Mazmur 131
Dalam kehidupan kita bersama Tuhan di dunia ini, sering kali kita perlu duduk diam dan jujur pada diri kita sendiri. Kekhawatiran dan kecemasan apa yang memenuhi pikiran kita dan mengatur perilaku kita lebih dari yang seharusnya? Duduk dengan tenang sungguh sulit.
Kita tidak menyukai apa yang terjadi saat kita berusaha untuk duduk tenang. Semua “hantu dan siluman,” yang selama ini berusaha kita bungkam dengan efektif dalam kesibukan setiap hari, tiba-tiba muncul ke permukaan. Saat kita berdiam, sering kali kita menggulir media sosial. Kita menelusuri algoritma yang tersedia bagi kita untuk membungkam kepanikan batin. Namun, saat kita menahan diri untuk berhenti menggulir, kita sering kali malah diperhadapkan dengan luka-luka lama, ketidakamanan, dan pikiran-pikiran yang mencemaskan kita dan, lebih dari yang kita sadari, mengendalikan kita.
Meskipun kita mungkin efektif dalam mengelola kehidupan batin kita, pengelolaan itu tidak pernah mengarah pada kesembuhan. Paling-paling, kita mungkin dapat mematikan rasa sakit kita dengan mengalihkan perhatian kita, tetapi kitab Mazmur menawarkan jalan yang berbeda. Dalam hadirat Tuhan, kita mengakui rasa sakit dan kekhawatiran ini, serta mengizinkan semua itu muncul ke permukaan. Meski demikian, kabar baiknya adalah bahwa Tuhan tidak pernah membawa hal-hal itu ke permukaan jika Ia tidak bermaksud untuk menyembuhkannya.
“Tuhan, aku tidak tinggi hati dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku” (Mzm. 131:1).
Ada banyak hal yang bisa kita sodorkan kepada Tuhan dan berkata, “Ini terlalu berat. Hanya Engkau yang dapat menolongku melewatinya.” Ada banyak hal yang seharusnya tidak perlu membebani kita, dan mengkhawatirkan semua itu tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Kekhawatiran hanya akan melemahkan kita. Yesus memberi kita contoh-contoh tentang kekhawatiran soal uang, harta benda, dan apa yang akan terjadi di hari esok (Mat. 6:34).
Namun lebih dari itu, saya bertanya-tanya, apakah kita perlu menyerahkan kepada Tuhan tentang pengelolaan kehidupan batin dan keterikatan emosional kita. Mungkin ada luka dari teman, orang terdekat, dan keluarga yang masih membekas dan menyiksa kita, menciptakan dialog batin yang berkepanjangan yang hanya akan mengulangi rasa sakit itu berkali-kali. Mungkin ada saat-saat penghinaan dan kegagalan di tempat kerja atau dalam pernikahan, yang membuat kita mundur dan merasa ngeri pada diri sendiri. Strategi pengelolaan kita tidak mendatangkan kesembuhan atau penyelesaian, hanya rasa sakit yang berkepanjangan, dan seperti kanker, luka-luka itu semakin bertumbuh dan membusuk.
Marilah kita duduk diam di hadapan Tuhan, jujur kepada-Nya dan kepada diri kita sendiri, seraya berkata, “Ya Tuhan, aku menyadari bahwa aku tidak sanggup menyembuhkan luka-luka ini. Semua luka ini mengendalikanku, lebih daripada aku mengendalikannya. Semua luka ini terlalu besar bagiku.”
“Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan menenteramkan jiwaku seperti anak yang disapih dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih demikianlah jiwaku dalam diriku” (Mzm. 131:2).
Bagi seorang bayi, yang bergantung pada air susu ibu, setiap kali makan adalah keadaan darurat, setiap kali merasa lapar adalah kepanikan. Hanya setelah pengalaman diberi makan secara konsisten, serta selalu mendapat perawatan dan perhatian, maka seorang bayi akan belajar bahwa ketika rasa lapar datang, semuanya akan baik-baik saja. Makanan selalu datang, dan akan datang lagi. Bayi itu dapat duduk di pangkuan ibunya tanpa meraba-raba dan meronta karena ia telah menumbuhkan naluri untuk merasa tenang, bahkan ketika rasa membutuhkan dan laparnya muncul.
Sementara seorang bayi menumbuhkan naluri untuk merasa tenang, kita perlu dengan intensional untuk menumbuhkannya. “Aku telah menenangkan dan menenteramkan jiwaku.” Saya perlu secara intensional mencari hadirat Allah, menarik napas dalam-dalam, dan mengingat segala masa di mana Ia telah menjadi Penolong bagi saya. Seperti seorang bayi yang tidak dapat memberi makan dirinya sendiri, kita pun tidak dapat menyembuhkan luka dan keterikatan emosional kita dengan baik.
Strategi pengelolaan kita telah membuat kita seperti anak yang belum disapih, meraba-raba dan meronta, dengan cemas mencari cara untuk merasa aman di dunia ini. Setiap emosi merupakan keadaan darurat dan setiap rasa sakit merupakan kepanikan. Bertumbuh dalam kedewasaan rohani berarti mengingat bahwa kita tidak pernah dibiarkan tanpa pemeliharaan dan perhatian dari Allah. Ketika rasa sakit dan kesedihan datang menghampiri, semuanya akan baik-baik saja. Roh Kudus senantiasa dekat, dan Dia akan selalu dekat.
“Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!” (Mzm. 131:3)
Kita harus jujur pada diri kita sendiri. Sering kali, keterikatan emosional dan kekhawatiran kita telah mengendalikan hidup kita lebih dari yang kita akui. Kita diombang-ambingkan oleh pikiran-pikiran kita yang penuh kecemasan, dan strategi pengelolaan kita sendiri belum efektif. Bahkan, strategi tersebut justru telah menjauhkan dan membuat kita kurang peka terhadap pengalaman akan hadirat dan kasih Tuhan untuk kesembuhan dan pembaharuan diri kita. Marilah kita mencari Tuhan, membuka diri kita kepada-Nya, berharap bukan pada upaya kita mengelola diri sendiri, melainkan pada hadirat dan kuasa-Nya. Mulai saat ini dan seterusnya, tanggalkan strategi pengelolaan dan skema rasa aman hidup Anda. Berharaplah kepada Tuhan dan kebaikan-Nya.
John Starke adalah gembala sidang di Apostles Church Uptown dan tinggal bersama istrinya, Jena, dan keempat anaknya di New York City. Ia adalah penulis buku The Possibility of Prayer (IVP) dan The Secret Place of Thunder (Zondervan).
Diterjemahkan oleh Mellie Cynthia.