Church Life

Allah Memanggil Saya untuk Memberi. Namun Apakah kepada Semua Orang?

Kerangka berpikir tentang kemurahan hati dari seorang misionaris.

Christianity Today November 10, 2025
Illustration by Mallory Rentsch Tlapek / Source Images: Getty

Beberapa tahun lalu, seorang janda datang ke sebuah gereja di Uganda untuk meminta bantuan. Setelah mendiskusikan keadaannya, majelis gereja merekomendasikan untuk memberinya makanan. Namun, sang pendeta mendorong para pemimpin untuk terlebih dahulu mencari tahu tentang situasi keluarganya.

Setelah berbicara dengan kerabatnya, majelis gereja mengetahui bahwa anak-anaknya sebenarnya hidup berkecukupan, tetapi menolak merawat janda tersebut karena perselisihan keluarga. Jadi, sang pendeta mengatur pertemuan rekonsiliasi. Anak-anaknya pun memaafkan ibu mereka dan memutuskan untuk merawatnya kembali.

Jika gereja terburu-buru membantu tanpa mempertimbangkan tanggung jawab keluarganya, janda itu mungkin akan terus datang ke gereja untuk meminta bantuan, dan keluarganya mungkin tidak akan pernah berdamai.

Dapatkan pembaruan harian dalam Bahasa Indonesia langsung di ponsel Anda! Bergabunglah dengan kanal WhatsApp kami.

Sebagai seorang misionaris di Uganda, kisah-kisah seperti ini sangat memengaruhi cara saya menolong orang-orang yang membutuhkan di sekitar saya. Saya sering bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan ini: “Dengan begitu banyak permintaan bantuan uang setiap hari, kepada siapa saya harus memberi uang? Kapan saya boleh berkata tidak?”

Satu prinsip panduan yang jelas adalah memberi secara finansial kepada mereka yang paling membutuhkan. Dalam hal ini, kita semua setuju. Namun dunia kita kini semakin terhubung. Saya bisa dengan mudah menekan satu tombol untuk memberi bantuan finansial kepada siapa pun di mana pun. Jika satu-satunya prinsip panduan adalah kebutuhan, maka saya akan terjebak dalam kebingungan yang tidak pasti.

Namun Alkitab membawa saya melampaui sekadar melihat kebutuhan terbesar dengan menunjukkan bahwa Allah juga memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada saya untuk menolong orang-orang tertentu. Saya mengusulkan untuk melihat pemberian finansial melalui sebuah konsep yang saya sebut “lingkaran prioritas.” Artinya, dalam hal kemurahan hati finansial, saya harus memprioritaskan orang-orang dan komunitas yang paling dekat dengan saya.

Saya percaya bahwa Perjanjian Baru menunjukkan bahwa perhatian pertama saya seharusnya adalah merawat keluarga saya atau orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan saya. Seperti yang ditulis Paulus dalam 1 Timotius 5:8, “Jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk daripada orang yang tidak beriman.”

Circles of Priority

Selanjutnya, dalam Galatia 6:10, saya belajar bahwa saya juga harus memprioritaskan mereka yang dekat secara rohani. Pada ayat ini Paulus menulis, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Paulus menegaskan bahwa meskipun saya perlu mengasihi semua orang, saya memiliki tanggung jawab khusus untuk menolong saudara-saudari saya dalam Kristus.

Akhirnya, perhatikan perumpamaan tentang Orang Samaria yang Murah Hati dalam Lukas 10:25–37. Dalam kisah ini, tiga orang melihat seorang pria yang dipukuli di pinggir jalan. Yang mengejutkan adalah imam dan orang Lewi tidak berhenti untuk menolong, tetapi orang Samaria melakukannya. Mengasihi sesama tidak berarti hanya mengasihi orang-orang yang mirip dengan saya. Orang Samaria itu melakukan apa yang seharusnya dilakukan setiap orang, menolong seseorang yang menderita secara fisik tepat di hadapannya. Jadi, ada juga prioritas untuk peduli terhadap orang-orang yang dekat secara geografis, yaitu mereka yang saya temui dalam kehidupan sehari-hari.

Semua orang Kristen di seluruh dunia seharusnya memprioritaskan menolong mereka yang dekat secara relasional, rohani, atau geografis, selain prioritas yang jelas untuk menolong mereka yang paling membutuhkan.

Tanggung jawab kita semakin berkurang seiring semakin meluas lingkarannya. Namun, selama kita memiliki waktu dan sumber daya, kita bisa, dan memang harus, berusaha menolong orang-orang di lingkaran luar juga. Sebagai contoh, dalam Perjanjian Baru, Paulus mendorong jemaat-jemaat untuk dengan sukarela mengumpulkan uang bagi orang-orang Kristen yang membutuhkan di Yerusalem yang jauh (1 Kor16:1–4).

Lingkaran prioritas ini telah menuntun saya untuk memprioritaskan menolong teman-teman, tetangga, dan gereja lokal kami, sambil tetap sesekali juga membantu orang-orang yang sangat membutuhkan di luar Uganda melalui donasi kepada organisasi-organisasi internasional. Strategi ini telah meringankan beban besar bagi saya. Saya tidak lagi dihantui bersalah karena tidak dapat membantu 47 juta orang Uganda lainnya. Saya bukan Tuhan. Saya tidak memiliki sumber daya atau waktu yang tak terbatas. Sebaliknya, saya dapat membantu dengan sukacita dan kemurahan hati, mengetahui bahwa Allah memakai masing-masing dari kita dengan cara-cara yang sederhana untuk bersama-sama memberikan dampak yang besar.

Sebagai contoh, ketika seseorang yang belum pernah saya temui menelepon dan berkata, “Pak Pendeta, tolong, saya butuh bantuan membayar uang sekolah anak-anak saya,” saya biasanya menolak karena keterbatasan saya. Berdasarkan prinsip lingkaran prioritas, saya ingin memprioritaskan pemberian dalam konteks hubungan yang dekat, agar saya bisa memahami kebutuhan nyata seseorang, sehingga saya bisa mendampingi mereka dalam jangka panjang, memberikan bantuan secara berkala sambil mendorong mereka seiring mereka membuat perubahan. Ini tidak berarti saya berhenti memberi uang kepada organisasi-organisasi yang melayani orang miskin, karena banyak organisasi juga menekankan hubungan jangka panjang.

Prinsip lingkaran prioritas ini juga menuntun pelayanan gereja. Contohnya, Reformed Covenant Church di Soroti, Uganda, menerima persembahan sekitar $3 per minggu dan sekitar $1 per minggu untuk keranjang amal mereka, yang digunakan untuk membantu orang-orang miskin di gereja mereka atau penyandang disabilitas. Gereja ini tidak perlu merasa bersalah karena tidak dapat menolong anak-anak yatim piatu di negara lain. Allah sedang memakai mereka untuk merawat orang-orang yang dekat dengan mereka.

Sebuah gereja kaya di Amerika mungkin mampu menolong anggota gereja mereka sendiri sekaligus mendukung organisasi-organisasi yang membantu orang miskin di luar negeri. Pada saat yang sama, prinsip ini juga bisa menjadi koreksi bagi gereja yang hanya berfokus memberi bantuan untuk orang-orang di luar negeri tetapi mengabaikan orang-orang miskin di kota mereka sendiri atau jemaat yang sedang bergumul terkait materi di gereja mereka.

Mengikuti prinsip lingkaran prioritas tidak berarti menghapuskan semua keputusan yang sulit. Terkadang, saya perlu menahan diri dari memenuhi kebutuhan yang kurang penting dalam keluarga atau komunitas saya demi membantu orang-orang jauh yang sedang berada dalam situasi hidup dan mati. Dibutuhkan hikmat untuk membedakan kapan sebuah kebutuhan besar mengalahkan kedekatan relasional, rohani, atau geografis.

Dalam mengikuti lingkaran prioritas ini, kita juga harus berhati-hati agar tidak menyalahgunakannya. Sangat mudah bagi orang-orang Kristen yang hidup berkecukupan untuk membenarkan diri dengan berpikir bahwa kita sudah cukup hanya dengan menolong “lingkaran dalam” kita—keluarga, gereja lokal, dan komunitas sekitar. Akan tetapi ingatlah, Yesus berkata dalam Lukas 12:48, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut.” Bagi kita yang berasal dari negara yang sangat makmur, kita lebih dari mampu untuk memberi dengan murah hati agar menolong mereka yang hidup dalam kemiskinan ekstrem di seluruh dunia, sambil tetap merawat orang-orang di lingkaran terdekat kita.

Ada juga kemungkinan orang-orang Kristen yang berkecukupan menyalahgunakan prinsip lingkaran prioritas dengan cara mengontrol siapa yang diizinkan masuk ke dalam lingkaran dalam kita. Misalnya, kita memilih tinggal di lingkungan mewah agar tidak bertemu dengan tetangga yang miskin secara materi, atau memilih rute berkendara ke tempat kerja yang menghindari daerah di mana banyak pengemis. Kita juga bisa memilih bergereja di tempat yang jemaatnya sebagian besar orang kaya secara materi sehingga kita merasa nyaman dengan kekayaan kita. Banyak dari kita, orang Kristen yang lebih makmur, perlu memikirkan bagaimana cara melibatkan orang miskin ke dalam lingkaran terdekat kita, atau bagaimana kita bisa lebih intensional memilih komunitas mana yang akan menjadi tempat kita tinggal dan gereja mana yang akan menjadi tempat kita beribadah.

Lingkaran prioritas tidak hanya menolong kita mempertimbangkan siapa yang kita bantu, tetapi juga bagaimana cara membantunya. Saya harus memberikan bantuan dengan cara yang tidak merusak tanggung jawab, pengelolaan, atau kemurahan hati orang lain. Saya harus turun tangan dan menawarkan bantuan ketika orang yang membutuhkan itu tidak dapat lagi dibantu dengan baik oleh lingkaran terdekatnya. Inilah yang dilakukan oleh pendeta di Uganda ketika ia terlebih dahulu mencari tahu apakah keluarga janda itu bersedia merawatnya atau tidak.

Dengan cara yang sama, prinsip ini juga berlaku bagi pelayanan gereja dan organisasi yang berupaya mengurangi kemiskinan. Mereka harus mempertimbangkan lingkaran dari individu atau komunitas yang ingin mereka bantu.

Di Uganda Timur, orang-orang dari wilayah Karamoja dulu sering menyerang secara brutal dan mencuri ternak dari suku Iteso. Bersyukur perdamaian akhirnya tercapai setelah upaya pemerintah dan gereja selama bertahun-tahun. Tak lama kemudian, terjadi kelaparan di Karamoja. Beberapa gereja Iteso bekerja sama untuk mengirim satu truk penuh makanan ke Karamoja sebagai tanda pengampunan dan kasih mereka.

Namun, ketika mereka tiba, mereka terkejut mengetahui bahwa Amerika Serikat sudah lebih dulu mengirimkan berton-ton bantuan makanan. Upaya gereja lokal Uganda menjadi sia-sia dan tidak diperlukan lagi, membuat orang-orang Kristen tersebut menjadi sangat kecewa.

Meskipun orang-orang Amerika itu mungkin benar-benar tulus membantu, mereka tidak mempertimbangkan terlebih dahulu apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang terdekat di daerah tersebut. Mereka tanpa sadar merampas berkat memberi dari gereja lokal Uganda dan merusak kesempatan untuk memperkuat rekonsiliasi antara kedua suku tersebut.

Organisasi perlu berhati-hati agar dapat memberi kesempatan kepada lingkaran terdekat dengan individu atau komunitas yang membutuhkan untuk menjadi pihak pertama yang menolong. Biasanya, orang-orang yang paling dekat dengan situasi itulah yang paling memahami campur tangan apa yang paling tepat. Namun manfaat tambahan dari peningkatan tanggung jawab di lingkungan terdekat seseorang adalah peningkatan kapasitas dan pengelolaan lembaga-lembaga di lingkungan tersebut—keluarga, gereja, sekolah, organisasi lokal, dan lembaga pemerintahan. Hal ini akan menghasilkan dampak jangka panjang dalam komunitas.

Dalam pengamatan saya sebagai seorang misionaris yang melayani di Afrika, mengabaikan prinsip ini adalah salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan oleh gereja maupun organisasi internasional. Akibatnya adalah ketergantungan.

Sebagai contoh, pertimbangkan bagaimana beberapa organisasi mungkin terburu-buru mendirikan panti asuhan di sebuah komunitas, tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan apakah kerabat dari anak-anak yatim piatu itu sebenarnya mampu mengadopsi dan merawat mereka dengan bantuan finansial tambahan atau tidak. Atau pertimbangkan program sponsor anak, di mana biaya sekolah anak-anak ditanggung sepenuhnya, ditambah dengan hadiah seperti pakaian atau pasta gigi. Akibatnya, adalah hal biasa di Uganda untuk mendengar orang tua datang ke organisasi yang mensponsori anak mereka dan berkata, “Anak Anda sakit, Anda perlu mengobati anak Anda.”

Sebaliknya, bantuan seharusnya diberikan dengan cara yang memperkuat tanggung jawab orang tua dalam menyekolahkan anak-anak mereka sendiri. Akan lebih baik jika bantuan difokuskan pada peningkatan pekerjaan dan penghasilan orang tua agar mereka bisa membayar biaya sekolah sendiri—atau dengan mencari tahu terlebih dahulu seberapa sedikit yang mampu dibayar orang tua, dan sejauh mana gereja lokal bersedia membantu, kemudian melengkapi usaha mereka. Jika dengan cara ini organisasi tersebut dapat memberi jumlah uang yang lebih sedikit untuk setiap keluarga, sisa dana dapat digunakan untuk menolong lebih banyak keluarga di lebih banyak komunitas. Hal ini bukanlah tentang memberi atau menolong lebih sedikit. Ini adalah tentang mempraktikkan hikmat dalam kemurahan hati kita.

Sebelum menolong individu atau komunitas, mulailah selalu dengan mendengarkan. Apa yang sedang dilakukan pemerintah lokal untuk menanggapi kebutuhan tersebut? Apakah ada gereja lain yang juga berencana menolong orang-orang yang sama? Bangunlah usaha di atas upaya lembaga-lembaga lokal dengan bermitra bersama mereka, alih-alih menggantikan peran mereka yang sudah ditetapkan Allah. Ada sukacita dan berkat dalam memberi; kita tidak seharusnya menyimpan semua berkat itu untuk diri sendiri!

Sebagai penutup, renungkan kisah berikut ini dari Niger. Pada tahun 2010, hampir setengah penduduk negara Afrika Barat itu mengalami krisis pangan. Sebuah organisasi Kristen internasional menyumbangkan gandum dan bekerja sama dengan kelompok Kristen lokal untuk menjual gandum tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan di beberapa komunitas dengan harga diskon.

Sebelumnya, organisasi internasional itu biasa memberikan gandum langsung kepada individu dengan penyandang disabilitas atau penderita penyakit kronis. Akan tetapi kali ini, staf internasional mendorong kelompok lokal untuk mencoba menggalang dana dari gereja-gereja mereka sendiri untuk membeli gandum, yang kemudian akan dibagikan secara gratis.

Awalnya, para anggota kelompok itu ragu, tidak percaya bahwa gereja-gereja miskin dapat melakukan sesuatu untuk menolong orang lain. Namun ternyata, gereja-gereja tersebut memberi dengan murah hati dan berhasil membeli gandum untuk 98 orang yang paling membutuhkan di komunitas mereka. Akhirnya, kelompok lokal itu berterima kasih kepada organisasi tersebut karena telah mendorong gereja-gereja mereka untuk ikut berpartisipasi dalam memberi.

“Sungguh suatu kehormatan bisa membantu, mengetahui bahwa kami tidak hanya menyalurkan pemberian orang lain, tetapi memberi dari kantong dan hati kami sendiri,” kata salah satu anggota komunitas. “Semua orang di desa tahu bahwa bantuan itu datang dari kami.”

Anthony Sytsma bekerja untuk Resonate Global Mission di Uganda, di mana ia membimbing dan mengajar para pendeta serta memfasilitasi program Helping Without Hurting in Africa.

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui emailFacebookTwitterInstagram, atau Whatsapp.

Our Latest

Memberi Berasal dari Allah

Sam Storms

Pelayanan memberi membangkitkan rasa syukur kepada Allah karena sumbernya berakar pada anugerah-Nya.

Ringkasan Penelitian: 6 Poin Penting tentang Manfaat Bersyukur

Stefani McDade

Semakin banyak akademisi yang mempelajari praktik mengucap syukur. Inilah yang mereka sampaikan.

Bersyukur Mengubah Keinginan Kita

Kent Dunnington dan Ben Wayman

Orang Kristen menyembah Pemberi yang aneh, yang mengaruniakan pemberian-pemberian yang aneh dengan cara yang aneh.

Air mata Natal

Jonah Sage

Kehidupan Yesus dimulai dan diakhiri dengan air mata, supaya melalui kebangkitan, hari-hari kita yang penuh air mata akan dihitung.

Tak peduli betapa pun gelapnya

Russ Ramsey

Betapa pun gelapnya dunia ini, kita dikenal dan diperhatikan oleh Allah yang menciptakan kita dengan begitu ajaib dan mengetahui kebutuhan kita yang terdalam.

Undangan untuk percaya

Barnabas Piper

Ketika seorang peragu yang sedang bergumul lalu membawa keraguannya kepada Yesus dan meminta pertolongan, Yesus tidak menolak atau menghakimi dia atas pergumulannya.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube