Datanglah, Tuhan Yesus!

Renungan Adven, 3 Desember 2021.

Christianity Today December 3, 2021

Untuk mengunduh kumpulan renungan “Berita Injil di Masa Adven,” klik di sini.

Minggu Adven 1: Kembalinya Kristus dan Permerintahan Kekal


Minggu ini, kita berfokus pada Kedatangan Kristus yang kedua kalinya: pengharapan kita yang pasti akan kembalinya Kristus. Kita menggali gambaran Kitab Suci tentang kuasa Kristus dan penghakiman yang adil, serta masa depan gemilang yang kita nantikan bersama Tuhan dalam ciptaan baru.

Baca Wahyu 22:12–20

Alkitab diakhiri dengan doa: “Datanglah, Tuhan Yesus.” Ini adalah sebuah doa yang digemakan di berbagai himne Adven kita, seperti misalnya “O Datanglah Imanuel” (KPPK 86) dan “Kau yang Lama Dinantikan” (KJ 76).

Orang-orang Kristen telah memanjatkan doa tersebut sejak awal kekristenan; ini adalah doa Kristen tertua yang kita ketahui (tidak termasuk Doa Bapa Kami). Kita mengetahui hal ini karena Paulus pernah mengutip doa tersebut dalam versi bahasa Aram asli, Maranata, artinya “Datanglah Tuhan kami!” (1Kor. 16:22). Bagi Paulus yang mengharapkan pembacanya yang berbahasa Yunani di Korintus dapat mengenali frasa bahasa Aram ini, maka pasti kata tersebut memiliki arti yang penting dalam ibadah Kristen mula-mula.

Dalam Wahyu 22:20, ini merupakan respons terhadap janji kedatangan Yesus. Dalam ayat 12 dan 20, Yesus sendiri yang mengatakan “Aku datang segera.” Janji ini terus diulangi di sepanjang kitab Wahyu (lih. 2:5, 16; 3:11; 16:15; 22:7, 12, 20), yang menjanjikan adanya penghakiman bagi sebagian orang dan berkat bagi yang lainnya, sampai pada akhirnya janji tersebut memancing sebuah jawaban: “Datanglah!”

Kita membaca jawaban tersebut pertama kali di ayat 17. Ini merupakan doa “Roh dan pengantin perempuan.” Istilah “Roh” ini berarti Roh Kuduslah yang berbicara melalui para nabi Kristen dalam ibadah. Sementara “pengantin perempuan” adalah gereja yang menggabungkan diri dalam doa bersama Roh ini.

Kita dapat membayangkan sang pengantin perempuan sedang menanti kedatangan pengantin pria. Pengantin perempuan itu bersolek dan siap untuk menyambut pengantin pria (lih. 19:7-8). Sang pengantin perempuan bukanlah gambaran gereja seperti sekarang ini, melainkan gereja yang seharusnya, yang terus menantikan dan siap sedia menyambut kedatangan Tuhan. Ia adalah gambaran gereja yang berdoa “Datanglah, Tuhan Yesus.”

Kita harus membayangkan kitab Wahyu yang dibacakan dengan suara nyaring dalam suatu ibadah. Ketika sang pembaca membacakan kalimat selanjutnya, “Barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: ‘Marilah!’” (22:17), maka seluruh jemaat kemudian bersatu dalam doa tersebut, menyerukan, “Datanglah, Tuhan Yesus!” Doa mereka yang sepenuh hati mengidentifikasikan mereka sebagai pengantin perempuan dari Anak Domba Allah.

Tetapi dalam bagian kedua ayat 17, penggunaan kata “marilah” berubah. Kini giliran para pendengar, “barangsiapa yang haus,” yang diundang untuk “datang” dan menerima “air kehidupan” dari Allah. Air kehidupan ini termasuk bagian dari ciptaan baru (21:6) dan Yerusalem Baru (22:1). Tetapi air itu juga telah tersedia pada saat ini bagi mereka yang menantikan kedatangan Yesus.

Ini seakan-akan Ia telah lebih dahulu mendatangi kita, mendahului kedatangan final-Nya, dan memberi kita cicipan dari ciptaan baru itu. Karena itulah artinya keselamatan. Kita menantikan Dia karena kita telah terlebih dahulu berjumpa dengan-Nya.

Richard Bauckham adalah seorang profesor emeritus Studi Perjanjian Baru di Universitas St. Andrew, Skotlandia, dan penulis banyak buku, di antaranya Theology of the Book of Revelation.

Renungkan Wahyu 22:12–20.


Apakah artinya berdoa, “Datanglah, Tuhan Yesus”?
Bagaimanakah doa ini mengubahmu?
Bergabunglah bersama dengan orang-orang Kristen di seluruh dunia dan di sepanjang abad, seiring Anda memanjatkan doa tersebut hari ini.

Diterjemahkan oleh: Joseph Lebani

Our Latest

Hamba yang Menderita Hanya Dapat Dipahami dalam Konteks Tritunggal

Doktrin Kristen yang historis dapat menolong kita untuk melihat kebaikan Allah dalam peristiwa Jumat Agung

Minyak Narwastu Maria Menuntun Kita kepada Salib

John D. Witvliet

Tindakannya yang luar biasa itu menjadi teladan pengabdian yang sepenuh hati.

News

Wafat: Chuck Norris, Ikon Maskulinitas Amerika yang Kembali kepada Iman

Cody Benjamin

Bintang film laga ini melambangkan citra pertarungan yang jelas antara pihak yang baik dan jahat.

Kehancuran Tidak Memiliki Kata Terakhir

Cory Wilson

Kebangkitan adalah pernyataan bahwa kematian tidak dapat menahan Yesus karena memang kematian tidak mampu menahan-Nya.

Laetare!

Jonathan Pennington

Tema menemukan sukacita sekalipun di tengah dukacita berada di inti dari visi Kristen tentang kehidupan.

Salib di Zaman ‘Kekacauan Spiritual’

J. D. Peabody

Karya teolog abad ke-20, P.T. Forsyth, mengingatkan umat Kristen saat ini untuk menempatkan salib di depan dan dunia di belakang.

Kasih yang Tak Akan Melepaskan

Simon Chan

Maria Magdalena berpegang teguh pada Kristus yang bangkit dan pergi untuk bersaksi.

Kita Bukan Kuda Pekerja

Xiaoli Yang

Dalam budaya yang menjunjung tinggi kekuasaan, Amsal 21:31 mengubah makna kekuatan dan kemenangan bagi orang Kristen Tionghoa.

Apple PodcastsDown ArrowDown ArrowDown Arrowarrow_left_altLeft ArrowLeft ArrowRight ArrowRight ArrowRight Arrowarrow_up_altUp ArrowUp ArrowAvailable at Amazoncaret-downCloseCloseEmailEmailExpandExpandExternalExternalFacebookfacebook-squareGiftGiftGooglegoogleGoogle KeephamburgerInstagraminstagram-squareLinkLinklinkedin-squareListenListenListenChristianity TodayCT Creative Studio Logologo_orgMegaphoneMenuMenupausePinterestPlayPlayPocketPodcastprintRSSRSSSaveSaveSaveSearchSearchsearchSpotifyStitcherTelegramTable of ContentsTable of Contentstwitter-squareWhatsAppXYouTubeYouTube