Church Life

Gereja Seharusnya Tidak Menjadi Ruang Gema

Janganlah kita menyerah untuk bertemu bersama—bahkan di saat kita tidak sependapat.

Christianity Today January 30, 2025
Illustration by Elizabeth Kaye / Source Images: Getty, Lightstock

Baru-baru ini, seorang wanita di gereja mendatangi saya dengan sebuah pertanyaan yang muncul dari rasa ingin tahu yang tulus. Dia bertanya, “Anda seorang teolog wanita. Mengapa Anda memilih datang ke gereja kami padahal di sini perempuan tidak diizinkan untuk berkhotbah?”

Oleh karena sebagian besar pelayanan saya sebagai cendekiawan Alkitab bersifat publik, maka bukan rahasia lagi bahwa saya mendukung partisipasi penuh kaum perempuan dalam pelayanan, termasuk dalam kepemimpinan gereja. Jadi saya tidak terkejut jika seseorang menyadari keyakinan saya tidak sesuai dengan praktik gereja kami dalam persoalan ini.

Itu pertanyaan yang bagus, dan pertanyaan yang sering saya gumulkan—karena, saat ini, saya merasa tidak mampu melayani gereja kami sesuai panggilan dan kemampuan yang telah Allah berikan kepada saya. Saya sangat merindukan tubuh Kristus merangkul karunia-karunia semua anggotanya, tidak hanya di sini tetapi juga di seluruh dunia. Namun, sebagaimana CT edisi April mengingatkan kita, gereja global masih jauh dari kesatuan dalam hal apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan perempuan di gereja.

Namun, saya senang teman saya bertanya tentang proses pengambilan keputusan keluarga kami, karena percakapan tatap muka seperti inilah yang mencegah polarisasi. Peran perempuan bukanlah satu-satunya isu yang memecah-belah kita saat ini. Pendekatan terhadap rekonsiliasi rasial atau inisiatif keberagaman, sikap kita terhadap perubahan iklim, dan politik—terutama saat ada pemilihan presiden yang penuh pertentangan di depan mata—semuanya merupakan faktor yang dapat memecah-belah komunitas orang percaya.

Menurut The Great Dechurchingbuku terbaru karya Jim Davis, Michael Graham, dan Ryan P. Burge, orang-orang meninggalkan gereja dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Empat puluh juta warga Amerika yang biasa menghadiri gereja tidak lagi melakukannya—itu berarti 16 persen dari orang dewasa di AS. Lalu sementara sebagian orang berhenti percaya, sebagian lainnya meninggalkan gereja karena tidak setuju dengan gereja atau pendetanya, dan masih banyak lagi yang merasa ragu untuk kembali bergabung dengan gereja karena berbagai alasan lainnya.

Bukan berarti tidak banyak alasan bagus untuk pindah ke gereja lain—segala bentuk pelecehan adalah alasan tertinggi di antara semuanya. Partisipasi dalam ibadah bersama bukanlah sesuatu yang bisa dipandang remeh, dan ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan saat memutuskan untuk bergabung dengan satu keluarga gereja. Kita mesti menganggap serius doktrin dan praktik gereja saat kita mempertimbangkan apakah kita dapat berkomitmen menjadi anggotanya. Bagaimanapun juga, kita dibentuk oleh komunitas kita.

Namun, saya semakin yakin bahwa ketika kita tidak sependapat, kita menjadi semakin mudah mencari alasan untuk tidak bertemu. Saya percaya ada bahaya dalam upaya memilah orang-orang yang sangat sependapat dengan cara kita melihat dunia, sehingga kita tidak akan pernah tertantang dalam keyakinan atau pilihan hidup kita—belum lagi kita cenderung akan meninggalkannya begitu saja saat ilusi keselarasan yang sempurna itu hancur.

Sebagian dari masalahnya, seperti yang Daniel K. Williams tunjukkan dalam artikel CT sebelumnya, bahwa teologi gereja kalangan Injili harus dilahirkan kembali—keluar dari individualisme bawaan yang mengutamakan iman pribadi di atas partisipasi (opsional) dalam komunitas korporat. Seperti yang dicatat Myles Werntz tentang eklesiologi Bonhoeffer, gereja seharusnya tidak berpusat pada pengalaman individu, tetapi menjadi “suatu umat yang berjumpa Kristus melalui dan dengan satu sama lain.”

Kita dapat belajar lebih banyak lagi dalam persekutuan dengan mereka yang melihat dunia dari sudut pandang berbeda. Sebuah gereja yang hanya menjadi ruang gema tidak akan mampu memperhitungkan bagaimana Roh Allah bekerja secara mendalam dan luas di seluruh dunia. Namun, belajar untuk mengasihi orang lain yang melihat dunia secara berbeda memerlukan usaha—terutama dalam masyarakat yang memilah kita berdasarkan kecocokan alami kita.

Misalnya, algoritma internet secara efektif mengisolasi kita dari mendengarkan pendapat orang lain yang memiliki pandangan berbeda. “Algoritma menyajikan berita yang ingin kita dengar, yang secara virtual dapat meyakinkan kita akan kebenaran kita sendiri,” kata Carrie McKean. Kelompok pertemanan daring mendorong kita untuk memilih sendiri rekan-rekan percakapan berdasarkan minat dan afiliasi yang sama. Dan, karena berbagai alasan historis dan sosial-ekonomi, lingkungan sekitar dan sekolah kita terkadang menjadi homogen juga.

Namun masalah ini bukanlah hal baru. Bahkan pada abad pertama, jauh sebelum teknologi modern, manusia memisahkan diri dari mereka yang berbeda. Namun, Yesus kurang tertarik pada keseragaman. Dia berinteraksi secara terbuka dengan para pemimpin agama dan para pendosa paling terkenal di masyarakat. Dia menerima orang dari setiap kelas sosial, dari anak muda yang kaya hingga janda miskin.

Dari antara para murid-Nya, terdapat seorang pemungut cukai yang bekerja untuk pemerintah Romawi, beberapa nelayan yang menentang pemungutan pajak Romawi, dan seorang radikal yang terlatih untuk melawan Roma. Demikian pula para pengikut-Nya yang perempuan berasal dari kelas ekonomi yang sangat berbeda—dari kelompok termiskin hingga elit penguasa. Berdasarkan afiliasi dan asosiasi ini saja, para pengikut Yesus mewakili seluruh spektrum sosial politik saat itu.

Yesus tidak hanya menoleransi orang-orang yang memiliki sudut pandang berbeda, melainkan juga secara intensional mencari mereka dan menciptakan sebuah komunitas baru yang melampaui perbedaan-perbedaan ini. Yesus berusaha membangun suatu komunitas baru yang bangkit mengatasi perbedaan afiliasi politik, kelas, dan gender. Ia mengundang para pengikut-Nya untuk bekerja sama dalam sesuatu yang penting—yaitu mengikut Dia, belajar dari-Nya, meneladani-Nya—dan belajar untuk saling mengasihi.

Meski demikian, setelah kenaikan Yesus, gereja mula-mula dengan segera menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit tentang seberapa besar keberagaman ras dan budaya yang dapat, atau harus, ditoleransi dan dipadukan oleh gereja. Akan tetapi saat mereka membuka pintu bagi orang-orang non-Yahudi, mereka akhirnya menemukan kontribusi yang kaya yang dapat diberikan para pengikut Yesus ini terhadap kekristenan.

Pada kenyataannya, ada banyak perbedaan yang dapat memecah-belah komunitas Kristen mula-mula. Ambil contoh, kitab pendek Filemon, yang membahas bagaimana seorang budak yang dibebaskan bergabung kembali dalam persekutuan sebagai orang yang setara dengan mantan majikannya. Dan kami pikir gereja kita juga memiliki tantangan!

Namun, saat ini, perburuan gereja terlalu sering hanya menjadi pencarian “orang-orang kita”—yaitu, mereka yang menjalani gaya hidup yang sama, memiliki pendapat yang sama, dan memilih dengan cara yang sama dengan kita. Jika demikian pendekatan kita, maka kita akan kehilangan banyak hal.

Ketika kami pindah ke California Selatan pada tahun 2021, kami memiliki kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru dan menata kembali seperti apa partisipasi gereja. Saya haus akan rasa keberakaran, suatu koneksi dengan iman Kristen historis yang memerhatikan kalender gereja dan peka terhadap pembentukan rohani yang terjadi selama ibadah bersama. Kami juga menginginkan sebuah gereja yang dekat dengan rumah, lebih baik lagi jika bisa ditempuh dengan berjalan kaki. (Hal itu tentu saja mempersempit pilihan kami!)

Berbagai faktor ini mengarahkan kami ke gereja yang sekarang kami sebut rumah, hanya tiga blok dari rumah kami. Ini adalah jemaat yang unik dengan pengaruh kuat dari para profesor dan mahasiswa, yang menjadikannya jemaat yang berpikiran luas dan kuat secara intelektual, tetapi pada saat yang sama tetap rendah hati. Tempat ini memiliki rasa kekeluargaan yang kuat, dengan kelompok-kelompok aktif yang bertemu secara rutin, tim doa yang tersedia setelah kebaktian, dan persekutuan mingguan sambil menikmati donat dan kopi yang dapat mempererat persahabatan.

Saya merasa terhibur dan gembira pada hari Minggu pertama ketika kami berjalan menuju meja tempat donat dan melihat tanda yang bertuliskan “Ordinary Time” (Masa Biasa) untuk menandakan posisi kami dalam kalender liturgi. (Jika hal ini baru bagi Anda, Masa Biasa adalah masa dalam kalender gereja yang dimulai setelah Pentakosta dan berlanjut hingga masa Adven.) Kemudian saat pemimpin kebaktian menyambut jemaat dengan memberikan kesempatan bagi kami untuk merenungkan niat kami saat memasuki ruang ibadah, saya merasa sangat tersentuh. Inilah jenis penggembalaan rohani dan akar sejarah yang saya dambakan.

Seiring berjalannya waktu, tentu saja, saya belajar bahwa sesama anggota gereja dan bahkan para pemimpinnya terkadang tidak sependapat dan melihat sesuatu dengan cara yang berbeda. Beberapa dari perbedaan ini hanya bersifat filosofis atau doktrinal, tetapi beberapa lainnya dapat berdampak pada praktik pelayanan kami (atau, dalam kasus saya, siapa yang diizinkan untuk melayani khotbah) dan menjadi sumber kegelisahan bagi para anggota jemaat yang terpengaruh secara pribadi.

Beberapa orang bertanya kepada saya mengapa kami tidak keluar—tetapi keputusan seperti itu bukanlah keputusan yang mudah. Dari seluruh daftar faktor yang menjadi pertimbangan dalam memilih sebuah gereja untuk kami beribadah (lokasi, doktrin, praktik, musik, khotbah, komunitas, nilai-nilai, acara-acara, kecocokan misi, dan kesempatan untuk pelayanan), gereja kami saat ini adalah yang paling cocok bagi kami.

Kami terus-menerus ditantang dan dibina dengan cara yang dapat kami hargai. Kami melayani dengan cara yang bermakna. Meninggalkan tempat ini akan sangat menyakitkan karena kami sangat mengasihi orang-orang di sini dan sangat menyukai pelayanan di sini. Ini bukan hanya tentang apa yang kami peroleh dari pelayanan. Ini juga tentang apa yang dapat kami berikan. Kami mungkin menemukan gereja lain yang lebih cocok di satu bidang, tetapi mungkin kurang cocok di bidang lain.

Kami bertahan karena kami mengasihi orang-orang di gereja ini. Kami yakin bahwa beberapa perbedaan tidak seharusnya memecah-belah kita, dan akan lebih baik jika kita belajar untuk mengasihi satu sama lain di tengah ketidaksepakatan kita.

Meluangkan waktu bertatap muka dan berdampingan dengan mereka yang melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda adalah sesuatu yang baik bagi jiwa kita. Hal ini menghancurkan ilusi yang tidak benar dan tidak bermanfaat bahwa dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang terlihat dan berpikir seperti kita. Hal ini mengingatkan kita bahwa kerajaan Allah lebih luas dan lebih dalam daripada homogenitas imajinasi kita. Saya sendiri, masih banyak yang harus saya pelajari dan ajarkan kepada komunitas lokal saya, yang merupakan sesama murid Tuhan.

Transformasi rohani tidak hanya bergantung pada apa yang dikatakan dari mimbar, tetapi juga pada siapa yang ada di sebelah kita di bangku-bangku gereja. Ketika kita memberikan perhatian bersama untuk mengikut Yesus, kita akan menjadi lebih serupa dengan-Nya. Dan saat kita masing-masing semakin dekat dengan Yesus, kita pasti akan semakin dekat satu sama lain dalam pemahaman dan kasih kita bersama. Dalam dunia kita yang semakin terpecah-belah, pemahaman ini adalah kabar baik yang kita semua butuhkan!

Carmen Joy Imes adalah profesor madya Perjanjian Lama di Universitas Biola dan penulis Bearing God’s Name dan Being God’s Image. Saat ini ia sedang menulis buku berikutnya, Becoming God’s Family: Why the Church Still Matters.

Diterjemahkan oleh Denny Pranolo.

Untuk Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui emailFacebookTwitterInstagram, atau Whatsapp.

Our Latest

Salib di Zaman ‘Kekacauan Spiritual’

J. D. Peabody

Karya teolog abad ke-20, P.T. Forsyth, mengingatkan umat Kristen saat ini untuk menempatkan salib di depan dan dunia di belakang.

Kasih yang Tak Akan Melepaskan

Simon Chan

Maria Magdalena berpegang teguh pada Kristus yang bangkit dan pergi untuk bersaksi.

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Mencari Kemakmuran dengan Benar selama Perayaan Tahun Baru Imlek

Tidaklah salah untuk merayakan berkat yang kita terima. Namun para teolog dan pendeta Asia memberikan nasihat tentang bagaimana melakukannya dengan cara yang alkitabiah dan berkenan kepada Allah, di tengah tradisi angpao merah dan ucapan-ucapan selamat.

Di Mana Hatimu Berada, Di Situ Juga Kebiasaanmu Berada

Elise Brandon

Kita tidak akan mau berubah sampai kita tahu mengapa kita perlu melakukannya dan apa yang menjadi tujuan kita.

Memberi Berasal dari Allah

Sam Storms

Pelayanan memberi membangkitkan rasa syukur kepada Allah karena sumbernya berakar pada anugerah-Nya.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube