Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya (Mzm. 139:13–14).
Saya menghabiskan ulang tahun saya yang ke-40 di rumah sakit. Ini bukan rencana saya. Demam menyebabkan saya pergi ke dokter. Kunjungan ke dokter mengarah pada tes darah. Tes darah lalu berujung pada panggilan telepon yang memberitahu saya untuk pergi ke ruang gawat darurat; mereka sedang menunggu saya.
Hari pertama di rumah sakit sangat kacau. Hari kedua dipenuhi dengan berbagai tes dan pemeriksaan radiologi. Hari ketiga, hari ulang tahun saya, akhirnya saya mulai bisa tenang. Saya menghabiskan sebagian besar hari itu menunggu hasil tes saya keluar sehingga dokter dapat menentukan cara merawat saya. Saya menelepon istri dan memintanya untuk membawa anak-anak.
Setelah saya menutup telepon, seorang dokter bedah jantung—seseorang yang belum pernah saya temui sebelumnya tetapi yang kelak akan memegang jantung saya di tangannya— datang berkunjung. Ia memberi tahu saya bahwa mereka telah menemukan masalah pada ekokardiogram saya dan menjelaskan bahwa saya berada pada tahap awal gagal jantung dan akan memerlukan operasi jantung terbuka.
Ini pertama kalinya kata-kata itu diucapkan kepada saya. “Kapan?” tanya saya. Dia berkata, “Dalam beberapa minggu, setelah kami berhasil mengendalikan infeksi Anda.” Sekitar jam makan malam, saya mendapati diri saya sedang mengganti-ganti saluran televisi. Sendirian. Bergumul. Tersesat.” Sungguh ulang tahun yang indah,” kata saya miris dalam hati. ”Tidak apa-apa. Kamu akan baik-baik saja.”
Lalu terdengar ketukan di pintu kamar saya. Seorang wanita Afrika-Amerika yang tua mengintip masuk dan berkata, “Saya membawa makan malam untukmu.” Saat dia meletakkan nampan di atas meja di samping saya, dia melihat nomor di gelang identitas saya dan menanyakan nama dan tanggal lahir saya. Saya mengucapkan keduanya seperti yang saya sudah lakukan ratusan kali di minggu itu. Dia mengangguk, berbalik hendak pergi, lalu berhenti. “Tunggu,” katanya. “Hari ini ulang tahunmu?” “Ya,” jawab saya.
Dia menegakkan tubuhnya, berbalik menghadap saya, dan meletakkan telapak tangan kanannya di atas tangan kirinya—sebuah gambaran kewibawaan dan ketenangan. Dan kemudian, saat hanya kami berdua di ruangan itu, dia mulai bernyanyi untuk saya:
S’lamat ulang tahun.
S’lamat ulang tahun.
S’lamat ulang tahun, Tuan Ramsey.
S’lamat ulang tahun.
Saya pun menangis.
Hari itu sungguh gelap. Saya merasa hidup saya sedang berada di ujung tanduk, dan memang demikian. Dan dengan gestur yang begitu sederhana, wanita baik hati itu menjadi cahaya. Dia tidak mengenal saya. Dia tidak tahu apakah saya baik atau jahat, lembut atau kasar, jujur atau pembohong. Dia hanya tahu bahwa karena saya dirawat di rumah sakit pada hari ulang tahun saya, saya mungkin merasa sedikit tersesat. Saya berarti baginya.
Adven mengingatkan kita bahwa betapa pun gelapnya dunia ini, kita dikenal dan diperhatikan oleh Allah yang menciptakan kita dengan begitu ajaib serta mengetahui kebutuhan kita yang terdalam—yang dipenuhi-Nya dengan sempurna melalui pemberian Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus.
Russ Ramsey adalah pendeta di Christ Presbyterian Church di Nashville, Tennessee, dan penulis beberapa buku, termasuk Van Gogh Has a Broken Heart.