Ia Bercahaya di dalam Kegelapan

Renungan Adven, 17 Desember 2022.

Kumpulan Renungan Adven 2022.

Kumpulan Renungan Adven 2022.

Christianity Today December 17, 2022
Stephen Crotts

Minggu 3: Terang Dunia


Kitab Suci memakai tema gelap dan terang untuk menggambarkan Sang Pribadi yang Dijanjikan—dan Yesus mengidentifikasi diri-Nya sebagai terang yang dinubuatkan ini. Di dalam Dia, kita mengalami keselamatan dan iluminasi rohani. Namun Yesus bukan hanya terang bagi kita sebagai individu—Ia adalah terang bagi segala bangsa. Yesus adalah Terang Dunia.

Baca Yohanes 1:1–18

Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Yohanes 1:14

Rasul Yohanes mengkontekstualisasikan catatannya tentang kata-kata dan perbuatan sahabat baiknya, Yesus, dengan sebuah prolog yang penuh dengan gairah dan keajaiban. Yohanes ingin memberitahu kita bahwa Yesus adalah Sang Firman Allah. Dia ada bersama Allah pada saat penciptaan dunia. Dia juga adalah Allah. Dia adalah hidup itu sendiri, dan hidup itu adalah terang dunia.

Kemudian di ayat 5: “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan, dan kegelapan itu tidak menguasainya.” Setidaknya itulah terjemahan dari yang tertulis di Alkitab NIV edisi 2011 punya saya. Akan tetapi ada satu hal yang mencolok: NIV edisi lama saya (terjemahan 1984) tertulis berbeda. Dikatakan, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan, tetapi kegelapan belum memahaminya.”

Kata Yunani yang secara alternatif diterjemahkan sebagai “menguasai” dan “memahami” adalah katalambanó—yang berarti “memegang” atau “memahami.” Kita butuh lebih dari satu kata dalam bahasa Inggris untuk mencoba mengartikan maksud sepenuhnya dari apa yang ingin dikatakan oleh Yohanes.

Yohanes telah melihat Sang Terang Dunia dengan matanya sendiri. Ia pernah pergi memancing bersama-Nya. Ia pernah makan bersama-Nya. Ia pernah berdoa bersama-Nya. Dan ia pernah menyaksikan-Nya menanggung kematian yang paling mengerikan dan kemudian hidup kembali. Jadi Yohanes tahu bahwa tidak ada kegelapan di alam semesta ini yang dapat secara permanen menangkap dan mengalahkan Terang ini. Kegelapan tidak mampu menguasai-Nya.

Akan tetapi Yohanes juga tahu bahwa pikiran manusia, bila dibiarkan sendiri, tidak dapat sepenuhnya memahami kasih yang ditawarkan melalui fakta yang menakjubkan dari Inkarnasi. Kegelapan tidak mampu memahami-Nya.

Prolog Yohanes memuncak dengan perenungan yang menakjubkan tentang sejauh mana Tuhan telah melangkah demi menjangkau kita dengan kasih-Nya yang menerangi. “Firman itu telah menjadi manusia,” tulisnya, “dan diam di antara kita.” Atau, seperti yang diterjemahkan oleh parafrasa The Message, Firman yang berdarah-daging itu “berpindah ke lingkungan sekitar kita.”

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui email, Facebook, Twitter, atau Telegram.

Allah yang Perkasa datang dalam rupa bayi manusia yang sangat rentan. Raja Damai membiarkan diri-Nya dilahirkan ke dalam dunia yang penuh dosa dan kekacauan—Tuhan menjadikan diri-Nya dapat dipeluk, dapat dilukai, dapat dicium, dan dapat dibunuh!

Hanya Terang Dunia yang dapat memberi kita kekuatan untuk mulai memahami apa yang telah Tuhan tawarkan kepada kita melalui kelahiran Yesus. Jadi, dalam masa Adven ini, marilah kita memanjatkan doa yang diucapkan rasul Paulus kepada jemaat di Efesus (3:17-18; terjemahan dari NIV), agar kita, “berakar serta berdasar di dalam kasih, beroleh kuasa, bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.”

Carolyn Arends adalah artis, penulis, dan direktur pendidikan untuk Renovaré. Album terbarunya adalah In the Morning.

Renungkan Yohanes 1:1–18.


Apa yang ditekankan perikop ini tentang Sang Firman? Tentang Yesus sebagai Terang Dunia? Tentang Inkarnasi? Pertanyaan, pemikiran, atau perasaan apa yang muncul dalam benak Anda? Ungkapkanlah respons Anda kepada Tuhan di dalam doa.

Diterjemahkan oleh Timothy Daun.

Our Latest

Salib di Zaman ‘Kekacauan Spiritual’

J. D. Peabody

Karya teolog abad ke-20, P.T. Forsyth, mengingatkan umat Kristen saat ini untuk menempatkan salib di depan dan dunia di belakang.

Kasih yang Tak Akan Melepaskan

Simon Chan

Maria Magdalena berpegang teguh pada Kristus yang bangkit dan pergi untuk bersaksi.

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Mencari Kemakmuran dengan Benar selama Perayaan Tahun Baru Imlek

Tidaklah salah untuk merayakan berkat yang kita terima. Namun para teolog dan pendeta Asia memberikan nasihat tentang bagaimana melakukannya dengan cara yang alkitabiah dan berkenan kepada Allah, di tengah tradisi angpao merah dan ucapan-ucapan selamat.

Di Mana Hatimu Berada, Di Situ Juga Kebiasaanmu Berada

Elise Brandon

Kita tidak akan mau berubah sampai kita tahu mengapa kita perlu melakukannya dan apa yang menjadi tujuan kita.

Memberi Berasal dari Allah

Sam Storms

Pelayanan memberi membangkitkan rasa syukur kepada Allah karena sumbernya berakar pada anugerah-Nya.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube