi umat Israel di Keluaran dari depan dan belakang (Kel. 14:19–20), Allah melakukan hal yang sama untuk Anda sekarang. Anda tidak harus memahaminya. Bagaimana mungkin makhluk yang terikat pada aliran dan perubahan waktu dapat benar-benar memahaminya? Namun, Anda dapat merasa takjub pada Yesus dari Nazaret yang berkata, 2.000 tahun sebelum Einstein, “sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh. 8:58).
Petrus ingin membekukan momen transfigurasi. Dia ingin membangun monumen di sana, kemah-kemah suci yang akan mengikat dan membuat kilauan kemuliaan itu menjadi permanen. Namun, dia tidak mengerti bahwa bukan begitu cara kerja kemah suci.
Kemuliaan Allah tidak mengikuti ritme yang dapat diprediksi saat memimpin umat Israel melalui padang gurun. Mereka hanya tahu bahwa ketika mereka melihat kemuliaan turun di atas Kemah Suci, mereka akan berkemah, dan ketika tidak, mereka akan terus berjalan (Kel. 40:34–38). Namun, seperti Petrus, kita sering ingin mengabadikan momen-momen kehadiran Allah yang terasa itu—baik melalui nostalgia zaman keemasan atau melalui kecemasan akan masa depan yang dibayangkan.
Beberapa orang yang sangat protektif terhadap kalender gereja mungkin keberatan saya membahas transfigurasi di masa Adven dan Natal ini, di saat kita seharusnya fokus pada inkarnasi. Namun, apa yang dilihat Elia dan Musa dalam terang yang bersinar—yang disaksikan oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes—semuanya memang tentang inkarnasi. Yohanes yang sama yang melihat transfigurasi kemudian menulis, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:14). Di balik semua kebiasaan hidup kita, di balik segala kesedihan dan kehinaan di zaman kita, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (ay. 5).
Mungkin bukan kebetulan bahwa begitu banyak kisah Natal kita di masa lalu berkaitan dengan bermain-main dengan keanehan waktu. Ebenezer Scrooge dalam cerita A Christmas Carol diperlihatkan masa lalu maupun garis waktu alternatif masa depannya. George Bailey mengalami hal serupa dalam cerita It’s a Wonderful Life. Kita menyanyikan“Hai Kota Mungil Betlehem” dalam bentuk waktu sekarang, seolah-olah kita sedang mengamati sebuah desa kecil pada saat kelahiran Kristus, sambil mencatat, “Harapanmu dan doamu kini terkabullah.”
Mungkin ritme Adven dan Natal mendorong kita semua pada semacam perjalanan waktu. Kita melihat sekeliling untuk melihat siapa yang tidak ada di meja tahun ini. Kita melihat mereka yang dulunya anak-anak bermain kertas kado, sekarang menjadi orang dewasa yang sebagaimana yang pernah kita bayangkan. Kita tidak bisa mengulang kembali masa lalu. Kita tidak bisa mengintip ke masa depan. Kita bahkan tidak bisa memegang erat masa kini. Dalam “hari ini” yang abadi dari Allah yang mencipta, memenuhi serta melampaui waktu, kita hanya bisa mengetahui ini: Allah beserta kita.
Russell Moore adalah editor kontributor senior dan kolumnis di CT.