Sebuah Visi Perdamaian

Renungan Adven, 4 Desember 2022.

Kumpulan Renungan Adven 2022

Kumpulan Renungan Adven 2022

Christianity Today December 4, 2022
Stephen Crotts

Minggu 2: Raja Damai


Di tengah penderitaan dan kekejaman dunia, kita berpegang teguh pada pengharapan ini: Suatu hari Yesus akan membawa kedamaian yang sejati dan sepenuhnya. Ia juga membawa kedamaian rohani bagi kita di sini dan sekarang ini, seiring kita mengalami penebusan dan hidup sesuai nilai-nilai kerajaan-Nya. Yesus adalah Raja Damai.

Baca Yesaya 2:1–5 dan 9:5-6

Bangsa tidak akan mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka juga tidak akan lagi belajar perang. Yesaya 2:4

Mungkin bukti terbesar bahwa Dia yang Dijanjikan itu adalah Allah yang Perkasa yaitu: Dia adalah Pribadi-satu-satunya—yang memiliki kekuatan yang cukup besar untuk membawa kedamaian abadi. Ia bukan hanya membawa kedamaian, Ia adalah damai itu sendiri. Sang Raja Damai.

Kita, tentu saja, terbiasa dengan dunia di mana perdamaian sangat sulit dipahami. Pada tahun 2003, jurnalis Chris Hedges mencari tahu tentang apakah ada masa kedamaian yang berkelanjutan dalam catatan sejarah manusia. Dengan mendefinisikan perang sebagai “konflik aktif yang telah merenggut lebih dari 1.000 nyawa,” ia meneliti 3.400 tahun sejarah dan menemukan hanya 268 tahun dunia bebas perang. Dengan kata lain, sekitar 92 persen catatan sejarah ditandai dengan konflik yang aktif.

Tentu saja, orang-orang Israel kuno tidak membutuhkan seorang jurnalis untuk memberi tahu mereka bahwa keberadaan manusia dirundung perang dan rumor tentang perang. Mereka memiliki banyak pengalaman langsung yang menimbulkan trauma dengan konflik, kekerasan, dan penindasan. Apa yang sungguh-sungguh mereka butuhkan adalah seorang nabi yang dapat memberi mereka suatu visi perdamaian yang cukup jelas untuk menangkal gambaran-gambaran mengerikan yang sudah tertanam dalam ingatan mereka.

Visi seperti demikianlah yang disampaikan Yesaya kepada mereka—dan kita. Perhatikan gambaran-gambaran dalam pasal kedua kitab Yesaya. Segala bangsa datang berbondong-bondong ke gunung Allah. Di situlah mereka menemukan bahwa dikotomi yang seharusnya antara perdamaian dan keadilan telah salah selama ini. Tuhan membawa damai melalui keadilan. Ia mengadili di antara bangsa-bangsa dan membereskan perselisihan, menyelesaikan tidak hanya perang tetapi juga penyebab yang mendasarinya.

Untuk diberi tahu tentang terjemahan baru dalam Bahasa Indonesia, ikuti kami melalui email, Facebook, Twitter, atau Telegram.

Kemudian perhatikanlah apa yang terjadi ketika manusia mendapati diri mereka di hadapan Sang Raja Damai: Pedang dan tombak yang mereka bawa ke gunung—senjata yang sekian lama dianggap penting untuk kelangsungan hidup mereka—seketika tampak tidak pada tempatnya. Orang-orang menurunkan tangan mereka. Namun Sang Raja Damai memiliki sesuatu yang jauh lebih indah dalam pikiran-Nya. Segera, orang-orang bekerja sama untuk mengubah senjata mereka menjadi alat berkebun. Kecerdasan manusia ditebus dan dialihkan dari tujuan yang merusak menjadi tujuan yang kreatif.

Yesaya tidaklah naif. Dia telah melihat kebrutalan yang dapat dan memang mencirikan kondisi manusia. Akan tetapi dia juga melihat sekilas masa depan yang menghijau, penuh kehidupan, dan damai, yang telah dirancang oleh Sang Raja Damai bagi ciptaan-Nya. Ini adalah jenis penglihatan yang memberikan pengharapan bagi sang nabi yang lelah—suatu visi tentang Raja seperti apa yang nanti akan membuat para malaikat berseru, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14).

Renungkan Yesaya 2:1–5 dan 9:5-6.


Apa yang paling mengejutkan Anda tentang visi perdamaian Yesaya? Bagaimana pengharapan ini berbicara kepada dunia kita saat ini? Berdoalah, ungkapkanlah pujian kepada Sang Raja Damai yang dijanjikan itu.

Carolyn Arends adalah artis, penulis, dan direktur pendidikan untuk Renovaré. Album terbarunya adalah In the Morning.

Diterjemahkan oleh Budi M. Winata

Our Latest

Salib di Zaman ‘Kekacauan Spiritual’

J. D. Peabody

Karya teolog abad ke-20, P.T. Forsyth, mengingatkan umat Kristen saat ini untuk menempatkan salib di depan dan dunia di belakang.

Kasih yang Tak Akan Melepaskan

Simon Chan

Maria Magdalena berpegang teguh pada Kristus yang bangkit dan pergi untuk bersaksi.

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Mencari Kemakmuran dengan Benar selama Perayaan Tahun Baru Imlek

Tidaklah salah untuk merayakan berkat yang kita terima. Namun para teolog dan pendeta Asia memberikan nasihat tentang bagaimana melakukannya dengan cara yang alkitabiah dan berkenan kepada Allah, di tengah tradisi angpao merah dan ucapan-ucapan selamat.

Di Mana Hatimu Berada, Di Situ Juga Kebiasaanmu Berada

Elise Brandon

Kita tidak akan mau berubah sampai kita tahu mengapa kita perlu melakukannya dan apa yang menjadi tujuan kita.

Memberi Berasal dari Allah

Sam Storms

Pelayanan memberi membangkitkan rasa syukur kepada Allah karena sumbernya berakar pada anugerah-Nya.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube